26 April 2016
0 kritik

Captain America: Civil War

"Hiburan total dengan konflik penuh emosi yang akan memaksa penonton untuk berada di salah satu pihak"

Setelah ada kejadian yang memakan korban sipil lagi, pemerintah seluruh dunia menginginkan skema akuntabilitas terhadap Avengers. Dalam perjanjian Sokovia, tim Avengers wajib tunduk pada PBB dan hanya bergerak sesuai dengan persetujuan dewan. Captain America jelas tidak ingin tunduk pada pemerintah manapun, dan tetap ingin menegakkan independensi Avengers. Tetapi Tony Stark merasa perlunya pengawasan untuk menekan jumlah korban sipil seminimal mungkin. Perbedaan idelogi ini yang melandasi perseteruan di antara dua kubu, ditambah lagi dengan alasan personal yang membuat perteruan mereka menjadi semakin sengit.

Selamat menjadi bagian dari sejarah di mana ini adalah waktu terbaik untuk era adaptasi buku komik ke dalam layar lebar. Film ke-13 dari Marvel Cinematic Universe ini - sekaligus film pembuka untuk Phase 3 - menjadi sangat signifikan bagi kelanjutan kisah tim pahlawan super yang tampak memiliki dua kepala ini. Meski dihujani oleh banyak karakter yang masing-masing memiliki kekuatan super dan latar belakang cerita masing-masing, 147 menit menjadi sangat cukup untuk memberikan porsi yang signifikan bagi setiap karakter. Deretan aksi yang tidak lagi melawan super villain - melainkan melawan sesama superhero - jelas menjadi daya tarik utama film ini.

Memang sulit untuk memiliki dua nahkoda dalam satu kapal. Dari awal pertemuan antara Captain America dengan Iron Man memang selalu penuh tensi. Friksi tersebut sempat ditunjukkan dengan emosional dalam Avengers: Age of Ultron (2015) - sebuah set-up yang sangat brilian untuk masuk dalam kisah Civil War ini. Perbedaan sikap dan karakter tersebut akhirnya sampai pada puncaknya, yang turut memecah belah tim superhero favorit kita. Meski ada satu bit latar belakang konflik yang kurang kuat, tapi jelas dapat dimaklumi dengan terakumulasinya berbagai latar belakang yang kemudian menumpuk menjadi satu.


Secara mengejutkan, konflik tersebut mengandung muatan emosi yang cukup signifikan. Hasilnya, penonton netral seperti saya pun secara bawah sadar memilih salah satu pihak - setidaknya pada klimaks yang cukup emosional. Secara brilian, semua tersebut digambarkan tanpa lepas fokus utama pada Captain America - yang memang ini adalah solo filmnya yang ketiga dalam MCU. Meski banyak bagian mengupas pengembangan karakter Tony Stark, tetapi semua itu tetap mengarah pada karakter Captain America dengan cara yang subtle.

Salah satu keunggulan Marvel memang pada unsur hiburan. Konflik setinggi apapun - bahkan antar teman - bisa dibalut seringan mungkin dan tidak jatuh pada atmosfer yang kelam dan tanpa harapan. Selain itu, lelucon khas Marvel yang komikal pun tetap hadir dalam film ini. Deretan lelucon yang akan memastikan penonton untuk tertawa selama 30 menit sekali. Yang lebih menyenangkan jelas melihat semua karakter superhero dengan kekuatan supernya yang selalu memiliki unsur kejutan. 


Dengan banyaknya karakter dalam film ini, bisa dibilang unsur hiburan dalam Civil War jauh melebihi dua sekuel Avengers sekalipun. Apalagi film ini mengenalkan dua pahlawan super baru yang akan memiliki solo film sendiri; Spider-Man dan Black Panther. Mereka berdua pun diberikan waktu yang cukup signifikan untuk berkenalan dengan penonton. Meski kemudian, setiap penampilan mereka di layar sangat mencuri perhatian dan akan membuat penonton memohon untuk dapat melihat mereka lagi di adegan berikutnya. Catat, mereka berdua bukan tampil hanya sebagai cameo a la Stan Lee, tetapi masuk dalam cerita dengan pengembangan karakter yang signifikan. Secara khusus - menurut hemat saya - Tom Holland menepis segala keraguan saya dengan tampil nyaris sempurna dan sangat menggambarkan Peter Parker / Spider-Man yang kekanakan.



USA | 2016 | Action / Superheroes | 147 mins | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1 / IMAX Aspect Ratio 1.90 : 1 (some scenes)

Rating?
8 dari 10

Scene During Credits? Ya!

Scene After Credits? Ya!

Wajib 3D? Relatif (tidak ada adegan dengan potensi depth atau pop-out yang signifikan)

Wajib 4DX? Relatif

Wajib IMAX? YA! (ada beberapa adegan yang di-shot dengan format IMAX)

- sobekan tiket bioskop tanggal 26 April 2016 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top