18 July 2016
3 kritik

Star Trek Beyond

"Sekuel yang mendekatkan diri pada seri televisi aslinya ini hanya sebatas menghibur mata dan telinga"

Dalam misi lima tahunnya untuk mengeksplorasi bagian luar angkasa yang belum pernah disentuh, kru Enterprise mendapatkan misi baru. Saat mengisi suplai dan bahan bakar di stasiun luar angkasa Yorktown, Kapten James T. Kirk menerima misi penyelamatan di sebuah planet yang terisolasi oleh nebula. Nyawa dan jati diri pun menjadi taruhan ketika mereka diserang oleh kawanan musuh yang di luar kapabilitas mereka.

Sekuel ketiga dari proyek reboot Star Trek kali ini harus mengucapkan selamat tinggal pada sutradara J.J. Abrams yang pada waktu itu sibuk dengan The Force Awakens. Komposisi penulis naskah pun berbeda dari dua sekuel sebelumnya, yang kali ini ditangani oleh Simon Pegg dan Doug Jung. Hasilnya, Star Trek Beyond hanya menjadi hiburan audio visual semata tanpa kedalaman yang berarti.

Beyond jelas menaikkan resiko dan ketegangan cerita. Bisa dibilang, benang merah utama yang ingin disampaikan adalah hal yang membuat Enterprise berjaya adalah para kru-nya, dan itu disampaikan dengan sangat baik. Deretan adegan aksi dengan visual yang memukau jelas sangat menghibur. Apalagi adegan klimaks yang menderu kemudian disempurnakan oleh soundtrack "klasik" dari Beastie Boys. Bisa dibilang adegan tersebut adalah adegan terbaik dalam film ini, yang secara atmosfer lebih dekat pada materi seri televisi aslinya.


Gue memang bukan seorang Trekkies, jadi tidak bisa berkomentar banyak mengenai pemilihan jalan cerita. Namun dari sudut pandang awam, maka gue tetap memilih versi originalnya sebagai jalan cerita yang paling menarik. Mungkin memang terpengaruh oleh preferensi gue akan kisah time travel. Tapi rasanya jalan cerita Beyond ini terbilang yang paling lemah di antara dua prekuelnya. You've seen everything before, kecuali beberapa gimmick yang ada. Latar belakang cerita dari karakter atau benda yang ada juga kurang believable dan cenderung lemah.

Reboot Star Trek sejak era J.J. Abrams selalu berkutat dengan perkembangan character arch yang cukup signifikan dalam setiap filmnya. Mulai dari pencarian jati diri seorang James T. Kirk dalam Star Trek (2009), hingga love/hate relationship dengan Spock dalam Into the Darkness (2013). Sayangnya, hal tersebut tidak tampak - setidaknya secara signifikan - dalam Beyond. Ada memang perkembangan karakter Kirk dan Spock, namun hal tersebut hanya sebatas angin lalu pada awal dan akhir film saja. Bisa dibilang, ketika hal tersebut dihilangkan, toh tidak akan berpengaruh apa-apa pada keseluruhan jalan cerita.


Di luar berbagai kekurangannya, Beyond jelas masih sangat menghibur di penghujung musim liburan ini. Dengan deretan action dan selipan komedi yang sanggup mengundang tawa, film ini jelas berjaya di waktu luang. Belum lagi dengan eye and ear candy, dan detil-detil seperti kostum jaket Starfleet yang ternyata keren. Apalagi bagi kita orang Indonesia boleh berbangga ketika aktor Joe Taslim mendapat banyak screen time dan satu adegan berkelahi tangan kosong yang keren.



USA | 2016 | Action / Sci-Fi | 120 mins | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 18 Juli 2016 -


----------------------------------------------------------
Search  Keywords:

  • review film star trek
  • review star trek
  • star trek review
  • resensi film star trek
  • resensi star trek
  • ulasan star trek
  • ulasan film star trek
  • sinopsis film star trek
  • sinopsis star trek
  • cerita star trek
  • jalan cerita star trek

3 kritik:

  1. Halo, Mas Timo. Numpang tanya nih, untuk Star Trek Beyond wajib dinonton versi IMAXnya gak yah? Terima kasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setau saya nggak ada IMAX scenes sih. Tapi ya oke aja lah, audio dan visualnya keren kok.

      Delete
    2. Oke, thank you infonya, Mas. :)

      Delete

 
Toggle Footer
Top