23 June 2016
0 kritik

Independence Day: Resurgence

"Film sekuel dengan segalanya yang lebih besar dalam ukuran skala, tetapi tidak lebih dalam ketimbang prekuelnya"

Dua puluh tahun sejak "The War of 1996", bangsa-bangsa bersatu dan mempersiapkan diri dengan serangan alien berikutnya. Organisasi Earth Space Defense (ESD) pun dibentuk, dan dipersenjatai dengan teknologi yang diadaptasi dari teknologi alien yang datang tahun 1996. Kemudian yang ditunggu-tunggu pun tiba, dan semua persiapan dua dekade tersebut serentak melempem seperti kerupuk yang dibiarkan di pinggir pantai. Manusia kembali harus mengandalkan akal dan improvisasi, untuk dapat memenangkan peperangan antar-galaksi ini.

Anda mungkin sudah kenal dengan sutradara Roland Emmerich yang memiliki rekam jejak film-film blockbuster kehancuran massal di bumi. Mulai dari Godzilla (1998), The Day After Tomorrow (2004), dan 2012 (2009). Dirinya memang piawai menggambarkan adegan orang banyak berlari dari ancaman nyawa, kemudian berakhir tanpa gambaran jatuhnya korban jiwa satu pun. Begitu pula dengan prekuel Independence Day (1996) yang sukses besar, dan beberapa adegan emosional mampu tersampaikan dengan baik meski kini tampak cheesy.

Dua puluh tahun lalu, gue masih ingat betapa gue loncat-loncat dari kursi karena gemas dan seru melihat pesawat Air Force One yang dikejar kobaran api. Gue masih ingat juga emosi yang terbakar karena pidato Presiden Whitmore, dan rasa kagum ketika Capt. Steven Hiller dan David Levinson memasuki kapal induk alien di luar angkasa. Tetapi semua luapan emosi tersebut tidak gue dapatkan di Independence Day: Resurgence, yang dua dekade kemudian dibekali dengan teknologi, efek visual yang lebih canggih, dan budget yang berkali lipat.


Mungkin hal tersebut terjadi karena dua puluh tahun sudah berlalu, keadaan psikologis gue telah berkembang, dan referensi film yang pernah ditonton pun bertambah. Mungkin juga karena Roland Emmerich menggunakan formula yang sama persis sis sis, sehingga gue tak lagi terkena dengan triknya. Mulai dari perkembangan karakter yang seadanya di awal film, hingga perkembangan plot yang banyak memberikan tribute ke ID4 bahkan paralel setiap shot-nya. Semuanya benar-benar terasa sekedar lewat saja, meski gue sadar adegan ini seharusnya menimbulkan emosi yang seperti apa - apalagi adegan-adegan tribute to prequel yang cukup kentara.

Namun sayangnya semua itu tidak diberkahi dengan akting yang meyakinkan, dan meminimalisir emosi yang hendak disampaikan ke penonton. Apalagi Jessie T. Usher yang memegang beban paling berat untuk dapat menggantikan karakter Will Smith yang kabarnya tidak terlibat dalam sekuel ini karena permintaan honor yang terlalu besar. Dirinya pun serta-merta tenggelam dibalik bersinarnya Liam Hemsworth yang tampil lebih siap sebagai pahlawan kita semua.


Tetapi memang IDR dibuat sebagai film musim panas yang menghibur dan menyenangkan, tanpa perlu banyak berpikir - meski terkadang sebal karena aksi-reaksinya meremehkan kecerdasan penonton. Tidak perlu dipikirkan lebih lanjut mengapa dewan ESD merasa tidak perlu memeriksa kapal asing yang sudah ditembak jatuh karena lebih sibuk pada perayaan kemerdekaan, lupakan juga logika mengapa pesawat alien yang ratusan itu tidak menembak balik saat ratunya terancam, dan seterusnya. Sungguh sayang memang, betapa gue ingin menyukai film ini dengan berbagai peningkatan pada permukaan. Tetapi rasanya wajar jika kebanyakan orang tidak dapat melupakan hal yang pertama kali dirasakannya, yang kemudian membekas tanpa bisa hilang kecuali ada hal baru yang lebih daripadanya. Sayangnya, IDR masih belum bisa termasuk dalam kategori tersebut.

Di luar berbagai kekurangannya, IDR tetap menjadi film liburan yang menghibur mata dan telinga. Audio dan visualnya benar-benar maksimal jika ditonton dalam format IMAX, meski film ini tidak memiliki IMAX scenes. Beberapa adegan masih terlihat keren dengan segalanya yang lebih canggih dan lebih besar dalam hitungan skala. Penampakan para alien pun masih keren dan sama menakutkannya. Dengan berbagai keunggulan ini, memang sayang untuk melewatkan film ini di bioskop.


USA | 2016 | Action / Disaster / Sci-Fi | 120 mins | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 23 June 2016 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top