21 November 2014
0 kritik

Winter Sleep

"Drama yang sederhana tentang dunia modern yang dipenuhi orang-orang yang superfisial"

Aydin, seorang pensiunan aktor yang sekarang menjadi pengelola sebuah hotel kecil di kota Anatolia. Ia tinggal bersama Nihal, istri mudanya, dan adiknya Necla yang baru saja bercerai. Di awal musim dingin di kota kecil itu, hotel tersebut tidak hanya menjadi tempat berlindung dari udara dingin, tetapi juga tempat berlindung bagi Aydin dari orang-orang di sekitarnya. Merasa memiliki semuanya di masa mudanya, kini Aydin seakan menyepelekan orang-orang di sekitarnya tanpa memikirkan perasaan mereka.

Film-film jebolan Cannes Film Festival memang kebanyakan bertema drama dengan tipikal arthouse. Lihat saja pemenang penghargaan tertingginya Palm d'Or dari tahun ke tahun; Blue is the Warmest Colour (2013), The Tree of Life (2011), Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives (2010). Tahun ini, piala Palm d'Or jatuh ke Kis Uykusu aka Winter Sleep asal Turki, sebuah film sederhana yang dengan tepat mendeskripsikan bagaimana karakter Aydin yang intelek namun cenderung artifisial dalam berbicara.


Penulis naskah dan sutradara Nuri Bilge Ceylan banyak terinspirasi dari karya-karya Anton Chekov, dimana dunia diisi oleh orang-orang yang berbicara banyak namun hanya sedikit saja yang bermakna dan ada artinya. Hal ini direpresentasikan dengan sangat baik lewat karakter Aydin, dengan akting yang luar biasa meyakinkannya. Di awal film mungkin penonton akan mudah jatuh hati pada karakter Aydin yang terlihat begitu peduli dengan orang-orang di sekitarnya, termasuk turis Jepang yang menginap di hotelnya. Namun lambat laun, dengan konsistensi karakter yang ditampilkannya, karakter Aydin perlahan menjadi tampak menyebalkan dan serasa tidak peka terhadap perasaan orang lain.

Spektrum perubahan karakter ini ditampilkan dengan sangat mulus, apa adanya, dan begitu sederhana. Tidak ada kejadian dramatis apapun, murni hanya konsistensi perilaku dari karakter Aydin, yang seakan membuat penonton ingat bahwa untuk benar-benar kenal dengan seseorang tidak cukup hanya dengan satu-dua kali pertemuan. Perubahan penilaian penonton terhadap karakter yang tampil secara konsisten ini yang cukup jarang ditemui di film-film manapun, yang jelas membuat Winter Sleep menjadi film yang spesial.


Film ini memang berjalan cukup lambat, dengan khas arthouse dimana banyak insert pemandangan atau shot-shot yang seakan tanpa arti. Ada begitu banyak dialog panjang tanpa henti dalam beberapa adegan yang mungkin terlihat membosankan, tetapi dibawakan dengan akting yang luar biasa dan naskah yang matang. Banyak dialog perdebatan antara Aydin dengan beberapa orang di sekitarnya, yang jelas akan mengaduk-aduk penonton untuk dimana mereka harus menempatkan diri.



Turkey / France / Germany | 2014 | Arthouse / Drama | 196 mins | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
8 dari 10

Won for Palme d'Or (Nuri Bilge Ceylan), FIPRESCI Prize (Nuri Bilge Ceylan), Cannes Film Festival, 2014

Nominated for Best Film (Zeynep Ozbatur Atakan, Nuri Bilge Ceylan), Best Director (Nuri Bilge Ceylan), Best Screenwriter (Ebru Ceylan, Nuri Bilge Ceylan), European Film Awards, 2014

- sobekan tiket bioskop tanggal 21 November 2014 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top