12 March 2017
One kritik

Silence

"Drama yang mengupas keraguan akan iman dan keyakinan yang dibungkus dengan sangat indah dan cantik"

Kisah romo Jesuit yang bertugas untuk mencari mentor mereka yang menghilang di Jepang. Namun di abad ke-17, agama Katolik masih dilarang dan para pengikut serta para romo diburu dan ditindas oleh penguasa. Praktik yang terjadi adalah, para umat dan romo dipaksa untuk menginjak gambar Yesus sebagai simbol mereka tidak mengakui kepercayaannya. Perjalanan Romo Rodrigues dan Romo Garupe pun tidak lebih berat ketimbang iman dan keyakinan mereka yang berada dalam ujian terberat.

Karya terbaru sutradara dan penulis naskah Martin Scorsese ini jelas yang paling dinantikan. Terjebak dalam production hell selama kurang lebih 30 tahun, akhirnya proyek idealisme opung Scorsese bisa rampung tanpa campur tangan komersialisme studio-studio besar. Hasilnya jelas sebuah karya seni yang sangat powerful dalam menyampaikan setiap pesannya. Diimbangi dengan kekuatan akting para pemerannya yang sangat meyakinkan, menjadikan setiap perenungan dalam film ini tidak selesai begitu saja ketika lampu bioskop kembali menyala.

Diangkat dari novel Shusaku Endo berjudul sama yang dirilis tahun 1966, kisah dua romo ini memang kisah biografi fiktif tetapi dibuat berdasarkan kejadian nyata yang terjadi selama abad ke-17 di Jepang. Apalagi dengan melihat metode-metode penyiksaan yang dilakukan oleh penguasa Jepang pada masa itu, sanggup membuat geleng-geleng kepala sambil menelan ludah. Benar-benar penggambaran penyiksaan manusia yang termasuk paling sadis yang pernah digambarkan dalam sebuah film populer. Perjalanan kedua romo kita memang cenderung depresif, tetapi semua itu diimbangi dengan sinematografi dan atmosfer hening yang sangat indah dan cantik.


Tetapi bukanlah penyiksaan fisik yang menjadi cara penyiksaan yang paling sadis, tetapi penyiksaan mental dan rohani yang menjadi highlight utama dalam Silence. Jepang feodalisme pada masa itu memang dipimpin oleh Inoue yang seorang mantan Samurai, dan sangat menentang kehadiran orang-orang Barat yang bermaksud di luar berdagang. Penyebaran agama Katolik dianggap menganggu budaya Jepang yang banyak memeluk agama Buddha dan menyembah dewa matahari. Belum lagi penyebaran agama yang lambat laun bisa digunakan sebagai modal untuk penjajahan kaum Eropa di Asia. Metode "mencabut akar" dari penyebaran agama Katolik ini pun menjadi metode yang paling cerdas, sekaligus paling sadis untuk merenggut iman dan keyakinan pada misionaris yang datang dari Eropa.

Silence memang menjadi film yang sangat personal bagi Martin Scorsese, terutama dalam hal iman dan keyakinannya sebagai mantan seminaris (sekolah bagi para pastor). Lewat tangan dan mata seseorang semacam Scorsese, film ini juga bisa menjadi sangat personal bagi para penontonnya. Nuansa Katolik memang sangat kental dalam film ini, apalagi ada beberapa adegan yang sangat terbuka menggambarkan debat tentang iman dan keyakinan. Tema besarnya memang keraguan, yang memang menjadi sisi lain dari koin sebuah iman. Sebuah tema yang sangat universal apapun agamanya, terutama pertanyaan semacam di mana Tuhan ketika derita selalu muncul tiada akhir. Jeniusnya, film ini bukanlah sebuah kotbah misa Mingguan dengan rentetan jawaban. Silence, lewat setiap karakternya, selalu melemparkan pertanyaan tentang Tuhan, tanpa perlu menjawabnya secara blak-blakan. Sebuah penyampaian pesan yang sangat powerful, dan jelas efektif untuk memancing perenungan dalam dan diskusi lebih lanjut setelah selesai menonton.




Nominated for Best Cinematography (Rodrigo Prieto), Academy Awards, 2017.

USA | 2016 | Drama / History | 160 mins | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
9 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 12 Maret 2017 -

----------------------------------------------------------
  • review film silence
  • review silence
  • silence movie review
  • resensi film silence
  • resensi silence
  • ulasan silence
  • ulasan film silence
  • sinopsis film silence
  • sinopsis silence
  • cerita silence
  • jalan cerita silence

1 kritik:

  1. Martin mengambarkan keyakinan iman katolik dinjak dengan begitu gamblangnya, membuat penonton yg seiman ikut merasakan sakit hati...film tentang seremoni..seremoni pengakuan dosa, seremoni bagaimana menghancurkan iman katolik di jepang..2 hal tersebut diulang ulang...utk menunjukkan intimidasi mental thdp pemuka agama..tapi martin tidak berimbang..tidak ada penggambaran bagaimana Pastor itu dari lubuk hatinya memang beriman..oke pastur itu membawakan misa & menerima pengakuan dosa..tapi tidak ada hubungan pribadi dg Tuhan yg ditunjukkan dalam film ini..tiada doa dengan tangan terkatut atau sekedar berteriak meminta perptolongan Tuhan oleh sang pastur..film ini silence...sunyi, senyap seakan Tuhan hanyalah ilusi bahkan bagi sang pastur sendiri tidak ada momen dimana dia berkomunikasi dengan Penciptanya

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top