27 June 2014
2 kritik

Transformers: Age of Extinction

"Sebagai awal dari trilogi baru, sekuel ke-4 ini tidak menjual apa-apa selain efek visual dan efek suara yang canggih"

Empat tahun setelah serangan besar di Chicago, pemerintah AS lewat operasi militer rahasianya menangkap dan menghabisi setiap Transformers yang ada, baik Autobots maupun Decepticons. Hal ini membuat Optimus Prime dan kawan-kawannya harus bersembunyi. Suatu hari, Cade Yeager dan anaknya menemukan truk usang yang ternyata adalah Transformers. Penemuan itu tidak hanya menjadikan mereka diburu oleh pihak pemerintah, tetapi juga dari kelompok Transformers lain yang hendak menghabisi setiap Autobots dan Decepticons.

Kabarnya, Michael Bay sempat menolak untuk melanjutkan franchise Transformers. Namun setelah melihat antrian panjang di wahana Transformers di salah satu taman hiburan, ia pun memutuskan untuk membuat trilogi baru dari serial Transformers. Trilogi baru tersebut dibuka oleh Age of Extinction dengan musuh utama yang baru. Tidak hanya antagonisnya yang baru, tapi protagonis utama si Optimus Prime juga tampil dengan wajah baru, lengkap dengan pemeran utama manusia lewat Mark Wahlberg yang menggantikan Shia LeBouf yang menolak untuk melanjutkan perannya.



Sebagai sebuah start-up dari trilogi yang baru, memang ini saatnya untuk mengenalkan karakter-karakter baru. Pihak produser pun mengabulkan keinginan para fans yang ingin melihat Dinobots, para transformers yang berbentuk asli dinosaurus dan jauh lebih besar dari ukuran transformers biasa seperti T-Rex, Stegosaurus, atau Pteranodon. Kehadiran Dinobots ini memang cukup signifikan mengangkat pamor sekuel ke-4 ini dan mampu menarik para fans lama maupun baru untuk menonton film ini. Apalagi lewat aksi Dinobots yang keren dan menghibur.

Segala macam semi-remake tersebut ternyata tidak mampu menolong jalan cerita yang cukup berantakan. Kisah awal dari Age of Extinction ini memang cukup potensial. Namun cerita mulai melebar kemana-mana tak terkendali ketika memasuki paruh kedua. Banyak adegan-adegan yang repetitif, dan terkesan tidak perlu. Seakan durasi 165 menit adalah hasil pembengkakan cerita yang tidak terlalu penting. Permasalahannya adalah, jika cerita berkembang untuk fokus pada kedalaman karakter jelas akan memberikan kedalaman tertentu pada keseluruhan jalan cerita. Namun yang terjadi pada sekuel ini adalah setiap karakter, baik manusia maupun robot, hanya disorot sekilas saja tanpa penonton dapat memahami dengan jelas apa motif dan tujuan dari pilihan tindakannya.


Pada akhirnya, Age of Extinction kembali jatuh ke lubang yang sama; hanya memamerkan kecanggihan efek visual dengan menganak-tirikan silogisme cerita yang baik dan menarik. Harus gue akui, tampilan baru robot dan mobil-mobilnya memang keren, apalagi aksi Dinobots yang menawan. Tapi sangat melelahkan untuk menelan semua cerita yang ditampilkan selama 165 menit yang panjang itu. Apalagi dengan segala dentuman ledakan yang terus-menerus sehingga lebih terkesan berisik dibanding menambah ketegangan.

Sekedar info, Michael Bay menggunakan kamera IMAX dalam proses syuting film ini. Jadi, pengalaman menonton Age of Extinction jelas akan maksimal jika ditonton dalam format IMAX.



USA | 2014 | Action / Sci-Fi | 165 min | Aspect Ratio 2.35 : 1 / 1.90 : 1

Rating?
7 dari 10

Wajib 3D? Relatif

Wajib IMAX? Ya

Wajib 4DX? Relatif

- sobekan tiket bioskop tanggal 27 Juni 2014 -

2 kritik:

  1. seriously mo? dosa lo 2:
    1. lo mereview this lil piece of sh*t movie instead of the fault in our stars.
    2. lo memberikan 7/10 instead of 3/10.

    ReplyDelete
    Replies
    1. syit. let me explain.
      1. Gue baru nonton The Fault in Our Stars kemarin. Sabar yak.
      2. I actually enjoy the action scenes, and the dinobots! So 7 goes to the popcorn-matters :D

      Delete

 
Toggle Footer
Top