21 November 2014
0 kritik

The Lunchbox

"Sederhana, indah, dan menghangatkan hati tentang dua orang asing yang saling bertukar surat lewat jasa antar katering"

The Lunchbox berkisah seputar Dabbawalas, pelayanan jasa antar katering dari rumah ke kantor yang sangat terkenal di India. Layanan jasa antar katering yang telah berumur 125 tahun ini terkenal karena akurasinya, dengan rata-rata salah kirim hanya terjadi dua bulan sekali. Namun suatu hari, kiriman katering dari Ila sang istri yang merindukan kasih sayang dari suaminya, salah antar ke Saajan seorang duda yang baru saja kehilangan istrinya. Kesedihan hidup yang mereka berdua rasakan pun diekspresikan lewat surat-menyurat yang ditaruh di dalam kotak makan kosongnya.

Film ini jelas bukan seperti film India kebanyakan; ini adalah film India rasa Eropa! Sutradara debutan Ritesh Batra yang belajar perfilman di New York membawa gaya Eropa ke dalam film panjang pertamanya; tidak banyak dialog, tempo lambat, dan banyak menggunakan bahasa gambar. Shot panjang tanpa dialog yang hanya menggambarkan ekspresi sang karakter seakan memaksa penonton untuk melihat isi pikiran dan perasaannya cukup mendominasi film ini. Dan ya, tidak ada adegan puluhan orang tiba-tiba menari di bawah hujan atau memutari tiang listrik.



The Lunchbox tidak hanya membawa reputasi kerapihan sistem Dabbawalas ke tingkat dunia, tetapi juga membangkitkan nostalgia di era sebelum alat komunikasi modern muncul. Bahkan sebelum era SMS atau telepon, para pekerja kantoran di Mumbai berkomunikasi lewat surat dalam kateringnya dengan orang di rumah. Film ini jelas mendeskripsikan bahwa betapa interaksi lewat surat - apalagi dengan orang tak dikenal - bisa menjadi begitu dalam. Sebuah pengungkapan ekspresi dan perasaan yang jarang kita temui lewat pesan komunikasi singkat di era modern sekarang ini.

Kesederhanaan ceritanya membuat penonton menjadi lebih fokus pada dua karakter utama dalam film ini. The Lunchbox memang tipikal film yang kaya untuk bahan studi karakter. Saajan dan Ila yang saling berinteraksi satu dengan yang lain, untuk kemudian sedikit mengubah pemikiran dan arah hidup mereka sangat menarik untuk dinikmati dan dipelajari. Spektrum perubahannya pun mulus dan apa adanya, tanpa adanya dramatisasi apapun. Jalan cerita yang ditulis sendiri oleh Ritesh Batra mengalir begitu saja dan begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Meski tulisan-tulisan dalam surat-menyurat antara Saajan dan Ila kadang terlihat filosofis, tapi memang seperti itulah tipikal sahabat pena bila saling bertukar pikiran.


Side story yang ada dalam film ini juga tidak kalah hangat dan menyentuh. Karakter Shaikh yang awalnya tampak menyebalkan secara perlahan akan menarik simpati yang besar dari penonton lewat perjalanan kisahnya yang cukup mengharukan. Side story yang ada ini juga di eksekusi dengan brilian sehingga tidak terlalu menonjol dari kisah utamanya, namun dapat menarik rasa emosional yang cukup signifikan.

Meski dibawakan dengan gaya Eropa - atau lebih tepatnya, Perancis - The Lunchbox sangat kental dengan kultur India. Jelas sebuah film yang tepat untuk mereka yang ingin menengok lebih dalam pada kehidupan perkotaan di Mumbai pada khususnya. Dibawakan dengan cantik dan artistik, serta diberkahi jalan cerita yang sederhana, membuat film ini begitu mudah untuk menghangatkan hati atau sampai meneteskan air mata. Apalagi dengan akhir cerita yang cukup fair dan sangat indah. Jelas sebuah film yang akan gue tonton berulang kali.



India / France / Germany / USA | 2013 | Arthouse, Drama, Romance | 104 mins | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 21 November 2014 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top