11 September 2014
0 kritik

Rurouni Kenshin: Kyoto Inferno

"Sekuel  dengan ekspansi cerita yang luas, yang menjadi jembatan sempurna bagi film ketiga dan penutup dari petualangan Kenshin Himura"

Kenshin Himura dihadapkan pada musuh terbesarnya yang juga seorang battosai, Makoto Sishio yang ternyata masih hidup sejak Perang Boshin berakhir. Di era Meiji, Sishio memiliki terobsesi untuk meneruskan perjuangannya dulu; menggulingkan pemerintahan baru dan mengembalikan Jepang ke era Imperalisme. Pihak pemerintah yang semakin kewalahan dengan sepak terjang anak buah Sishio yang membabi buta, menggantungkan harapannya pada Kenshin semata sebagai sesama eks-Hitokiri Battousai.

Jelas Rurouni Kenshin: Kyoto Inferno adalah kabar gembira bagi pecinta komik dan serial kartun Samurai X. Seorang pahlawan masa kecil bagi (kita) generasi tahun 90-an. Meski film live action pertamanya, Rurouni Kenshin (2012), tidak rilis di bioskop Indonesia tetapi para fans setiap tetap sadar akan adaptasi manga ini ke layar lebar dalam bentuk live action. Ya secara prekuelnya juga sudah beredar dalam bentuk digital di seantero internet, secara ilegal tentunya ;p



Bagi yang sudah menonton film pertamanya, Kyoto Inferno jelas tampak sempurna sebagai sebuah sekuel. Di Rurouni Kenshin (2012), cerita lebih fokus pada bagaimana Kenshin sebagai seorang pengembara harus beradaptasi di era "modern" sambil harus menghadapi masa lalunya. Film ini tampak seakan sebuah janin bagi lahirnya Kenshin baru di era modern. Sementara Kyoto Inferno adalah kisah yang fokus pada bagaimana Kenshin harus berjuang mempertahankan era baru dari tangan-tangan yang ingin mengembalikan Jepang pada kekacauan masa lampau. Sebuah kelanjutan dengan level yang lebih tinggi, serta ekspansi cerita yang signifikan dan sesuai porsinya. Belum lagi, pergumulan Kenshin akan sumpahnya untuk tidak akan membunuh orang lagi digodok dengan lebih dalam, serta diuji dengan lebih berat dalam film ini.

Ekspansi Kyoto Inferno dengan memperkenalkan jalan cerita baru, karakter baru, serta penjahat baru memang luar biasa luas. Penonton yang sudah mendalami karakter Kaoru, Sanosuke, Megumi, Yahiko, dan Saito lewat pendalaman karakter yang kuat di Rurouni Kenshin, dapat dengan nyaman menyambut karakter baru seperti Misao si ninja, Sojiro si tangan kanan Sishio, dan si pengembara Aoshi. Walaupun banyak major side characters, tetapi pembuat film Keishi Ohtomo dapat menampilkan kedalaman karakter yang merata tanpa pernah keteteran sekalipun. Meski berimplikasi pada panjangnya durasi, tapi rasanya durasi 138 menit akan sangat memuaskan bagi semua fans batosai si pembantai.


Deretan adegan pertarungan pedang yang disajikan juga cukup memuaskan. Jelas tidak seberdarah Zatoichi, tapi pembuat film sangat berhasil mengadaptasi setiap adegan aksi yang ada semirip mungkin dengan yang ada di komik maupun serial kartunnya. Komikal dengan berbagai gerakan yang tidak ada di hukum fisika manapun, melihat setiap bagaimana Kenshin dan musuh-musuhnya bergerak seakan sebuah mimpi menjadi kenyataan. Apalagi dibungkus dengan score yang tidak hanya mengusung musik khas tradisional Jepang, tetapi juga campuran dengan modern rock dan sedikit sentuhan vokal ala Mediterania.

Diadaptasinya kisah petualangan Kenshin Himura tidak hanya menghidupkan deretan adegan aksi, tetapi juga menjadi sebuah parade cosplay yang luar biasa. Satu hal yang membuat gue terpukau adalah betapa detil dan setianya pada komik dan serial kartun akan setiap kostum yang digunakan setiap karakter yang ada dalam film ini. Ya sebagai sebuah negara pencipta tren cosplay, harusnya memang ini menjadi beban dan tanggung jawab berarti bagi departemen kostum untuk menghidupkan tokoh dan karakter dari dunia animasi ke dunia nyata. Kerja keras mereka pun membuahkan hasil yang luar biasa, bahkan sangat detil hingga ke lipatan jubah para eks-samurai atau bahkan gulungan perban di kepala Sishio.


Kyoto Inferno tidak hanya menjadi sebuah sekuel yang ekspansif dibandingkan film pertamanya, tetapi film ini juga sempurna sebagai sebuah pengantar yang indah kepada film ketiga dan terakhir; The Legend Ends (2014). Warning, ending film ini akan sangat mengganggu setiap orang yang sebal dengan ending model cliffhanging. Tetapi beruntungnya, kita tidak perlu menunggu terlalu lama; kita bisa menyaksikan pertarungan final antara Kenshin dengan Sishio dalam waktu satu bulan saja :D



Japan | 2014 | Action / Adventure | 138 min | Aspect Ratio 2.35 : 1


Rating?
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 11 September 2014 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top