17 June 2016
0 kritik

Finding Dory

"Animasi yang kaya di visual dan juga cerita"

Dory, si ikan jenis Blue Tang yang menderita short term memory loss, mengingat sesuatu tentang masa kecilnya bahwa ia memiliki ayah dan ibu. Dibantu oleh Nemo dan Marlin, Dory pun menempuh sebuah petualangan yang luar biasa. Petualangan yang membawa mereka bertiga ke Aqua Marine Park tempat konservasi berbagai macam biota laut. Dalam petualangannya, Dory pun menemukan arti baru dari sebuah keluarga.

Finding Dory menjadi ajang reuni bagi fans dan pecinta film fabel bawah laut yang rilis tahun 2003, Finding Nemo. Meski rilis sekuelnya berjarak tiga belas tahun kemudian, tetapi film ini mengambil latar satu tahun kemudian sejak Nemo kembali ditemukan oleh duet Marlin dan Dory. Sekuel yang kali ini menjadikan aktor pendukung sebagai aktor utama ini jelas tampil lebih brilian, sekaligus menjadi entitas yang berbeda dari pendahulunya.

Terpaut jarak tiga belas tahun jelas memiliki perkembangan teknologi yang signifikan. Terbukti dari hasil animasi dalam Finding Dory yang luar biasa menakjubkan. Kali ini bukan hanya detil saja, tetapi juga realisasi gerakan dari setiap hewan dan biota laut yang ada. Apalagi karakter Hank the Octopus yang konon butuh waktu dua tahun untuk menyempurnakan gerakan animasinya. Hasil animasinya jelas sangat berpengaruh bagi penonton untuk semakin menyelami kedalaman cerita yang ada.


Atas nama kecerdasan dan kreativitas cerita, pujian jelas harus diamanatkan pada sutradara serta penulis naskah Andrew Stanton. Tidak hanya berhasil memberikan latar belakang cerita pada karakter yang sebelumnya menjadi karakter pendamping saja, tetapi juga menyematkan makna yang sangat dalam dan cenderung thought-provoking. Tentunya semua itu diimbangi dengan taburan lelucon dan humor yang merata sepanjang film. Bahkan gue menemukan diri gue sendiri tertawa terbahak-bahak cukup konsisten selama beberapa menit sekali. Semua ini berkat karakter-karakter baru yang sangat komikal lewat humor cerdas dan tampil dengan porsi yang pas.

Di level permukaan cerita, Dory menjadi representasi yang sempurna tentang bagaimana cara mengatasi disabilitasnya yang sulit mengingat sesuatu. Ketika mulai kehilangan fokus dan ingatan, ia akan mengobservasi keadaan sekitar, kemudian mencari hal-hal yang akan menuntunnya pada ingatannya. Seperti burung yang mengikuti remahan roti, atau dalam kasus Dory, mengikuti tebaran kerang.


Pada kedalaman yang membutuhkan waktu untuk merenung, Dory menjadi simbol bahwa kaum disabilitas "hanya" mengalami dunia dengan cara mereka sendiri yang unik dan berbeda. Sulitnya untuk berbaur dan diterima di lingkaran sosial dengan standar "normal" jelas menjadi tantangan di permukaan. Tetapi tantangan sebenarnya adalah bagaimana menerima diri sendiri dan mengatasi kekurangannya agar tetap terus "keep swimming". Finding Dory tidak hanya berusaha menemukan Dory yang hilang dalam pencariannya akan keluarga, tetapi juga menemukan kemampuan unik dalam mengalami dunia - yang diberi label sebagai disabilitas.

Ketika makna hidup yang sangat berharga tersebut berada dalam sebuah film animasi untuk anak-anak - dan ada versi dub bahasa Indonesia pula - jelas menjadi hal yang sangat spesial. Pixar jelas menambah panjang daftar film-film animasi cerdas yang kaya tidak hanya di visual tetapi juga di segi cerita. Jika disatukan dengan film pendek, Piper, yang selalu tampil di sebelum film-film Disney, satu paket ini jelas menjadi tontonan yang istimewa. Namun semoga ketenaran film Finding Dory tidak berpengaruh pada penjualan ikan Blue Tang yang populasinya jauh lebih sedikit ketimbang Clown Fish-nya Nemo.





USA | 2016 | Animation | 97 mins | Flat Aspect Ratio 1.85 : 1

Rating?
10 dari 10

Scene during credits? No

Scene after credits? YES!

IMAX? YES! (aspect ratio 1.85 : 1 memenuhi seluruh layar IMAX)

- sobekan tiket bioskop tanggal 17 June 2016 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top