14 July 2016
0 kritik

Sabtu Bersama Bapak

"Meski berlebihan di unsur drama dan lens flare, film ini tetap hangat di hati"

Walaupun Pak Gunawan telah berpulang, namun ia meninggalkan berbagai pesan dan nasehat untuk kedua anaknya melalui video. Sejak kecil, Bu Itje memutarkan video tersebut setiap hari Sabtu kepada Satya dan Cakra. Kini di umurnya masing-masing, Satya dan Cakra tampak terlalu memegang teguh pesan bapak sehingga menghadapi permasalahan hidup masing-masing. Satya yang berada dalam dilema antara keluarga atau pekerjaan, sementara Cakra yang berada dalam kesuksesan namun masih menjomblo.

Sebagai pembaca setia buku-buku kang Adhitya Mulya sejak Jomblo, Gege Mencari Cinta, hingga Travelers' Tale, bisa dibilang buku Sabtu Bersama Bapak adalah buku yang paling dewasa. Jauh lebih serius daripada karya sebelumnya, namun tetap memiliki komedi yang khas. Dari materi dasar inilah maka tidak herean filmnya juga akan memiliki atmosfer yang kurang lebih sama. Well, mungkin tepatnya kurang. Dengan lelucon yang masih menyentil dan datang di saat yang tidak disangka, filmnya sangat sinetronis sekali dengan deretan drama yang berlebihan.

Tidak berlebihan kalau gue bilang bahwa pasti ada air mata di setiap lima belas menit. Hal ini yang selalu membuat gue lelah ketika menonton film-film drama Indonesia yang hobi mengeksploitasi air mata dan kesedihan demi jalan pintas menarik emosi penonton. Beruntung air mata yang berlebihan ini bisa diimbangi oleh komedi khas dari Adhitya Mulya, yang direpresentasikan dengan baik saja oleh aktor Deva Mahenra. Komedinya berhasil memancing tawa dari gue, yang sudah tahu lebih dulu kapan momennya setelah membaca bukunya.


Kalau ada satu hal yang sangat mengganggu gue, jelas efek lens flare a la J.J. Abrams yang muncul di setiap adegan. Gue sama sekali tidak melihat betapa pentingnya efek tersebut ditaruh di setiap adegan, apalagi dalam momen melodramatis. Atau bahkan kemunculannya di setting tempat yang tidak memungkinkan cipratan cahaya tersebut muncul, misalnya di kamar tidur saat malam hari.

Kekuatan film Sabtu Bersama Bapak jelas berada pada konten cerita yang sederhana dan sangat membumi. Banyak orang dapat merelasikan dirinya pada setiap karakter yang ada. Mulai dari janda yang masih merawat anak, ayah atau ibu dua anak, hingga eksekutif muda yang masih jomblo. Permasalahan yang ada juga diangkat dari masalah yang dialami oleh banyak orang, dengan bumbu-bumbu drama tentunya. Relasi antar-karakter juga menjadi kekuatan film ini sebagai film yang menghangatkan hati.


Indonesia | 2016 | Drama / Family | 100 mins | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
6 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 14 Juli 2016 -


----------------------------------------------------------
Search  Keywords:

  • review film sabtu bersama bapak
  • review sabtu bersama bapak
  • sabtu bersama bapak review
  • resensi film sabtu bersama bapak
  • resensi sabtu bersama bapak
  • ulasan sabtu bersama bapak
  • ulasan film sabtu bersama bapak
  • sinopsis film sabtu bersama bapak
  • sinopsis sabtu bersama bapak
  • cerita sabtu bersama bapak
  • jalan cerita sabtu bersama bapak

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top