10 June 2016
0 kritik

The Conjuring 2

"Sekuel yang menurun sedikit dari film pertamanya, tetapi masih sangat menyeramkan dan relatif sempurna sebagai film horor"

Lorraine dan Ed Warren telah memutuskan untuk berhenti dari aktivitas mereka karena bahaya dan resiko yang mengancam nyawa. Namun tergerak oleh hati nurani, mereka akhirnya bersedia sebagai wakil dari Gereja Katolik Roma untuk memeriksa sebuah kasus di London. Di area Enfield, sebuah rumah menjadi terkenal dalam media massa dengan berbagai laporan aktivitas paranormal. Yang menjadi korban adalah keluarga dengan satu ibu dan empat anak, dimana merekai diganggu oleh entitas jahat setiap harinya.

Setelah puas menelurkan film di luar genre horor dengan blockbuster Furious 7 (2015), akhirnya sutradara dan penulis naskah James Wan kembali pada zona nyamannya. Melanjutkan kisah Lorraine dan Ed Warren, kini James Wan fokus pada kisah yang disebut sebagai London's Amityville yang memang menjadi media darling di tahun 70-an di tanah Inggris. Mungkin juga ingin melebarkan target pasar ke tanah Inggris agar lebih relatable demi alasan komersialisme, tetapi hasil jadinya tetap ciamik dalam mendirikan bulu kuduk.

The Conjuring 2 tidak hanya berhasil memperpanjang anggukan hormat pada film-film horor klasik, tetapi berhasil berdiri dalam ciri khasnya sebagai horor yang memiliki hati.  Tidak hanya jalan cerita yang sangat logis dan membumi, James Wan juga dengan sabar membangun perkembangan karakter dengan sangat baik. Dalam 134 menit, gue benar-benar bisa menaruh simpati pada beberapa karakter utama yang muncul di layar. Tidak hanya pasangan Lorraie dan Ed Warren, tetapi juga Janet dan ibunya yang jelas akan mengambil hati setiap penonton.


Jika dalam film pertamanya James Wan fokus pada karakter Lorraine, maka kali ini Ed Warren yang berada dalam spotlight. Jelas sebuah treatment menarik bagi para fans dari franchise ini. Fokus pada karakter ini jelas menjadi hal yang spesial dalam konteks film horor masa kini. Kebanyakan film horor bahkan tidak peduli dengan karakter manusia, dan hanya mengandalkan teknik jump scares yang murahan. Tetapi di tangan James Wan, The Conjuring 2 menjadi film horor yang lengkap; tidak hanya adegan-adegan memancing kengerian dan teriakan, tetapi juga selipan humor dan adegan yang menyayat hati. Tribute dalam adegan lorong The Shining (1980) memang biasa, tetapi langka rasanya melihat ada tribute pada film drama musikal The Sound of Music (1965) khususnya segmen Edelweiss dalam sebuah film horor.

Yang jelas, anda sudah harus bersiap-siap dengan posisi duduk senyaman mungkin dalam satu jam pertama film ini. Tidak ada basa-basi berlebihan dan jeda nafas panjang, gas sudah dipacu kencang dari menit pertama. Tetapi sayangnya, Act Two yang ada pada satu jam kedua tampak jomplang dalam segi pacing dan atmosfer. Tidak hanya melambat, tetapi juga agak menurun dalam intensitas keseraman. Mungkin sengaja diturunkan demi pay off yang maksimal dalam adegan klimaks, tetapi ternyata finale yang ada juga kurang menggigit menurut gue. Setidaknya jika dibandingkan dengan finale film pertamanya yang sanggup membuat posisi duduk gue bergeser ke ujung kursi.


Tapi bagaimana dengan level keseraman? Pada bahasan subjektif ini, harus gue akui bahwa film pertamanya masih lebih menakutkan. Gue masih ingat dengan jelas bagaimana dan berapa kali gue teriak ketakutan dalam adegan bawah tanah dan finale yang epik di film pertamanya. Namun intensitas dan kuantitas ketakutan tersebut tidak gue temukan dalam The Conjuring 2. Masih banyak adegan jump scares yang dibangun dengan rapi, apik, dan kurang ajar oleh James Wan. Kejutan tersebut akan muncul pada momen yang tidak ditunggu-tunggu, dan masih sanggup membuat satu bioskop teriak. Tetapi jika berdiri sendiri, film ini jelas masih sangat menyeramkan. Yap, hanya The Conjuring (2013) dan The Conjuring 2 (2016) sebagai film yang meraih rating dewasa R-rated di US tanpa adegan sex, darah, dan sumpah serapah - apalagi kalau bukan karena horornya.

Di luar tingkat keseraman yang subjektif, gue harus memuji habis-habisan pada teknik sinematografi yang ada. Pergerakan kamera sebagai instrumen untuk membangun suasana mengerikan patut diacungi jempol. Seakan semua sudut pandang dieksplorasi habis-habisan, dan ternyata sangat efektif. Mulai dari sudut pandang karakter terhadap fokus pandangannya yang bergerak ke kiri dan ke kanan atau bergerak 360 derajat mengelilingi ruangan, sampai pada fokus ke ekspresi karakter yang bereaksi terhadap apa yang ada di depan matanya. Apapun tekniknya, pergerakan kamera seperti ini jelas sangat efektif dan signifikan dalam proses build up ketegangan, yang kemudian dibayar kontan dengan jump scares yang ada.


USA | 2016 | Horror / Thriller | 134 mins | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 10 Juni 2016 -


----------------------------------------------------------
Search  Keywords:

  • review film conjuring
  • review conjuring
  • conjuring review
  • resensi film conjuring
  • resensi conjuring
  • ulasan conjuring
  • ulasan film conjuring
  • sinopsis film conjuring
  • sinopsis conjuring
  • cerita conjuring
  • jalan cerita conjuring

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top