Sidney Prescott (Neve Campbell), kembali ke Woodsboro sebagai kota terakhir tur promosi buku barunya. Kunjungannya sekaligus bersilaturahmi dengan Dewey (David Arquette) dan Gale (Courtney Cox) yang telah menikah, dan juga mengunjungi sepupunya Jill (Emma Roberts). Sayangnya, kedatangan Sidney mengundang kembalinya si pembunuh Ghostface untuk beraksi dan mengancam keselamatan semua orang yang ada di sekitar Sidney.
Gue berusaha keras untuk menikmati thriller dan horor yang disajikan oleh film ini, tapi entah kenapa yang hanya mengena di gue hanyalah slasher darah-darahan yang memang menjadi keahlian dari Wes Craven. Misteri yang ditawarkan pada jalan cerita, tak ubahnya seakan remake atau reboot dari Scream originalnya. Dalam artian lain, tidak ada hal yang baru dalam franchise keempat ini kecuali daging dan darah baru yang siap untuk dibantai. Emma Roberts dan Hayden Panettiere pun tercatat sebagai salah dua kekuatan film ini. Kabar baiknya, ketiga pemeran utama kita semenjak Scream 1996 (Campbell, Arquette, Cox) mau untuk bermain kembali dalam film ini. Dengan kembalinya mereka, franchise Scream menjadi satu-satunya franchise film horor dimana semua karakter utamanya hadir di setiap sekuel.
Benar ya, jualan utama film ini yang adalah ketegangan dan kaget-kagetan, sama sekali tidak gue rasakan. Setiap kali adegan kaget-kagetan, yang bikin gue kaget malah orang yang duduk di sebelah kiri gue yang kagetnya heboh banget, mana cowo pula (-_-'). Adegan kagetannya juga ya standar saja, hanya bermain di score dan sinematografi yang rata-rata "kemunculannya" bisa gue tebak. Selain itu entah kenapa ya, setiap dialog yang ada di film ini kalau engga cheesy-apa-sih, ya klise. Padahal naskah kembali ditangani oleh Kevin Williamson yang juga menangani Scream dan Scream 2. Bukan hanya dialog, tetapi juga jalannya plot cerita dan "kebodohan" setiap karakter akan keputusannya menghindari kejaran Ghostface (yang membuat banyak penonton gregetan nyeletuk "ngapain sih lo keluaaaaar??"). Tapi kalau "rule" film horor memang begini, berarti memang guenya saja yang tidak cocok dengan gaya penceritaan seperti ini. Gue juga tidak bisa melepaskan image Scary Movie yang sudah tertempel lama dan kuat dalam kepala ketika gue menikmati film ini. Malah menurut gue, film ini malah menjadi parodi bagi filmnya sendiri. Belum lagi endingnya yang, hadeh, Hollywood sekaleee.
![]() |
| gambar diambil dari sini |
Asiknya kalau nonton ini sih rame-rame. Beruntung tadi bioskop yang gue tempati penuh, jadi nontonnya seru gitu pada teriak-teriak. Pas pembunuhnya mati pun sampe pada tepuk tangan, buset dah ini abg-abg yakkk! Tapi yah memang die-hard fans Scream pasti akan suka dengan sekuel keempat ini. Rasanya cukup lah yah sampai empat saja, Oom Craven? Ya? Please?
![]() |
| gambar diambil dari sini |
Rating?
6 dari 10




Dr awal gw ga srek liat si Hayden itu, tp ternyata emang dia aktingnya yg paling bagus ternyata di antar gadis2 baru di film ini.
ReplyDeleteTp sebelum nonton ekspetasi gw emang udah buat fun2 dan film konyol2an, alhasil bukannya kaget atau scream, malah ngakak sendiri di theatre.
Salah satu adegannya ngingetin sama adegan di Fight Club.
iya ekspektasi memang penting yah. ekspektasi gue udah ngarepin serem2an sih, jadi ga dapet deh.
ReplyDeleteeh adegan mana tuh yang mirip sama Fight Club?
ada adegan di Fight Club dmn si Edward Norton mukulin dirinya sendiri di depan bosnya spy org percaya dia victimnya. Mirip sama salah satu adegan di Scre4m. Kocak banget ngeliatnya.
ReplyDeleteoya betuuul! pantas saja di adegan itu, gue mikirnya "kok mirip film lain, tapi apaaa gitu". di scream 1 atau 2 juga begitu kan yah kalo gue ga salah ingat?
ReplyDelete