22 November 2013
0 kritik

Snowpiercer

"Film drama aksi tentang sisa manusia di bumi yang bertahan hidup di sebuah kereta ini tidak hanya menjanjikan banyak aksi, tapi juga kritik sosial yang keras"

Sebuah eksperimen untuk mencegah pemanasan global gagal total dan malah menjadikan seluruh bumi tertutup oleh salju dan kedinginan yang merata. Seorang pebisnis sekaligus ilmuwan pun menciptakan kereta dengan mesin abadi dan dapat menopang hidup manusia. Tahun 2031, 18 tahun sejak kereta tersebut pertama kali berjalan dan terus mengelilingi rel tanpa putus ke sekeliling dunia, perlahan kelas sosial pun tercipta di sebuah "negara" yang totaliter. Dengan dua pemberontakan yang pernah terjadi dan gagal, kini Curtis mencoba sebuah pemberontakan untuk mencapai gerbong paling depan, merebut mesin, dan membawa keadilan bagi sisa umat manusia yang berada di kereta tersebut.

Snowpiercer adalah kencan pertama gue dengan sutradara dan penulis naskah asal Korea Selatan, Bong Joon-Ho. Ternyata film berbahasa Inggris pertamanya ini adalah kencan pertama yang sempurna dan tak terbayangkan! Dengan aktor-aktris Hollywood kelas kakap macam Chris Evans, Jamie Bell, Tilda Swinton, John Hurt, gue pikir gue akan disajikan film action dan perjuangan kaum marjinal yang menuntut keadilan. Tak disangka, gue malah disajikan film yang sarat akan isu sosial dengan sistem pembagian kelas yang kaku, hingga kritik dystopia yang akut.


Walaupun banyak menggantungkan publisitas film ini pada aktor-aktris Hollywood, Joon-Ho jelas tidak lupa untuk mengangkat nama Korea Selatan. Aktor lokal Kang-Ho Song pun diberikan porsi yang banyak dan signifikan dalam jalan cerita, sebagai ahli keamanan kereta yang dipenjara dan ikut memberontak. Karakternya pun tetap diberikan kesempatan untuk berdialog dengan bahasa Korea, dijembatani oleh alat penerjemah ala Star Trek itu. Melihat karakter-karakter lain yang berasal dari berbagai negara dalam film ini juga semakin meningkatkan suasana film ini bahwa benar inilah dystopia masa depan dimana manusia dari segala bangsa berkumpul dan bertahan hidup. 

Film yang berdasarkan novel grafis asal Perancis, Le Transperceneige, ini berbicara jauh lebih banyak ketimbang pemberontakan kelas bawah terhadap kelas atas yang ada dalam The Hunger Games. Kereta dengan mesin abadi yang berjalan mengitari bumi tanpa henti ini menjadi Zion atau tempat perlindungan terakhir bagi sisa manusia yang selamat dari bencana ekologi. Bayangkan saja, manusia dari berbagai negara, dari berbagai latar belakang ekonomi dan sosial, dipadatkan menjadi satu di kereta yang sempit dan panjang. Jelas perbedaan kelas pun akan semakin terasa dan menegang. Dengan sumber daya alam yang terbatas, keseimbangan pun tetap harus terjaga agar sumber daya tersebut dapat terus menopang hajat hidup sisa manusia terakhir yang ada di bumi. Termasuk juga keseimbangan populasi manusia. Jadi bagaimana caranya untuk menjaga keseimbangan populasi manusia agar tidak berlebih? Hmmm...


Meski Snowpiercer sarat akan kritik sosial yang vulgar dan ekstrim, Joon-Ho tetap tidak lupa untuk menyajikan sederet adegan aksi yang menghibur penonton. Ditambah dengan efek visual yang menakjubkan, Joon-Ho hendak memberikan segelintir pemandangan bumi yang membeku ala The Day After Tomorrow dari balik jendela kereta. Lewat drama pemberontakan yang panjang dan menguras emosi, klimaks pada film ini pun mencapai puncaknya dengan maksimal. Memberi ending yang kuat dan paling bijaksana untuk menutup kisah hidup sisa pengungsi bumi dalam kereta ini.


South Korea | 2013 | Action / Drama / Sci-Fi |  126 min | Aspect Ratio 1.85 : 1

Rating?
8 dari 10

Scene During Credits? TIDAK

Scene After Credits? TIDAK


sobekan tiket bioskop tanggal 22 November 2013 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top