07 March 2016
0 kritik

Kung Fu Panda 3

J
"Bukan hanya sekedar sekuel, tetapi juga penutup dengan lingkaran yang utuh dan sempurna"

Setelah menjadi seorang Dragon Warrior dan menguasai jurus mematikan, kini saatnya Po meneruskan keahliannya kepada orang lain dengan menjadi guru. Tetapi sebelum itu, Po harus kembali menjawab pertanyaan besar; siapakah dirinya? Pertemuannya kembali dengan ayahnya malah membuat pertanyaan tersebut semakin rumit. Dilahirkan oleh panda, tetapi dibesarkan oleh bebek, jelas membuat Po semakin mengalami krisis identitas. Tetapi Po harus menjawab pertanyaan itu demi mempelajari ilmu baru untuk menguasai Chi, dan juga mengalahkan penjahat dari alam roh yang datang untuk membunuh semua master kung fu di Cina daratan.

Kung Fu Panda 3 ini surprisingly sangat menghibur dan mampu membuat gue tertawa terbahak-bahak. Tadinya, gue datang dengan ekspektasi serendah mungkin, mengingat film kedua dari animasi bela diri bertema fabel ini kurang menghibur dan cukup formulatif. Tetapi ternyata sekuel ketiga ini bisa dibilang jauh lebih baik ketimbang sekuel keduanya. Masih dengan filosofi timur sebagai tema besarnya, humor-humor yang disajikan benar-benar efektif.



Visualnya jelas sangat mengagumkan dan menawan. Bukan hanya detil animasi seperti tiap helai bulu dalam setiap spesies, tetapi juga cara bercerita yang menggunakan efek cat air. Teknik ini jelas berhasil untuk membuat film tidak terlihat monoton dengan hanya menggunakan animasi 3D saja. Selain itu, setiap humornya sangat universal dan dapat diakses oleh kelas umur mana pun. Tidak hanya humor slapstick yang berhasil mengocok perut, tetapi juga humor-humor konyol dari para karakter yang sangat menggelikan ini. Bayangkan saja, satu panda saja sudah cukup menggelikan. Tetapi kali ini akan ada puluhan panda dengan berbagai karakter dan umur, dimana imut dan kocak akan bercampur aduk.

Sudah jadi hal yang lumrah juga dalam franchise Kung Fu Panda untuk memberikan dan fokus pada satu filosofi Timur sepanjang durasi filmnya. Dalam sekuel ketiga ini, Po fokus untuk menjawab pertanyaan siapakah dirinya walaupun ia sempat mengalami krisis identitas. Namun yang terpenting adalah bagaimana untuk membuat orang lain di sekitarnya juga mampu menjawab pertanyaan yang sama. Film ini jelas menyampaikan pesan ini dengan sangat baik, dan juga menjadi makna yang sangat berharga - terutama untuk anak-anak agar dapat menghargai talenta dan keunikan masing-masing.


Kung Fu Panda 3 ini jelas menjadi penutup yang sempurna dan membentuk lingkaran penuh dalam trilogi kung fu fabel ini. Dari jalan cerita yang dibangun dari sekuel pertama hingga ketiga, terlihat jelas bahwa jalan cerita besar ini sudah direncanakan dari awal - seperti yang dikonfirmasi oleh CEO Dreamworks. Maka bagi anda yang sudah mengikuti kisah Po dari tahun 2008 dan sekuelnya tahun 2011, rasanya akan sayang untuk melewatkan film ini. Apalagi dengan visual yang menakjubkan, menonton di layar lebar jelas menjadi satu-satunya pilihan.



USA | 2016 | Animation | 95 mins | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
8 dari 10

- sobekan voucher bioskop tanggal 7 Maret 2016 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top