15 April 2011
2 kritik

Sucker Punch

7:23 AM
Sobekan tiket bioskop tertanggal 14 April 2011 adalah Sucker Punch. Melihat trailernya sekitar lebih dari setengah tahun yang lalu, film ini pun masuk dalam daftar film yang paling gue tunggu-tunggu dalam tahun ini. Visionary-director Zack Snyder yang sukses membawa mayat hidup yang berjalan di atas bumi, prajurit-prajurit Spartan yang gagah berani, superheroes yang mencari arti dari kata "super", dan terakhir para burung hantu yang berperang satu sama lain.

Seorang anak gadis berusia 20 tahun (Emily Browning) dikirim secara paksa oleh ayah tirinya ke sebuah institusi rumah sakit jiwa khusus wanita. Tertekan karena masa lalunya yang kelam dan perasaan bersalah ditambah dengan ancaman lobotomy, anak gadis tersebut yang kemudian dipanggil sebagai Baby Doll, menggunakan alam imajinasinya yang liar sebagai alat pelarian dari kenyataan pahit yang terjadi. Disaat garis batas antara kenyataan dan imajinasi pun menjadi kabur, Baby Doll bersama keempat kawan barunya harus mengumpulkan lima benda untuk kabur dari institusi tersebut sebelum semuanya terlambat.

Wow! Beruntung gue datang dengan ekspektasi serendah mungkin setelah membaca berbagai review kurang positif mengenai film ini. Hasilnya, gue terhibur! Ya, film yang memanjakan mata dan telinga ini kira-kira telah memenuhi tujuan awal Zack Snyder dalam membuat film ini; menghibur! Film pertama Snyder dengan ide cerita dan naskah garapan sendiri, yang digadang-gadang sebagai "Alice in wonderland with machine guns". Tapi menurut gue, film ini lebih ke arah "Kill Bill in the Shutter Island". Cerita kabur dari sebuah tempat yang dijaga ketat memang sudah malang melintang di dunia perfilman, tapi Snyder berhasil mengemas cerita ini dengan sangat menarik. Lebih jauh dari itu, rasanya Snyder ingin menyampaikan pesan lain yang tersembunyi di balik jalan cerita film ini.

Sepuluh menit pertama film ini cukup membuat gue merasa terjamin bahwa eksekusi film a la Snyder sampai frame terakhir akan menjadi mewah. Narasi tanpa dialog, adegan slow-motion, soundtrack yang menggelegar, serta sinematografi yang menarik seakan menjanjikan bahwa film ini akan memanjakan mata dan telinga. Entah bagaimana, adegan awal ini banyak mengingatkan gue akan Watchmen.
gambar diambil dari sini
Selain visual efek yang megah dan memang menjadi andalan Snyder, gue sangat jatuh cinta dengan setiap soundtrack yang digunakan dalam film ini. Diaransemen oleh Marius De Vries dan Tyler Bates, setiap komposisi lagu baik instrumental maupun vokal benar-benar melengkapi adegan seakan lingkaran hitam putih yin-yang. Mungkin ini juga kontribusi dari Tyler Bates yang selalu menjadi langganan Snyder untuk menjadi composer dalam setiap film-filmnya, yang sukses bereksperimen mencampurkan efek digital dalam setiap komposisinya. Yang jelas, gue suka remix mereka terhadap track Bjork - Army of Me dan Queen - We Will Rock You khusus untuk film ini. Oya, mungkin anda tidak akan mengenali suaranya, tetapi Emily Browning sendiri bernyanyi untuk beberapa soundtrack dalam film ini.

Di segi akting, praktis tidak ada yang menonjol karena semua penampilan cast seakan tenggelam dengan penampilan visual efek yang mewah. Emily Browning yang kembali setelah 7 tahun absen akting di layar lebar semenjak Lemony Snicket's, tampil datar dan tanpa kedalaman karakter yang berarti. Tapi memang manisnya Browning engga nahan, memang layak karakternya dinamakan Baby Doll. Keputusan tepat untuk mengubah warna rambut asli Browning dari coklat gelap menjadi pirang, untuk menghidupkan karakter lemah dan polos dari Baby Doll. Setiap penampilan dia sengaja gitu dibuat efek glowy sehingga menambah gravitasi cerita ada pada karakternya. Misi Vanessa Hudgens untuk menghilangkan citra diri High School Musical yang melekat pada dia tampaknya cukup berhasil dengan karakter macho, walaupun proporsinya tidak banyak. Abbie Cornish yang mendapatkan proporsi lebih banyak daripada karakter-karakter pendukung lainnya praktis tampil biasa saja dan menurut gue karakternya malah tenggelam dengan karakter adiknya, yang diperankan dengan baik oleh  Jena Malone.
gambar diambil dari sini
Ijinkan gue untuk membahas film ini lebih dalam. Gue tertarik dengan teknik mind-control post-trauma yang digunakan film ini untuk menciptakan disasosiasi dengan kenyataan (pahit) yang sedang dialam. Teknik ini dikenalkan di awal film oleh karakter Dr. Gorski, yang menyuruh para pasiennya untuk berdansa dengan menyelami musik dan menciptakan dunia sendiri di dalam kepalanya. Teknik ini berguna untuk membuat pengalaman pahit di alam nyata menjadi diterima dengan lebih baik di dalam kepala dengan menciptakan kondisi utopia di alam imajinasi. Contoh gampangnya adalah ketika kita mulai putus asa dalam menghadapi soal ujian matematika yang sulit, dengan teknik mind-control yang tepat maka kita dapat menganggap soal ujian tersebut adalah permainan RPG yang menantang. Nah contoh ekstrimnya ada dalam film ini, ketika Dr. Gorski mencoba membantu para penghuni institusi untuk dapat lebih baik menerima kenyataan pahit kehidupan di dalam rumah sakit jiwa, dengan melatih mereka untuk menciptakan dan menjalani alam utopia di dalam kepalanya dengan media dansa dan lagu. Ide ini seakan memancing diskusi bahwa teknik mind-control - dalam skala tertentu - terkadang dapat membantu kita untuk menginterpretasikan kembali alam nyata kita menjadi lebih baik, untuk kemudian menjalani kenyataan dengan cara pandang baru dan mampu mengatasi permasalahan yang ada.

Lebih jauh lagi, Snyder seakan ingin mengingatkan betapa praktek lobotomy yang berjalan selama lebih dari dua dekade semenjak 1935 adalah teknik penyembuhan yang kontroversial dan tidak manusiawi. Praktek lobotomy di dunia perfilman memang bukan barang baru, namun Snyder ingin menawarkan sesuatu yang baru; apa yang terjadi dalam pikiran seseorang saat sebelum dan sesudah praktek lobotomy? Diskusi ini menjadi menarik kalau penonton benar-benar mencermati setiap plot yang terjadi dan tidak begitu saja terbius dengan parade visual efek adegan action setiap alam imajinasi yang ada dalam film ini.
gambar diambil dari sini
Film action Hollywood semata? Mengingat perjalanan karir seorang Zack Snyder, apalagi bermodal Watchmen, rasanya gue tidak akan terlalu gegabah untuk mencap film ini sebagai popcorn movie biasa. Menurut gue, adegan-adegan action dan teknik marketing dari film ini hanyalah bagaimana Snyder belajar dari kesalahan Watchmen yang terlanjur menumbuhkan ekspektasi penonton di awal akan film action.

Rating?
8 dari 10





Bonus:
Empat film animasi pendek yang menjelaskan latar belakang dari setiap alam imajinasi yang ada dalam film ini.
Sucker Punch - Animated Short: Feudal Warriors
Sucker Punch - Animated Short: The Trenches
Sucker Punch - Animated Short: Medieval Dragon
Sucker Punch - Animated Short: Distant Planet

2 kritik:

  1. wowww... ngerii analisanya.. TOP !!

    ReplyDelete
  2. Salut deh ampe seteliti gitu. :)

    Tapi memang bener ko, kayanya Zack Snyder pengen mengutarakan "maksud lain" lewat cerita dan visualisasi di film ini.

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top