23 July 2016
0 kritik

Rudy Habibie

"Biografi dengan jalan cerita yang tak tentu arah dan tumpahan air mata yang berlebihan"

Diadaptasi dari buku karya Gina S. Noer; Rudy, Kisah Masa Muda Yang Visioner, film ini menceritakan kisah Pak Habibie muda yang kuliah di Jerman. Sebelum meraih gelar Doctor Ingenieur Fakultas Teknik Mesin Departemen Desain dan Konstruksi Pesawat di Universitas Teknik Aachen, perjalanan seorang Rudy Habibie tidaklah mulus. Motivasinya hanya satu, menjadi mata air seperti pesan almarhum ayahnya untuk berguna bagi orang banyak. Namun cita-citanya dalam membangun industri penerbangan ditentang dengan visi yang berbeda oleh pemerintahan Indonesia pada jaman itu.

Gue menyukai Habibie & Ainun yang inspiratif dan juga menjadi sebuah film tear-jerker khas Indonesia, tetapi rasanya tidak dengan prekuelnya yang rilis tahun ini. Sesederhana film ini seakan kehilangan arah ingin menceritakan apa, dan ingin mengatakan apa kepada penontonnya. Selain itu, adegan tanpa air mata rasanya jauh lebih sedikit dibandingkan adegan dengan air mata, yang jelas tidak mampu menarik emosi penonton seperti film pendahulunya.

Sebenarnya dalam sebuah film biografi adalah wajar jika memiliki banyak sub-plot, mengingat pasti ada beberapa kejadian signifikan dalam hidup yang membentuk karakter seseorang. Tetapi rasanya sulit sekali untuk fokus pada satu cerita utama yang notabene perjuangan Rudy dalam pembelajarannya. Sub-plot tentang percintaan, bahkan konfliknya dengan Laskar Pelajar justru tampak jauh lebih dominan ketimbang perjuangannya mempelajari ilmu teknik. Tidak hanya banyak secara porsi waktu, tetapi juga berat dengan adegan-adegan air mata yang dipaksakan.


Jalan cerita yang ke mana-mana ini kemudian diperparah dengan durasi panjang, yang paham sekali bahwa rumah produksi ingin menempatkan film ini sebagai film blockbuster Indonesia. Durasi dua setengah jam pun menjadi terasa lama dan membosankan, khususnya di paruh kedua film. Belum lagi soundtrack yang diputar dengan volume kencang, mengiringi adegan bisu ala video klip yang sangat tipikal film Indonesia. Hal lain yang mengganggu gue jelas Ilona si gadis Polandia berambut merah - yang memang diperankan dengan baik oleh Chelsea Islan - dengan aksen yang sangat tidak meyakinkan.

Tetapi tetap pujian harus dilayangkan pada Reza Rahardian yang tampil sangat meyakinkan, sekaligus menjadi roda penggerak yang signifikan sepanjang film. Bahkan terkesan tampil lebih baik dibandingkan film sebelumnya, mengingat rentang emosi dalam film ini yang sangat bervariasi. Penonton tidak hanya disuguhkan karakter Rudy Habibie yang memiliki sederet sisi positif, tetapi juga sekelumit sisi negatifnya. Tidak hanya memiliki determinasi tinggi, tetapi ternyata karakter intelektual pun rentan untuk jatuh dalam perfeksionisme dan idealisme akut. Hal ini pun membuat Rudy harus mengorbankan beberapa hal penting dalam hidupnya.



Indonesia | 2016 | Biografi / Drama | 142 mins | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
6 dari 10

  • Film Terbaik
  • Penulis Skenario Adaptasi Terbaik (Gina S. Noer, Hanung Bramantyo)
  • Penyunting Gambar Terbaik (Wawan I. Wibowo)
  • Pengarah Artistik Terbaik (Allan Sebastian)
  • Penata Suara Terbaik (Satrio Budiono, Khikmawan Santosa)
  • Penata Musik Terbaik (Tya Subiakto, Krisna Purna)
  • Lagu Tema Terbaik (Mencari Cinta Sejati, Anto Hoes, Melly Goeslaw)
  • Penata Busana Terbaik (Retno Ratih Damayanti)
  • Pemeran Utama Pria Terbaik (Reza Rahadian)
  • Pemeran Utama Wanita Terbaik (Chelsea Islan), Festival Film Indonesia 2016

- sobekan tiket bioskop tanggal 23 July 2016 -




----------------------------------------------------------
Search  Keywords:

  • review film rudy habibie
  • review rudy habibie
  • rudy habibie review
  • resensi film rudy habibie
  • resensi rudy habibie
  • ulasan rudy habibie
  • ulasan film rudy habibie
  • sinopsis film rudy habibie
  • sinopsis rudy habibie
  • cerita rudy habibie
  • jalan cerita rudy habibie

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top