23 November 2013
2 kritik

12 Years a Slave

"Dibungkus dengan sinematografi yang indah, film yang berdasarkan kisah nyata ini bercerita dengan jujur dan vulgar dan menyajikan kekerasan yang grafis tentang perbudakan di AS"

Berdasarkan kisah nyata dan pengalaman pribadi seorang kulit hitam di Amerika yang terjebak dalam perbudakan. Di tahun 1800-an, Solomon Northup seorang kulit hitam yang hidup bebas sebagai pemain biola professional dan hidup bahagia bersama istri dan kedua anaknya di New York. Suatu ketika, Solomon diculik oleh sindikat perbudakan, dikirim dan dijual ke bagian selatan Amerika. Dengan data diri yang dipalsukan, Solomon pun harus bertahan hidup dari kondisi perbudakan sadis. Dari satu majikan ke majikan lainnya yang terbilang cukup kejam, Solomon harus mempertahankan harga dirinya sebagai manusia selama 12 tahun menjadi budak.

12 Years a Slave adalah sebuah film yang sangat "mengerikan" untuk ditonton. Jelas tema utama film ini adalah perbudakan yang terjadi di AS pada abad ke-18, sebuah pondasi kuat bagi diskriminasi ras terhadap kulit hitam yang masih terjadi pada era modern saat ini. Yang membuat film ini begitu "mengerikan" untuk ditonton adalah karena betapa jujur dan apa adanya film ini menggambarkan kekejaman dan kesadisan macam apa yang dialami oleh para budak kulit hitam. Ditambah lagi bahwa ini benar-benar terjadi secara nyata!




Menonton film ini mungkin ekuivalen dengan menonton The Passion of the Christ (2004) yang begitu grafis dalam memperlihatkan kekerasan. Dalam 12 Years a Slave, penonton dipaksa untuk melihat bagaimana seorang budak wanita diperkosa oleh tuannya, atau ketika ia ditelanjangi dan dicambuk hingga daging-dagingnya terkoyak. Masih ada lagi adegan dehumanisasi ketika seorang pedagang budak yang menjual budak-budaknya yang diperlihatkan tanpa busana dari ujung kaki hingga ujung kepala. Mungkin saja ada sebagian penonton (kulit putih mungkin) yang akan membenci potret yang digambarkan dalam film ini, yang mungkin pararel dengan kaum Yahudi yang membenci The Passion of the Christ. Intinya, sutradara Steve McQueen (Shame, Hunger) ingin memperlihatkan kepada dunia bahwa inilah yang nyata terjadi dan dialami oleh para budak; ketika manusia dilahirkan, dibesarkan, dan diperlakukan layaknya sebagai "properti" atau barang.

Selain konten kekerasan yang sangat grafis, film ini juga diberkahi oleh deretan pemeran yang luar biasa dan dengan penampilan yang sempurna dari masing-masing pemerannya. Benedict Cumberbatch dan Michael Fassbender tampil nyaris tanpa cela sebagai tuan tanah dan majikan budak. Bagi yang mengidolakan Fassbender, bersiap saja untuk mengekspresikan raut pahit dan benci melihat penampilannya dalam film ini. Ditambah lagi dengan penampilan Paul Giamatti dan Paul Dano yang juga akan dapat dengan mudah menggiring penonton untuk membenci mereka. Haha!


Namun pujian dan puluhan tangkai bunga mawar patut diarahkan kepada Chiwetel Ejiofor sebagai Solomon Northup. Berperan sebagai seorang budak yang akan dicambuk atau dihukum ketika mengekspresikan apa yang dipikirkan dan dirasakan, Ejiofor menjawab itu semua lewat komunikasi non-verbal. Ekspresi dan tatapan mata yang nanar sangat menggambarkan kompleksnya pikiran dan perasaan yang sedang dialaminya, membiarkan penonton untuk mengisinya dengan interpretasi yang ditangkap oleh masing-masing individu. 

Special mention juga untuk Lupita Nyong'o yang berperan sebagai Patsy, budak wanita yang menjadi bulan-bulanan sang majikan. Patsy ini seakan cermin dari karakter Solomon, dimana mereka berdua berada di satu garis spektrum yang sama namun berbeda kutub. Sama-sama menjadi korban tertindas, namun Patsy dan Solomon menyikapinya dengan cara yang berbeda. Jika Solomon berusaha keras untuk menerima keadaan dan hidup semaksimal mungkin, maka Patsy ada dalam garis spektrum yang tidak lagi sanggup menerima kenyataan hidup. Nah, bagi seorang aktris yang baru pertama kali akting di film panjang, penampilan Lupita Nyong'o patut diberi pujian setinggi mungkin. Ia dapat menghipnotis penonton dengan memberikan gambaran karakter yang menyimpan kepedihan yang tidak terbayangkan, baik secara fisik maupun psikis.


Secara keseluruhan, 12 Years a Slave unggul pada konten yang dibawakan. Dibungkus dengan sinematografi dan bahasa gambar yang sangat artistik dan indah, menjadikan film ini sangat enak untuk dinikmati - terlepas dari kekerasan grafis yang ditampilkan. Ditambah dengan iringan orkestrasi dari Hans Zimmer, sangat efektif dalam menaikkan tensi setiap adegan yang ada. Dengan berbagai penghargaan yang telah diterima di berbagai film festival di seluruh dunia, Steve McQueen dan kawan-kawan harus bersiap-siap pula dengan berbagai nominasi Oscar 2014 yang akan diterimanya.


USA | 2013 | Biography / Drama / History | 134 min | Aspect Ratio 2.35 : 1

Scene During Credits? TIDAK

Scene After Credits? TIDAK

Rating?
9 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 23 November 2013 -


BONUS: cerita asli dari Solomon Northup bisa dibaca disini

Won for Best Motion Picture, Best Supporting Actress (Lupita Nyong'o), Best Adapted Screenplay, Nominated for Best Actor (Chiwetel Ejiofor), Best Supporting Actor (Michael Fassbender), Best Director (Steve McQueen), Best Costume Design, Best Film Editing, Best Production Design, Academy Awards, 2014.

Won for Best Motion Picture - Drama, Nominated for Best Actor (Chiwetel Ejiofor), Best Supporting Actor (Michael Fassbender), Best Supporting Actress (Lupita Nyong'o), Best Director (Steve McQueen), Best Screenplay (John Ridley), Best Original Score (Hans Zimmer), Golden Globes, 2014

Nominated for Best Adapted Screenplay, Best Film, Best Actor, Best Supporting Actor, Best Supporting Actress, Best Cinematography, Best Editing, Best Production Design, Best Director, BAFTA, 2014

2 kritik:

  1. hwaaa...im dying to watch this, and unfortunately...ga sempet liat di jiffest tempo hari
    Kayanya dari review agan, ni filmbakal layak banget buat menang..and semoga Fassy juga dapat best supporting actor-nya setelah disnubbed mulu kemaren2

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya semoga Fassbender menang ya! walaupun lawan2nya cukup berat tampaknya. BTW ini film udah pernah nongol di midnight show tapi hilang lagi. lagi sibuk nyensor kayaknya ahahaha

      Delete

 
Toggle Footer
Top