22 November 2013
0 kritik

The Hunger Games: Catching Fire

"Sekuel yang jauh lebih baik, dengan mengeksplorasi lebih dalam pada tema utamanya, serta masih mampu menyajikan adegan aksi yang menegangkan"

Hidup Katniss Everdeen dan Peeta Mellark tidak dapat kembali normal walaupun mereka berhasil bertahan hidup sebagai pemenang dalam The Hunger Games ke-74. Sebagai pemenang, kini mereka harus menjalani "Victor's Tour" atau berkeliling ke kedua belas distrik untuk merayakan kemenangan dengan berpidato, sekaligus menyampaikan simpati kepada keluarga peserta yang kalah dan gugur. Namun perjalanan mereka berdua malah memercikkan semangat revolusi dan pemberontakan terhadap Capitol. Ketika masih memegang kendali penuh akan negara Panem, Presiden Snow pun mengadakan The Hunger Games ke-75 dengan peraturan yang diperbaharui dengan maksud untuk meredakan semangat pemberontakan. Semua pemenang The Hunger Games dipanggil untuk saling bunuh dalam The Hunger Games versi Quartell Quell.

Biasanya gue selalu memandang sebelah mata film-film Hollywood blockbuster yang bersekuel-sekuel. Well lebih tepatnya tidak ingin memasang ekspektasi yang terlalu tinggi. Tahun lalu, The Hunger Games memang cukup memukau lewat permainan saling bunuh hingga tersisa satu orang yang selamat ala Battle Royale. Ditambah lagi dengan Jennifer Lawrence! *slurps* Kemunculan Catching Fire pun entah kenapa cukup dibesar-besarkan dan menggoda gue untuk menaikkan ekspektasi. Apalagi Coldplay mau untuk membuat satu lagu khusus sebagai lagu tema untuk Catching Fire dengan single Atlas mereka. Wow!



Dengan ekspektasi yang tidak terlalu tinggi, ternyata Catching Fire menjadi salah satu film sekuel terbaik dalam tahun ini. Film ini unggul dalam berbagai segi dibandingkan prekuelnya. Jika prekuelnya hanya fokus pada permainan tahunan bertahan hidup, maka Catching Fire mengeksplorasi lebih jauh lagi pada tema utamanya. Tema perbedaan kelas dan pemberontakan rakyat kecil pada pemerintahan totaliter semakin jelas dan eksploratif dalam sekuel keduanya ini. Permainan The Hunger Games pun praktis hanya menjadi latar belakang saja.

Sebagai orang yang tidak membaca novelnya terlebih dahulu, gue cukup terkejut dengan twist ending yang ditawarkan. Wuih sedap! Twist yang ada sanggup untuk membuat gue tergoda untuk menonton lagi film ini, demi mengecek apakah benar ini dan itu dan ini dan itu. Walaupun adegan terakhirnya dapat membuat sebagian kelompok penonton tidak puas, tapi ini sudah sangat cukup untuk membuat gue tidak sabar menantikan kelanjutannya.


Catching Fire tampaknya telah mengubah jalur franchise The Hunger Games menjadi lebih dari sekedar film aksi biasa. Tema perbedaan kelas dan pemberontakan yang dieksplorasi dengan lebih dalam, menjadi potensi yang sangat baik bagi Mockingjay Part 1 dan Part 2 yang akan dirilis tahun 2014 dan 2015. Mungkin gue harus berterima kasih banyak kepada duo penulis naskah yang telah menangani film-film yang meraih banyak penghargaan; Simon Beaufoy (Slumdog Millionaire, 127 Hours) dan Michael Arndt (Toy Story 3, Little Miss Sunshine). Dari rekam jejak film-film sebelumnya dari duo penulis naskah ini, jelas sudah mengapa mereka berdua lebih menekankan pada isu sosial dan kritikan tajam terhadap pemerintahan totaliter. Sebuah tema yang tidak akan pernah hilang dari peradaban manusia sejak jaman Mesir hingga era modern sekarang ini.

Secara keseluruhan, Catching Fire jelas adalah sebuah tontonan yang sangat menarik. Selain penuh dengan adegan aksi yang menegangkan, masih memiliki juice yang sama dengan prekuelnya, ditambah dengan eksplorasi yang mendalam terhadap tema sosial yang ada.



USA | 2013 | Action / Adventure | 146 min | Aspect Ratio 2.35 : 1


Scene During Credits? TIDAK

Scene After Credits? TIDAK

Rating?
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 22 November 2013 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top