23 November 2013
0 kritik

The Bling Ring

"Film tentang sekelompok remaja yang merampok rumah-rumah seleb yang diangkat dari kisah nyata ini sangat jelas dalam menggambarkan krisis remaja dan isu sosial yang ada"

Film ini berdasarkan kisah nyata, dimana sekelompok remaja di California yang terobsesi pada gaya hidup pada selebritis Hollywood. Terus menerus memperhatikan berita selebritis, serta mengagumi fashion dan aksesoris bermerek, membuat sekelompok remaja ini secara impulsif mendatangi dan merampok rumah-rumah selebritis ini. Mulai dari Paris Hilton, Lindsay Lohan, hingga Orlando Bloom, kelompok yang dijuluki The Bling Ring ini dikabarkan telah merampok dengan totdal 3 juta dollar AS dengan barang-barang seperti gaun, tas, aksesoris, hingga selusin jam Rolex.

Terima kasih untuk Muvila yang telah berbaik hati mau bekerja sama dan mengadakan JiFFest 2013, serta membawa film ini untuk diputar di bioskop tanah air. Sederhananya, hanya dua hal yang membuat gue sebegitu rela menunggu film ini untuk keluar di bioskop; Sofia Coppola dan Emma Watson. Kenapa Sofia Coppola? Karena sutradara/penulis naskah anak dari Francis Ford Coppola ini selalu konsisten membawa satu tema utama dalam setiap film-filmnya; keterisolasian. Mulai dari lima anak remaja putri yang bunuh diri di tengah keluarga yang konservatif dalam The Virgin Suicides (1999), seorang seleb Hollywood yang merasakan kesepian akut di tengah hiruk-pikuk kota Tokyo dalam Lost in Translation (2003), seorang bangsawan Perancis yang bosan dengan kehidupan kerajaan dalam Marie Antoinette (2006), hingga seleb Hollywood yang berusaha berekonsiliasi dengan anaknya dalam Somewhere (2010). 

Nah kenapa Emma Watson? Yawdalah ya udah tau jugak kenapa :D



Dalam film terbarunya, dengan jelas tema keterisolasian itu sudah terpatri sejak awal ketika gue membaca sinopsisnya. Motivasi kelompok remaja ini untuk merampok jelas bukan uang karena mereka semua berasal dari keluarga berada. Lalu apa motivasi dasarnya? Simply hanya terobsesi pada gaya hidup dan barang-barang bermerek yang dimiliki oleh para seleb dan dipamerkan lewat acara TV dan media sosial. Ketika jutaan remaja lainnya hanya bisa meneteskan air liur melihat para seleb idola mereka menggunakan Loboutin, Louis Vitton, maka kelompok remaja ini secara impulsif (impulsifitas ini yang perlu digarisbawahi) ingin turut serta menggunakan barang tersebut.

Jika ditarik garis mundur dari impulsifitas melakukan tindakan-tindakan, yang mungkin mereka sendiri sadar bahwa itu adalah tindakan kriminal tapi tidak-terlalu-kriminal-karena-mereka-mencuri-dari-orang-kaya, maka ada banyak faktor penyebab. Obsesi terhadap ikon pop jelas menjadi satu faktor, namun social peer-pressure menjadi faktor yang signifikan juga. Ketika ada tuntutan tidak tertulis untuk selalu tampil gaya dalam setiap acara sosial (sekolah, partying, nongkrong bareng, dll), maka tekanan itu akan terus ada setiap saat. Belum lagi budaya media sosial yang dapat dengan mudahnya menjadikan semua orang untuk memamerkan status sosial mereka lewat status di FB dan Twitter. Media sosial pun menjadi jalan pintas untuk mempertunjukkan aktivitas sosial, dan sangat membantu bagi orang-orang yang terjebak sebagai social climber.


Lalu dimana jembatan antara impulsifitas - pop icon obsession social peer pressure dengan tema keterisolasian yang biasa diangkat oleh Sofia Coppola? Jelas sudah bahwa alienasi ini menjadi akar permasalahan dari faktor-faktor penyebab tadi. Di dalam film, beberapa kali digambarkan bagaimana kondisi keluarga dari beberapa anggota The Bling Ring ini. Ada yang memang memiliki hubungan dan komunikasi yang baik antara anak dengan orang tua, tapi sangat tidak memperhatikan perkembangan mental si anak. Sampai pada tahap ekstrim, selalu ditinggal pergi oleh orang tuanya yang sibuk bekerja, yang kebetulan dialami oleh si "gang leader".

Dalam taraf film, Sofia Coppola dengan jelas, tepat, dan cenderung vulgar apa adanya untuk menggambarkan hal-hal diatas. Semua adegan, yang walau terkesan random, namun sangat menjelaskan pertanyaan-pertanyaan penonton mengenai mengapa dan kenapa. Coppola memang tidak menjawab itu dengan kalimat verbal berupa dialog, melainkan menyertakannya dalam bahasa gambar sehingga melempar tanggung jawab kepada penonton untuk mengais-ngais apa yang terjadi di layar.


Bahasa-bahasa gambar ini yang selalu kuat dalam film-filmnya Sofia Coppola. Bahasa gambar yang seakan-akan menciptakan jarak yang signifikan antara karakter yang ada di layar dengan penonton, sehingga penonton ditempatkan bukan dalam porsi mengalami apa yang dialami oleh karakter, tetapi sebagai pengamat. Jarak ini diciptakan jelas lewat ketiadaan emosi yang ada di layar, yang bahkan terkadang menjadikan adegan yang disajikan terasa sunyi. Bahkan ada satu adegan one take long shot, yang menggambarkan dua remaja yang memasuki rumah salah satu seleb - mulai dari awal masuk hingga keluar membawa banyak barang - digambarkan dengan zoom in secara perlahan. Adegan ini yang jelas menunjukkan bahwa penonton diposisikan sebagai pengamat untuk mengamati - bahkan membahas - setiap tingkah laku sekecil apapun yang sedang dilakukan oleh karakter yang ada di layar.

Film-film Sofia Coppola memang tergolong film-film segmented audience, yang artinya memang hanya sebagian kecil penonton saja yang dapat menikmati filmnya dengan sangat baik. Menurut gue pribadi, film-film Sofia Coppola adalah film yang butuh untuk "didiamkan dulu" untuk beberapa saat setelah ditonton, baru kemudian dapat dibahas dengan baik. Secara keseluruhan, diluar kekurangan pada kedalaman karakter yang ditampilkan, film ini sangat menarik bagi gue sebagai bahan observasi dan tambahan pengetahuan pada isu sosial yang sedang berkembang saat ini.



USA | 2013 | Drama / Crime | 90 min | Aspect Ratio 1.85 : 1
Scene During Credits? TIDAK

Scene During Credits? TIDAK

Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 23 November 2013 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top