20 June 2014
0 kritik

Selamat Pagi, Malam

"Sebuah surat cinta yang manis untuk kota urban - dan penduduknya - yang tengah mengalami krisis identitas, untuk menemukan kembali jalan pulang"

Film ini menceritakan kehidupan tiga wanita di sebuah malam yang melankolis di kota urban Jakarta. Ci Surya yang dirundung kesedihan karena baru saja kehilangan suaminya, menemukan rahasia besar yang disimpan oleh sang suami. Ci Surya pun pergi menelusuri rahasia tersebut dan malah bersentuhan dengan kehidupan malam Jakarta. Indri sebagai staff tempat fitness berharap naik status sosial dengan kencan butanya yang seorang kaya, harus menelan pil pahit karena ekspektasi tidak sejalan dengan kenyataan. Sementara Gia yang baru menyelesaikan studinya di New York, menikmati malam pertamanya di tanah air bersama teman kuliahnya, Naomi. Dengan interaksi mereka yang cenderung canggung karena lama tidak bertemu, Gia harus beradaptasi kembali dengan absurdnya kehidupan kota Jakarta.

Bagi penduduk Jakarta, film ini akan dengan keras menampar anda lewat berbagai detil hal dan jalan cerita yang ditawarkan. Ya gue pun harus mengakui, terkadang gue lebih memilih untuk sibuk dengan smartphone dibandingkan mengobrol dengan teman yang ada di depan kita. Atau tidak ingin ketinggalan mencoba Rainbow Cake yang sedang "hitz bingitz" di seantero kota. Oh, atau Kerak Telor si makanan khas Jakarta yang hanya tenar saat ulang tahun Jakarta. Hal-hal tersier yang menjadi tenar karena pembicaraan sosial, yang disodorkan secara paksa ke mulut kita. Lucky Kuswandi sebagai penulis naskah, editor, dan sutradara berhasil memotret hal tersebut secara komprehensif dalam Selamat Pagi, Malam atau In The Absence of the Sun



Setting waktu malam hari memang sangat pas untuk melihat kota Jakarta yang tengah beristirahat dari kesibukannya di siang hari. Kita bisa santai berjalan kaki, memesan makanan di pedagang kaki lima, atau bahkan sekedar berjalan-jalan di pasar kue. Dimana para penduduknya masih tetap menggunakan sisa topeng mereka hanya untuk terlihat lebih berkelas di depan mata orang lain, entah dengan memesan makanan mahal berjudul classy atau membawa tas belanja yang entah apa isinya. Orang-orang yang ingin terlihat kebarat-baratan, meski harus berjuang ekstra keras untuk mencapai penampilan seperti yang diharapkannya. Meski kemudian topeng tersebut luntur seiring berjalannya waktu dan meningkatnya interaksinya dengan orang lain.


Hal-hal absurd seputar budaya kota urban dan tingkah laku penduduknya itu direpresentasikan dengan sangat baik lewat tiga karakter utamanya. Penonton seakan dibawa lewat tiga karakter yang sangat representatif, ada Ci Surya yang baru pertama kali bersentuhan dengan kehidupan malam Jakarta yang tak lepas dari seks, ada Indri dari kelas marginal yang mencoba secuil kehidupan kelas atas, dan ada Gia yang menemukan bahwa ternyata Jakarta jauh lebih absurd ketimbang New York yang notabene jauh lebih maju dan padat. Lewat tiga wanita ini, penonton akan diajak berjalan-jalan di kota Jakarta, hanya untuk melihat dan memaknai kembali hal-hal kecil yang mungkin kita temui setiap hari namun terlewatkan begitu saja. Bahkan dialog-dialog yang terlontar dari para karakter yang ada dalam film ini pun mungkin sudah pernah anda utarakan ke teman-teman anda.


Satu hal yang cukup mengganggu gue memang seputar teknis, terutama sound mixing yang kurang mulus. Setiap dialog yang keluar dari para karakter menjadi seakan kurang natural, terutama bila settingnya berada di luar ruangan atau bahkan di pinggir jalan. Namun rasanya hal kecil ini dapat dimaafkan ketika melihat bagaimana film ini menangkap pemandangan Jakarta dan aktivitas penduduknya di malam hari lewat deretan insert yang sangat indah. Ketika di awal film, penonton seakan menjauhkan dirinya terhadap apa yang sedang terjadi di layar sebagai tahap denial, maka di akhir film kita akan merasa ingin memeluk kota metropolitan ini dengan mesra.

Pada akhirnya Selamat Pagi, Malam memang ingin mengeksplorasi permasalahan krisis identitas, yang tidak hanya dialami oleh kotanya sendiri, tetapi juga oleh penduduknya apapun kelas sosialnya. Sebuah jati diri yang terus menerus ditenggelamkan oleh topengnya, hingga tak tahu lagi arah jalan pulang. Tampak luar yang mencoba mati-matian tampil mengikuti arus budaya dan kultur yang absurd, namun mau tak mau harus realistis dengan keadaan jiwa dan jati diri yang tak akan pernah hilang. Namun ya mau tak mau kita - penduduk Jakarta - harus dapat berdiri tegap. Menemukan diri kembali, sekaligus mengangkat dagu beberapa cm keatas untuk kembali berinteraksi secara langsung. Berdiri tegap, seperti kotanya sendiri yang tak pernah padam, seakan penyanyi klub malam yang terus menerus bersenandung hingga matahari pagi mengundang.



Indonesia | 2014 | Art House / Drama | 94 min | Aspect Ratio 1.85 : 1

Rating?
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal Jumat, 20 Juni 2014 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top