Seorang anak gadis berusia 20 tahun (Emily Browning) dikirim secara paksa oleh ayah tirinya ke sebuah institusi rumah sakit jiwa khusus wanita. Tertekan karena masa lalunya yang kelam dan perasaan bersalah ditambah dengan ancaman lobotomy, anak gadis tersebut yang kemudian dipanggil sebagai Baby Doll, menggunakan alam imajinasinya yang liar sebagai alat pelarian dari kenyataan pahit yang terjadi. Disaat garis batas antara kenyataan dan imajinasi pun menjadi kabur, Baby Doll bersama keempat kawan barunya harus mengumpulkan lima benda untuk kabur dari institusi tersebut sebelum semuanya terlambat.
Wow! Beruntung gue datang dengan ekspektasi serendah mungkin setelah membaca berbagai review kurang positif mengenai film ini. Hasilnya, gue terhibur! Ya, film yang memanjakan mata dan telinga ini kira-kira telah memenuhi tujuan awal Zack Snyder dalam membuat film ini; menghibur! Film pertama Snyder dengan ide cerita dan naskah garapan sendiri, yang digadang-gadang sebagai "Alice in wonderland with machine guns". Tapi menurut gue, film ini lebih ke arah "Kill Bill in the Shutter Island". Cerita kabur dari sebuah tempat yang dijaga ketat memang sudah malang melintang di dunia perfilman, tapi Snyder berhasil mengemas cerita ini dengan sangat menarik. Lebih jauh dari itu, rasanya Snyder ingin menyampaikan pesan lain yang tersembunyi di balik jalan cerita film ini.
Sepuluh menit pertama film ini cukup membuat gue merasa terjamin bahwa eksekusi film a la Snyder sampai frame terakhir akan menjadi mewah. Narasi tanpa dialog, adegan slow-motion, soundtrack yang menggelegar, serta sinematografi yang menarik seakan menjanjikan bahwa film ini akan memanjakan mata dan telinga. Entah bagaimana, adegan awal ini banyak mengingatkan gue akan Watchmen.
![]() |
| gambar diambil dari sini |
Di segi akting, praktis tidak ada yang menonjol karena semua penampilan cast seakan tenggelam dengan penampilan visual efek yang mewah. Emily Browning yang kembali setelah 7 tahun absen akting di layar lebar semenjak Lemony Snicket's, tampil datar dan tanpa kedalaman karakter yang berarti. Tapi memang manisnya Browning engga nahan, memang layak karakternya dinamakan Baby Doll. Keputusan tepat untuk mengubah warna rambut asli Browning dari coklat gelap menjadi pirang, untuk menghidupkan karakter lemah dan polos dari Baby Doll. Setiap penampilan dia sengaja gitu dibuat efek glowy sehingga menambah gravitasi cerita ada pada karakternya. Misi Vanessa Hudgens untuk menghilangkan citra diri High School Musical yang melekat pada dia tampaknya cukup berhasil dengan karakter macho, walaupun proporsinya tidak banyak. Abbie Cornish yang mendapatkan proporsi lebih banyak daripada karakter-karakter pendukung lainnya praktis tampil biasa saja dan menurut gue karakternya malah tenggelam dengan karakter adiknya, yang diperankan dengan baik oleh Jena Malone.
![]() |
| gambar diambil dari sini |
Lebih jauh lagi, Snyder seakan ingin mengingatkan betapa praktek lobotomy yang berjalan selama lebih dari dua dekade semenjak 1935 adalah teknik penyembuhan yang kontroversial dan tidak manusiawi. Praktek lobotomy di dunia perfilman memang bukan barang baru, namun Snyder ingin menawarkan sesuatu yang baru; apa yang terjadi dalam pikiran seseorang saat sebelum dan sesudah praktek lobotomy? Diskusi ini menjadi menarik kalau penonton benar-benar mencermati setiap plot yang terjadi dan tidak begitu saja terbius dengan parade visual efek adegan action setiap alam imajinasi yang ada dalam film ini.
![]() |
| gambar diambil dari sini |
Rating?
8 dari 10
Bonus:
Empat film animasi pendek yang menjelaskan latar belakang dari setiap alam imajinasi yang ada dalam film ini.
Sucker Punch - Animated Short: Feudal Warriors
Sucker Punch - Animated Short: The Trenches
Sucker Punch - Animated Short: Medieval Dragon
Sucker Punch - Animated Short: Distant Planet





wowww... ngerii analisanya.. TOP !!
ReplyDeleteSalut deh ampe seteliti gitu. :)
ReplyDeleteTapi memang bener ko, kayanya Zack Snyder pengen mengutarakan "maksud lain" lewat cerita dan visualisasi di film ini.