30 April 2016
0 kritik

Two Days, One Night

"Drama sederhana dan realistik yang mempertanyakan isu solidaritas dalam masyarakat modern"

Sandra, seorang pekerja yang baru sembuh dari depresi, menghadapi kenyataan pahit dalam tempat kerjanya. Tim kerja yang tadinya 17 orang termasuk dirinya, menemukan fakta bahwa mereka dapat bekerja memenuhi target hanya dengan 16 orang tanpa Sandra ketika ia cuti sakit. Jajak pendapat dilakukan di hari Jumat, dan 13 orang setuju untuk bekerja hanya dengan 16 orang dan menerima bonus tahunan sebesar 1000 euro. Sandra yang akan di-PHK pun berjuang menemui rekan-rekan kerjanya untuk meminta mereka memilih mempekerjakan Sandra kembali pada jajak pendapat ulang di hari Senin. Berhasilkah Sandra mendapatkan pekerjaannya kembali demi keberlangsungan rumah tangganya?

Two Days, One Night mengangkat cerita yang sangat sederhana dan terlampau realistis. Tidak ada hal yang luar biasa dalam cerita ini, melainkan "hanya" usaha seorang ibu dari dua anak yang berusaha mendapatkan pekerjaannya kembali dari ancaman PHK. Selama dua hari dan satu malam, penonton diajak untuk menemui berbagai macam karakter pekerja - di Belgia pada khususnya, dan di Eropa pada umumnya - dengan isu solidaritas. Meski sulit untuk menahan kantuk di tengah film, tetapi ending yang digambarkan sangat membekas dalam ingatan.



Penampilan Marion Cotillard memang mendekati sempurna. Kematangan aktingnya tidak hanya berhasil tampil di luar stereotip peran-peran dia dalam deretan film sebelumnya. Tetapi juga karakternya berhasil membawa arah jalan cerita, sekaligus menciptakan atmosfer yang ingin disampaikan kepada penonton. Apalagi dalam jalan cerita yang memang diambil sepenuhnya dari sudut pandang protagonis, yang kemudian berinteraksi dengan berbagai macam karakter yang penuh eksplosif.

Sutradara dan penulis naskah Dardenne bersaudara mendapatkan ide film ini dari kisah nyata yang dialami seorang buruh pabrik di Perancis, yang kemudian terdapat kasus yang sama di negara Belgia, Italia, dan AS. Isu solidaritas ini ternyata cukup mengemuka di belahan negara Barat di mana tonggak individualisme sudah berdiri kokoh. Kebutuhan pribadi dan keluarga menjadi segala-galanya, dan permasalahan yang dialami oleh rekan kerja adalah bukan masalah kita. Alasan-alasan kebutuhan pribadi ini memang sangat logis, dan digambarkan dengan sangat baik dalam berbagai karakter yang ditemui oleh Sandra dalam film ini. Hal seperti ini yang hendak disampaikan kepada penonton, pilihan jajak pendapat seperti apa yang bisa kita pilih dengan berbagai pertimbangan yang ada.


Menariknya, dalam 95 menit penonton diberikan narasi yang terkesan berulang-ulang; permohonan Sandra terhadap 8 - 9 rekan kerja tentang pilihan jajak pendapat yang akan mereka lakukan pada hari Senin. Repetisi tersebut tampak membosankan pada awalnya, tetapi ternyata repetisi ini yang membuka perspektif baru terhadap isu solidaritas ini. Apalagi dengan cermat, Dardenne bersaudara menempatkan karakter-karakter kunci di awal, tengah, dan akhir film yang akan berpengaruh signifikan pada akhir cerita. Pada akhirnya, Sandra pun mengalami pusaran emosi baru dengan keadaan yang jauh lebih baik ketika pertama kali kita menemuinya di awal film.

Perubahan karakter Sandra yang signifikan ini yang dapat dijadikan subjek menarik dalam sebuah studi karakter. Kegelisahan dan gejala depresif Sandra ketika ancaman PHK ada di depan muka, dan semangatnya yang naik-turun demi memperjuangkan pekerjaannya. Sampai pada akhirnya kelegaan dan ketenangan yang dialaminya setelah hasil jajak pendapat diumumkan. Tanpa bermaksud spoiler, film ini jelas mengajarkan kepada penonton bahwa melihat satu permasalahan dari berbagai sisi memang sangat penting. Selain itu, hal tersebut juga berdampak pada stabilitas emosi ketika kita mengetahui berbagai pertimbangan logis tersebut.



Belgium | 2014 | Drama | 95 mins | Flat Aspect Ratio 1.85 : 1

Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 30 April 2016 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top