15 March 2017
0 kritik

Galih dan Ratna

"Drama romansa manis dan cantik lewat lagu-lagu dan gambar-gambar indahnya"

Ratna adalah siswi SMA pindahan dari Jakarta, dan harus tinggal sementara di Bogor bersama bibinya. Di sekolah barunya, Ratna bertemu dengan Galih, siswa beasiswa teladan yang menargetkan untuk kuliah di universitas negeri. Mereka pun saling tertarik dan jatuh cinta. Ternyata pertemuan mereka membuat kehidupan masing-masing menjadi lebih baik. Galih semakin semangat untuk mempertahankan toko kaset milik almarhum ayahnya, sedangkan Ratna menjadi lebih serius mengasah bakatnya mengarang lagu dan menyanyikannya. Namun cinta mereka harus menghadapi ujian terberat ketika jalan hidup harus berbicara.

Meski diberi label remake dari Gita Cinta dari SMA (1979), tetapi ternyata Galih dan Ratna mampu berdiri sendiri sebagai film yang mandiri. Lihat saja dari sinopsisnya yang jauh berbeda, kalau tidak mau dibilang kisahnya mengikuti perkembangan jaman saat ini. Malah bisa dibilang, Galih dan Ratna hanya meminjam nama karakternya saja dan cenderung mendompleng nama besar Gita Cinta dari SMA. Ditulis dan disutradarai oleh Lucky Kuswandi, hasilnya adalah sebuah kisah cinta pertama di SMA yang sangat manis dan jauh dari kata cheesy.

Ternyata seperti ini jika ada penulis naskah dan sutradara yang terbiasa bergerak di area indie, menangani kisah populer dan mainstream seperti kisah cinta di SMA. Ya kita sudah bisa melihatnya lebih dulu di Aach Aku Jatuh Cinta (2016), tapi itu adalah versi Garin Nugroho yang jadinya pun masih lebih banyak di area indie dan cukup sulit diterima oleh banyak penonton. Tetapi Galih dan Ratna menjadi sangat manis dan ringan, penuh dengan komedi yang efektif dan selalu menggelitik tanpa terlalu berusaha banyak. Porsi dramanya pun dalam takaran yang pas dan tidak berlebihan. Penyesuaian jaman dengan keadaan millenials saat ini pun terbilang cerdas dan rapi, apalagi dipadu dengan hal dari masa lalu seperti kaset ini yang malah menjadi anti-mainstream khas anak Jakarta Selatan.

Mungkin sekilas, kisah Galih dan Ratna mirip dengan kisah Cinta dan Rangga. Sama-sama menggunakan bawahan abu-abu, dan sama-sama menyukai hal berbau seni seperti puisi atau lagu. Tetapi perlu diingat bahwa memang Riri Riza dan Mira Lesmana menjadikan Ada Apa Dengan Cinta (2002) sebagai tribute untuk Gita Cinta dari SMA. Sayangnya, rasanya Galih dan Ratna akan cukup sulit menyaingi ketenaran Cinta dan Rangga karena kalah dalam hal momentum - meski dari segi kualitas masih bisa disejajarkan. Bagaimana tidak, kisah Galih dan Ratna ini terbilang cukup realistis dan sangat jauh dari tingginya angan-angan. Lagi-lagi, kita bisa melihat dilema antara mengejar cinta dengan mengejar passion, yang kemudian dijawab dengan hal yang sangat logis dan realistis.

Bukan seorang Lucky Kuswandi kalau tidak memberikan sinematografi yang cantik. Layaknya Selamat Pagi, Malam (2014) yang setiap frame tampak seperti lukisan itu, Galih dan Ratna pun menampilkan deretan shot yang indah dengan komposisi yang artistik dan enak dilihat mata. Penempatan setiap lagunya dalam jalan cerita pun sangat pas dan tidak berlebihan, terutama tidak berusaha untuk membuat video klip musik sendiri di dalam film. Apalagi Lucky berani untuk bermain long shot yang menyorot perubahan ekspresi mikro pada karakternya ketika sedang mendengarkan sebuah lagu. Wuih!



Indonesia | 2017 | Romansa | 112 menit | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 15 Maret 2017 -
----------------------------------------------------------
  • review film galih dan ratna
  • review galih dan ratna
  • galih dan ratnamovie review
  • resensi film galih dan ratna
  • resensi galih dan ratna
  • ulasan galih dan ratna
  • ulasan film galih dan ratna
  • sinopsis film galih dan ratna
  • sinopsis galih dan ratna
  • cerita galih dan ratna
  • jalan cerita galih dan ratna

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top