15 November 2013
0 kritik

Carrie

"Film ini menggambarkan kengerian dan teror dari kekuatan telekinesis milik remaja korban bullying, tetapi tidak menawarkan sesuatu yang baru"

Carrie White adalah seorang remaja penyendiri dan sering menjadi bahan olokan bagi teman-temannya di sekolah. Ketika Carrie mendapat haid pertama-nya dan tidak mengetahui apapun tentang darah yang keluar dari tubuhnya, seluruh sekolah pun mulai mengolok-oloknya. Ibunya yang sangat relijius pun tidak banyak membantu dan selalu berbicara tentang darah dan dosa. Di saat itu Carrie mulai menemukan bahwa dirinya memiliki kekuatan telekinesis yang dahsyat. Ketika dirinya diperlakukan terlalu jauh oleh teman-teman sekolahnya di pesta dansa, kesabaran Carrie pun  mencapai batasnya dan menaruh teror pada seluruh kota.

Lewat arahan sutradara Kimberly Pierce, film ini mencoba untuk membawa warna dan nuansa baru dari versi 1976. Berdasarkan novel Stephen King, film ini masih mengusung atmosfer kelam dan creepy. Atmosfer ini dibangun dengan baik oleh penampilan baik dari Julianne Moore sebagai ibu dari Carrie yang kelewat relijius dan cenderung posesif. Selain itu, rumah tua Carrie yang misterius pun turut membangun suasana dengan baik. Lewat drama yang cukup panjang, penonton pun akhirnya mendapatkan apa yang ditunggu-tunggu pada klimaks film. Yang mungkin beberapa pecinta horor dan slasher akan sedikit berteriak kecewa.



Entah apakah cerita karangan Stephen King yang ini sudah terlalu klasik sehingga tidak memberikan sesuatu yang baru, atau Carrie 2013 yang agak terjebak pada drama remaja AS kebanyakan dimana bullying menjadi tema utamanya. Film ini mencoba untuk mengawinkan dua tema utama ke dalam satu cerita; telekinesis dan drama remaja sekolah AS. Hasilnya memang film ini dapat dilihat menjadi entitas yang berbeda, namun lewat jalan cerita yang formulatik membuat film ini sangat mudah untuk ditebak kemana arah jalan ceritanya. Bahkan semenjak seperempat awal film pun, rasanya penonton manapun sudah dapat membayangkan bagaimana adegan klimaks dari film ini. Memang, adegan tersebut cukup mengesankan tetapi malah membuat drama dibelakangnya menjadi kurang penting dan seakan layak untuk di fast-forward.

Julianne Moore memang tampil mengesankan, dan mengerikan. Walaupun Carrie yang memiliki kekuatan telekinesis yang mengerikan, tapi tante Julianne Moore membuat karakter Margareth White menjadi sama mengerikannya dibanding anaknya. Sempat di beberapa adegan gue menaruh curiga bahwa ada yang salah pula dengan ibunya. Sementara Chloe Grace Moretz yang bertumbuh dewasa, semakin tidak bermasalah dengan darah. Yeah, dalam Let Me In (2010) ia membiarkan darah orang lain menempel pada tubuhnya. Dalam Carrie, batasan itu pun didorong lebih jauh. Aktingnya memang cukup dapat mengimbangi si senior Julianne Moore. Tapi sayang, gue agak sedikit terganggu melihat bagaimana gestur tubuhnya ketika dirinya sedang mengendalikan barang-barang disekitarnya.


Jika membicarakan mengenai telekinesis, masih ada film lain yang lebih baik dalam menggambarkan kemampuan ajaib tersebut - sebut saja Looper (2012). Namun memang dari awal, film Carrie menarik kemampuan telekinesis tersebut menjadi suatu kemampuan yang brutal dan penuh teror. Film ini memang hanya fokus pada bagaimana destruktifnya kemampuan tersebut, jika dimiliki oleh seorang remaja yang insecure dan didorong terlalu jauh oleh teman-teman sekolahnya. Tapi ya memang film ini hendak berbicara sampai situ saja, dan tidak menawarkan hal-hal baru kepada penontonnya.



USA | 2013 | Drama / Horror | 100 min | Aspect Ratio 2.35 : 1


Scene During Credits? TIDAK

Scene After Credits? TIDAK

Rating?
6 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 15 November 2013 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top