26 September 2014
0 kritik

Tabula Rasa

"Film kuliner yang sangat Indonesia dengan makanan, jalan cerita, karakter, hingga konflik budaya yang ditampilkan"

Hans, pemuda asal Serui, Papua harus merelakan cita-citanya untuk menjadi pesepakbola profesional ketika nasib berbalik setibanya ia di Jakarta. Namun Hans seakan mendapat kesempatan kedua ketika bertemu dengan Mak disaat ia kehilangan semangat hidupnya. Mak pun memberikan kesempatan bekerja untuk Hans di rumah makan Minang sederhana miliknya. Namun perjalanan Hans tidak semulus itu karena ia harus menghadapi penolakan dari juru masak Parmanto dan juru saji Natsir. Belum lagi kehadiran rumah makan baru yang lebih besar di depan lapau. Mereka berempat harus menyelesaikan perselisihan diantara mereka agar dapat membuat lapau mereka ramai oleh pengunjung.

Film ketiga dari Lifelike Pictures ini tidak hanya menjadi terobosan baru sebagai film "non-thriller" pertama yang diproduksi oleh rumah produksi milik Sheila Timothy ini, tetapi tercatat sebagai pionir film kuliner asal Indonesia. Madre dan Brownies memang adalah film tentang makanan, tetapi roti dalam film itu hanya sebagai instrumen bagi kedua karakter utama untuk bertemu dan jatuh cinta. Namun makanan Minang - dan Gulai Kepala Ikan, tentunya - dalam Tabula Rasa jelas menjadi titik gravitasi dalam film ini. Makanan-makanan khas Minang dengan resep khas dari Mak, diolah oleh Uda Parmanto - kemudian dilanjutkan oleh Hans - menjadi sebab dan akibat utama bagaimana semua karakter saling berselisih, praktis dari awal hingga akhir film.



Sebagai pionir film kuliner, Tabula Rasa cukup menetapkan standar yang cukup tinggi. Film ini diberkahi dengan banyak bahasa gambar yang jelas tidak perlu deskripsi verbal dengan dialog untuk menjelaskan maksud dan tujuan dari karakter yang ada di adegan. Rentetan bahasa gambar yang apabila dirajut menjadi satu, jelas menjadi gaya bercerita yang unik dan segar - serta turut mencerdaskan penonton. Beberapa bahasa gambar sangat komikal dan mengundang tawa, namun sebagian lain mengandung unsur simbolis yang antara absurd atau sesederhana makna paradoksal. Implikasinya, film ini terlihat sunyi dan tenang. Yang menurut gue cukup sinkron dan menyeimbangkan atmosfer penuh tekanan yang ada pada jalan cerita dan situasi yang dialami para karakternya.

Kekuatan naskah yang ditulis oleh Tumpal Tampubolon jelas terletak pada nilai budaya dan kebhinekaan Indonesia. Masakan sebagai produk nyata dari budaya yang memiliki nilai-nilai budaya yang dianut oleh masyarakat dieksplorasi dengan brilian. Setiap jenis masakan tidak hanya diperlihatkan berbagai cara memasak yang tradisional namun memaksimalkan cita rasa, tetapi juga diberikan pandangan baru seputar nilai-nilai kearifan lokal dari Minang. Tidak hanya soal makanan, bentrokan antar-budaya pun dieksplorasi secara berani lewat representasi suku yang ada dalam film ini. Seorang Papua yang akan dinilai berhasil jika merantau ke Jakarta, ditambah pula stereotip negatif orang-orang "kota" terhadap orang-orang asal Indonesia Timur.


Sebagai lapisan akhir, film drama ini dibungkus dengan balutan komedi yang tidak berlebihan, namun sangat efektif. Setiap lelucon yang ada sangat kena, terutama beberapa lelucon yang rasanya hanya dapat dipahami konteksnya oleh orang Indonesia. Rasanya sudah sekian lama gue tidak ketawa selepas itu ketika menonton film Indonesia. Walaupun terkesan serius lewat bahasa-bahasa gambar, tapi dengan setiap leluconnya, terlihat betapa Tabula Rasa sangat santai dan bersenang-senang. Apalagi ditambah dengan deretan soundtrack rasa vinyl yang oldies sekali. Wuih!

Pada akhirnya, Tabula Rasa adalah film yang sangat menyenangkan. Meski terkesan lambat di paruh awal, namun acungan jempol patut diberikan pada sutradara Adriyanto Dewo yang baru pertama kali menggarap film panjang. Dengan kuatnya nilai budaya dan ke-Indonesia-annya, film ini jelas dapat menjadi cerminan kuat bagi kita semua. Dibungkus dengan sinematografi yang stylish, efektif meningkatkan rasa lapar penonton ketika melihat bagaimana rendang, ayam balado, dan tahu cabe ijo dimasak dan disiapkan. Apalagi denga kekuatan karakter yang dibangun dengan sangat baik akan membuat anda akan sulit berpisah dengan Hans, Mak, Natsir, bahkan Uda Parmanto.



Indonesia | 2014 | Drama | 107 mins | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 26 September 2014 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top