05 March 2017
0 kritik

Logan

"Surat perpisahan manis sekaligus pahit, dengan kemasan yang jauh dari kata superheroes"

Tahun 2029, populasi mutan telah menurun drastis dan X-Men telah bubar. Logan yang kekuatan menyembuhkan dirinya telah pudar, sudah menyerahkan diri pada alkohol dan bekerja seadanya demi mendapatkan uang. Dia juga merawat Charles Xavier yang semakin menua dan bertahan hidup dengan penyakit yang juga mempengaruhi kekuatannya. Namun masa tua mereka berubah seketika dengan kemunculan seorang anak perempuan yang dikejar-kejar oleh sekelompok organisasi rahasia.

Jika Batman Begins (2005) mematok standar tentang awal mula pahlawan super, maka tahun ini Logan telah mematok standar di ujung sebaliknya; gambaran realistis dari masa pensiun superheroes. Tidak tanggung-tanggung, Logan juga digambarkan lebih banyak dengan atmosfer manusia senyata mungkin. Mulai dari tanpa layar hijau dan penggunaan CGI yang seminimal mungkin, sampai ke detil cerita yang sangat dekat dengan kenyataan. Film superheroes apa lagi yang dibuat tanpa teknologi tinggi, dan diperlakukan selayaknya drama petualangan?


Menonton Logan jelas menjadi pengalaman unik dan sangat menarik. Sebagai film ke-10 dari franchise X-Men sejak tahun 2000, jelas Logan adalah satu-satunya film yang secara looks tidak terlihat sebagai bagian dari franchise adaptasi komik Marvel tersebut. Menonton Logan seakan menonton The Road (2009) dengan dunia yang telah banyak berubah dan The Wrestler (2008) dengan perjalanan masa tua yang melelahkan. Di sisi lain, sutradara James Mangold jelas menekan gas pol dalam unsur kekerasan. Darah dan daging yang bertebaran di layar jelas efektif untuk mengimbangi jalan cerita yang terkesan lamban dan gerah. Jadi untuk para orang tua, jangan cepat tertipu oleh iming-iming film superheroes seperti biasanya.


Hal menarik lainnya adalah gambaran deskriptif dari masa pensiun pahlawan super yang telah melewati masa-masa jayanya. Ketika umur tidak bisa dilawan, dan sebuah insiden maut memaksa mereka bertahan hidup layaknya warga biasa. Apalagi melihat bagaimana kekuatan mereka malah menjadi bumerang tersendiri ketika masa senja telah datang. Selain itu, dengan cerdas diselipkan pula isu imigrasi yang menjadi sindiran politis terhadap pemerintahan Donald Trump.

Satu kekurangan menurut gue adalah durasinya yang terlalu panjang. Ada beberapa subplot yang tampaknya cukup dipaksakan untuk merentangkan durasi menjadi 137 menit. Tapi mungkin memang Hugh Jackman ingin menceritakan kisah akhir Wolverine dengan selengkap mungkin. Ya. film ini adalah surat perpisahan yang manis sekaligus pahit pada karakter Wolverine (dan juga karakter mutan lain) dalam franchise X-Men selama 17 tahun terakhir. Niatnya pun sangat berhasil dengan menutup karirnya sebagai mutan yang paling dicintai, dengan sebuah film penutup yang megah dalam kesederhanaan dan penuh emosional.



USA | 2017 | Superheroes | 137 mins | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 5 Maret 2017 -

----------------------------------------------------------
  • review film logan wolverine
  • review logan wolverine
  • logan wolverine movie review
  • resensi film logan wolverine
  • resensi logan wolverine
  • ulasan logan wolverine
  • ulasan film logan wolverine
  • sinopsis film logan wolverine
  • sinopsis logan wolverine
  • cerita logan wolverine
  • jalan cerita logan wolverine

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top