23 September 2014
0 kritik

The Equalizer

"Film aksi tipikal Hollywood yang tepat bagi anda pecinta kekerasan grafis"

Robert McCall meninggalkan masa lalunya yang misterius dan sekarang bekerja di sebuah department store alat-alat perkakas dan rumah tangga. Namun ia tidak bisa tinggal diam ketika bertemu dengan Teri, seorang pelacur di bawah umur yang dikekang oleh mafia Rusia. Ketika Teri berada dalam masalah, McCall pun mau tidak mau turun tangan untuk membela orang yang lemah. Dengan kemampuan dan keahlian yang ia miliki, ternyata ia harus menghadapi jaringan mafia yang lebih besar yang seakan menjadi tandingan yang seimbang bagi dirinya.

Serial TV berjudul sama yang tenar di tahun 1985 ini dihidupkan kembali oleh aktor senior Denzel Washington. Yes, ini adalah tipikal film action Hollywood dimana satu orang berkeahlian khusus akan menang dan tidak akan mati melawan puluhan orang sekalipun. Motivasinya pun sangat altruis sekali; menyelamatkan orang-orang yang tidak berdaya dari tangan orang-orang kejam. Siapa orang jahatnya? Siapa lagi kalau bukan orang-orang Rusia yang dengan apesnya selalu mendapat stereotipe jahat dan ingin menghancurkan dunia lewat film-film karya AS.


Kehadiran aktris remaja cantik Chloe Grace-Moretz cukup menghiasi film yang sangat maskulin ini. Namun sayang kemunculannya hanya seakan formalitas belaka dan tetap tidak dapat mengimbangi maskulinitas film ini. Jalan cerita yang disajikan memang cukup penuh dan complicated. Tapi kisah yang dialami oleh McCall bukanlah sebuah kisah yang belum pernah anda lihat sama sekali. Sebuah jalan cerita yang sangat umum dan generik, serta masih saja dibumbui oleh keperkasaan Amerika atas bangsa lain.


Salah satu kelemahan utama The Equalizer adalah karakterisasi yang tidak imbang antara protagonis dan antagonisnya. Robert McCall diberikan segudang karakter yang luar biasa, meski memiliki kecenderungan OCD (Obsessive-Compulsive Disorder). Meski bagian fun-nya adalah ia dapat membunuh banyak orang dengan cara yang berbeda-beda dan sangat unik, tetapi karakterisasi seakan dewa ini seakan terlalu berlebihan. Yeah, it's been so long since the last time you saw a man walking slowly while big explosion behind him.

Di sisi lain, karakter antagonis si jahat asal Rusia sangat lemah karakterisasinya. Berbagai cara tampak sudah dilakukan untuk membuat sosoknya tampak keji - sampai diberikan senjata besar - tetapi tetap saja karakternya seakan semut dihadapan gajah jika disandingkan oleh si "Equalizer". Ketimpangan ini yang jelas membuat menonton film ini tidak lagi asyik jika sudah dapat menduga hasil akhirnya.


Sementara itu, yang menghibur dari film ini jelas graphic violence-nya. Kreativitas pembuat film dalam menggambarkan bagaimana membunuh orang dengan menggunakan alat perkakas sehari-hari patut diacungi jempol. Beberapa tidak dapat disangka dan cukup membuat beberapa penonton mengkeret. Meski harus rela dipotong oleh tim sensor Indonesia, tapi tetap saja hasil lolos sensornya cukup menghibur dan bisa dibilang nyaris masuk ke ranah slasher.

Akhir kata, tidak perlu berharap banyak pada The Equalizer meski ia adalah si pembela kebenaran dan melibas siapapun yang bertindak semena-mena terhadap orang tidak berdaya. Sedikit pararel dengan Man on Fire (2004) dalam konteks "Denzel Washington dan aktor remaja putri". Film ini bukan untuk penonton yang mencari kompleksitas dunia kriminal atau jalan cerita sejenis, tetapi sangat tepat bagi anda yang haus akan adegan aksi - terutama bagi penggemar buku semacam "How to Kill People with Hardware for Dummies".



USA | 2014 | Action | 131 min | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 23 September 2014 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top