16 April 2011
4 kritik

Scream 4

6:32 AM
Sobekan tiket bioskop tertanggal 15 April 2011 adalah Scream 4. Jujur gue rada mencibir setelah tahu bahwa mereka ternyata membuat sekuel keempat dari trilogi Scream. Entah ya, tapi bagi gue sendiri gue sangat menikmati Scream original yang dirilis tahun 1996 dan tidak menikmati Scream 2 (1997) bahkan gue sampai sengaja melewatkan Scream 3 (2000). Btw, Wes Craven yang menyutradari trilogi Scream kembali duduk di sutradara untuk franchise keempat film ini.

Sidney Prescott (Neve Campbell), kembali ke Woodsboro sebagai kota terakhir tur promosi buku barunya. Kunjungannya sekaligus bersilaturahmi dengan Dewey (David Arquette) dan Gale (Courtney Cox) yang telah menikah, dan juga mengunjungi sepupunya Jill (Emma Roberts). Sayangnya, kedatangan Sidney mengundang kembalinya si pembunuh Ghostface untuk beraksi dan mengancam keselamatan semua orang yang ada di sekitar Sidney.

Gue berusaha keras untuk menikmati thriller dan horor yang disajikan oleh film ini, tapi entah kenapa yang hanya mengena di gue hanyalah slasher darah-darahan yang memang menjadi keahlian dari Wes Craven. Misteri yang ditawarkan pada jalan cerita, tak ubahnya seakan remake atau reboot dari Scream originalnya. Dalam artian lain, tidak ada hal yang baru dalam franchise keempat ini kecuali daging dan darah baru yang siap untuk dibantai. Emma Roberts dan Hayden Panettiere pun tercatat sebagai salah dua kekuatan film ini. Kabar baiknya, ketiga pemeran utama kita semenjak Scream 1996 (Campbell, Arquette, Cox) mau untuk bermain kembali dalam film ini. Dengan kembalinya mereka, franchise Scream menjadi satu-satunya franchise film horor dimana semua karakter utamanya hadir di setiap sekuel.

Benar ya, jualan utama film ini yang adalah ketegangan dan kaget-kagetan, sama sekali tidak gue rasakan. Setiap kali adegan kaget-kagetan, yang bikin gue kaget malah orang yang duduk di sebelah kiri gue yang kagetnya heboh banget, mana cowo pula (-_-'). Adegan kagetannya juga ya standar saja, hanya bermain di score dan sinematografi yang rata-rata "kemunculannya" bisa gue tebak. Selain itu entah kenapa ya, setiap dialog yang ada di film ini kalau engga cheesy-apa-sih, ya klise. Padahal naskah kembali ditangani oleh Kevin Williamson yang juga menangani Scream dan Scream 2. Bukan hanya dialog, tetapi juga jalannya plot cerita dan "kebodohan" setiap karakter akan keputusannya menghindari kejaran Ghostface (yang membuat banyak penonton gregetan nyeletuk "ngapain sih lo keluaaaaar??"). Tapi kalau "rule" film horor memang begini, berarti memang guenya saja yang tidak cocok dengan gaya penceritaan seperti ini. Gue juga tidak bisa melepaskan image Scary Movie yang sudah tertempel lama dan kuat dalam kepala ketika gue menikmati film ini. Malah menurut gue, film ini malah menjadi parodi bagi filmnya sendiri. Belum lagi endingnya yang, hadeh, Hollywood sekaleee.
gambar diambil dari sini
Tapi setidaknya, gue cukup terhibur dengan penampilan Emma Roberts yang manisnya aduhai, dan Hayden Panettiere yang dibuat berpenampilan tomboy disini. Diantara kedua bintang muda yang baru bersinar ini, entah kenapa penampilan Panettiere lebih baik dalam menghayati karakternya. Mungkin karena Panettiere memainkan karakter yang cukup berbeda dari film-film dia sebelumnya, tapi selain itu dia juga memperlihatkan kedalaman tersendiri dalam memerankan Kirby yang cuek dan impulsif. Sayang Roberts terjebak dalam karakter "anak manis" nan lugu, bahkan penampilannya di klimaks pun menurut gue kurang maksimal dan terlihat minim pengalaman. Gue masih lebih suka akting dia di It's Kind of a Funny Story (2010).

Asiknya kalau nonton ini sih rame-rame. Beruntung tadi bioskop yang gue tempati penuh, jadi nontonnya seru gitu pada teriak-teriak. Pas pembunuhnya mati pun sampe pada tepuk tangan, buset dah ini abg-abg yakkk! Tapi yah memang die-hard fans Scream pasti akan suka dengan sekuel keempat ini. Rasanya cukup lah yah sampai empat saja, Oom Craven? Ya? Please?
gambar diambil dari sini
Oya, gue engga tahan untuk berkomentar tentang tagline yang diusung oleh film ini. New Decade, New Rules. New Decade; memang pas untuk generasi anak muda masa kini, yang notabene berbeda dengan generasi anak muda 15 tahun lalu ketika Scream original dirilis. Nah kalau New Rules; new rules my ass! ;p

Rating?
6 dari 10

4 kritik:

  1. Dr awal gw ga srek liat si Hayden itu, tp ternyata emang dia aktingnya yg paling bagus ternyata di antar gadis2 baru di film ini.

    Tp sebelum nonton ekspetasi gw emang udah buat fun2 dan film konyol2an, alhasil bukannya kaget atau scream, malah ngakak sendiri di theatre.

    Salah satu adegannya ngingetin sama adegan di Fight Club.

    ReplyDelete
  2. iya ekspektasi memang penting yah. ekspektasi gue udah ngarepin serem2an sih, jadi ga dapet deh.
    eh adegan mana tuh yang mirip sama Fight Club?

    ReplyDelete
  3. ada adegan di Fight Club dmn si Edward Norton mukulin dirinya sendiri di depan bosnya spy org percaya dia victimnya. Mirip sama salah satu adegan di Scre4m. Kocak banget ngeliatnya.

    ReplyDelete
  4. oya betuuul! pantas saja di adegan itu, gue mikirnya "kok mirip film lain, tapi apaaa gitu". di scream 1 atau 2 juga begitu kan yah kalo gue ga salah ingat?

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top