06 June 2016
2 kritik

Sundul Gan: The Story of Kaskus

"Sembari menonton film tentang Kaskus, gue ngaskus"

Film ini bercerita tentang jerih payah Andrew Darwin dan Ken Dean dalam mengembangkan situs forum daring terbesar di Indonesia, Kaskus. Dimulai di Seattle, AS, Ken bertemu pertama kali dengan Andrew yang ternyata adalah pendiri situs Kaskus yang sudah tenar di kalangan mahasiswa Indonesia di AS. Melihat potensi bisnis yang ada, Ken membujuk Andrew untuk mengembangkan Kaskus di Indonesia. Kesepakatan mereka adalah; Andrew mengurusi ranah IT dan Ken menangani segi bisnis. Perjalanan mereka pun tidak mudah demi membesarkan Kaskus sehingga menjadi seperti sekarang ini.

Drama biografi ini memang tidak sebesar The Social Network (2010) yang menceritakan asal muasal terciptanya Facebook. Tetapi Sundul Gan hanya memvisualisasikan perjuangan awal mimin dan Ken dalam mengembangkan Kaskus. Ingat, perjuangan awal - bukan asal mula terbentuknya Kaskus. Penuh dengan drama - yang rasanya bumbu-bumbu berlebihan yang ditambahkan - dan juga konflik penuh emosi yang agak berlebihan. Semua itu dibungkus dengan visual yang jauh dari kata standard.


Betul, tidak ada adegan bagaimana si mimin pertama kali menelurkan situs kasak-kusuk sebagai forum diskusi dimana semua orang bebas bersuara. Yang ada hanya, tiba-tiba Kaskus sudah tenar di Seattle sehingga Ken Dean sudah menaruh respek ketika bisa menemui mimin di dunia nyata. Sebuah keputusan yang terlampau "malas" dengan melewati bagian krusial ini, atau menghindari topik BB17 yang memang menjadi inisiator sekaligus penarik massa di awal mula berdirinya Kaskus. Padahal topik BB17 jelas konsisten ada sepanjang film sebagai titik kontroversial dan penggerak plot cerita dalam film.


Selain itu, gue benar-benar terganggung dengan penggambaran karakter mimin oleh aktor Albert Halim. Memang gue tidak mengenal mimin secara langsung. Tetapi melihat karakter Andrew Darwis yang digambarkan dalam film ini, gue bertanya-tanya apakah benar karakter aslinya memang manja, needy, terlampau polos, serta naif? Banyak adegan-adegan yang membuat gue mengernyitkan dahi, apakah benar dan logis reaksi seperti itu muncul bagi seseorang yang sudah kuliah lama di negeri orang seorang diri?

Rasanya kelemahan utama film ini memang pada naskah yang ada. Penceritaan film ini terkesan melompat-lompat, dengan setiap adegan diwarnai oleh teriakan emosi dan konflik yang berlebihan. Seakan tidak ada jembatan yang logis di antara setiap sketsa, bahkan visualisasi dangkal terhadap bromance Andrew-Ken. Ya film ini memang fokus pada bromance, tetapi dalam porsi 80% konflik dan 20% akrab. Keakraban tersebut pun hanya digambarkan dengan bagaimana Ken yang ketagihan main video game selama tiga hari tiga malam tanpa tidur. Sisanya? Andrew yang kelewat sensi dibandingkan wanita pre-menstruasi dan amarah Ken yang meledak-ledak.


Sebagai seorang kaskuser, akan timbul perasaan campur aduk jika gue tidak menonton film ini. Gue sendiri pun sudah cukup tahu latar belakang berdirinya Kaskus lewat forum The Lounge yang kaya akan informasi. Tetapi melihat film yang disutradarai oleh co-host Jalan-Jalan Men, Naya Anindita, terus terang gue cukup kecewa. Dengan jalan cerita, karakterisasi, ditambah visual yang semua adegan luar ruang menggunakan green screen yang sangat tidak meyakinkan, baik Seattle dan Jakarta, bahkan di dalam kantor Kaskus sendiri. Demi membunuh rasa kebosanan dan kekecewaan, selama menonton film tentang Kaskus ini, gue ngaskus.

Anyway, ada beruntungnya gue tidak walk-out di tengah film, karena munculnya Andrew Darwis dan Ken Dean yang asli di akhir film :D


Indonesia | 2016 | Biography / Drama | 89 mins | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
6 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 3 Juni 2016 -

2 kritik:

  1. Jadi tidak ada pembahasan tentang BB17 di film ini?
    Sayang sekali, ya! Padahal kan itu yang membuat kaskus tenar :D

    Anyway, tukaran link yuk:
    http://eigarebyu.blogspot.co.id/

    Thanks alot^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Justru dibahas banget, ada adegan2 konsekuensi BB17 sih. Tapi memang nggak dari 0 banget.

      Delete

 
Toggle Footer
Top