29 April 2016
0 kritik

Ada Apa Dengan Cinta? 2

"Drama romansa rekonsiliatif dengan bungkusan populer, tapi sukses menjawab kebutuhan nostalgia para penonton"

Terpisah ribuan kilometer dan ratusan purnama, Rangga dan Cinta menjalani kehidupannya masing-masing. Sampai suatu saat, mereka berdua kembali dipertemukan. Tembok permasalahan masa lalu sudah terlanjut berdiri dengan tegak. Belum lagi jalan hidup yang sudah mereka jalani selama 14 tahun terakhir,  yang tampak semakin memisahkan mereka berdua. Mampukah mereka menjalani rekonsiliasi dan kembali lagi bersama seperti dahulu?

AADC?2 tampil sebagai film nostalgia yang sangat menjawab keinginan penonton. Jelas saja, diproduksinya film ini juga karena melejitnya mini drama yang diproduksi oleh Line yang bermain "what if" tentang apa yang akan terjadi jika Rangga dan Cinta bertemu kembali setelah 14 tahun berpisah. "What if" ini yang dibawa menjadi titik penggerak cerita, kemudian diperluas hingga menjadi film berdurasi 124 menit. Di luar berbagai kekurangan teknis dan logika bercerita, AADC?2 berhasil memikat hati lewat geng Cinta + Mamet + Rangga yang telah menjadi sahabat penonton film Indonesia.

Sudahlah, akui saja. Pilihan anda untuk membeli tiket bioskop adalah demi mengetahui apa yang akan terjadi jika Rangga dan Cinta bertemu kembali. Atau jauh di dalam lubuk hati dan berbekal pengalaman romansa masa lalu, apakah mungkin hubungan akan kembali berjalan jika mantan kembali ke kehidupan kita sekarang. Apakah benar, "karena mantan setitik, rusak susu sebelanga?". Sayangnya, kehidupan nyata tidak semanis hidup Rangga dan Cinta, bro. Ini hanyalah sebuah cerita bahagia yang mungkin hanya dialami oleh segelintir orang super-beruntung, yang ditulis berdasarkan collective unconscious masyarakat Timur yang mengagungkan rekonsiliasi dan cinta.


Penulis naskah Mira Lesmana dan Prima Rusdi sadar benar mengenai collective unconscious tersebut, dan tugas mereka hanyalah memvisualisasikan kisah tersebut - yang sebenarnya sudah tertanam pasti di dalam kepala kita masing-masing. Maka dari itu, segala serendipity tampil berkali-kali meski ada sebagian kecil penonton yang mengutuk hal tersebut. Ya sekali lagi, ini adalah film rom-com populer dengan formula Hollywood, tetapi dengan karakter dan lokasi yang sangat Indonesia. Otomatis, dua hal tersebut yang menjadi kekuatan utama dalam film ini.

Semua karakternya sudah seperti sahabat kita sendiri - atau malah jadi antagonis bagi sebagian penonton yang alergi terhadap geng populer SMA. Setiap karakter dari geng Cinta masih digambarkan selayaknya anak SMA 14 tahun lalu. Ya kepribadian manusia memang tidak berubah drastis, tetapi melihat mereka kali ini di layar seakan sama seperti melihat mereka di film pertama - hanya dengan tambahan atribut pekerjaan dan keluarga baru. Bisa dibilang ini adalah jalan pintas agar pembuat film tidak perlu melakukan pengembangan karakter dari nol. Maka, mulai saja dari apa yang penonton sudah kenal dengan baik. Atau bisa saja, dari perspektif wanita, memang seperti itulah sifat persahabatan para wanita di dewasa muda; tampil apa adanya tanpa topeng dalam lingkaran zona nyaman mereka. Sisi lain adalah karakter Mamet yang masih saja berhasil sebagai pencuri adegan lewat karakternya yang sangat komikal.


Bagi mereka yang menantikan chemistry antara Dian Sastro dan Nicolas Saputra, silahkan berpesta pora dalam sekuel ini. Mereka berdua memang aktor dan aktris berbakat, dan proses kimiawi dari mereka berdua muncul dan mengalir begitu saja seakan tanpa usaha berlebih. Terutama ketika adegan intens dan harus berganti emosi dalam sepersekian detik lewat ekspresi mikro yang menggemaskan. Mereka berdua pun berhasil sebagai nakhoda yang menggerakkan jalan cerita, sekaligus membawakan atmosfer yang ingin dibawakan kepada penonton.

Sutradara Riri Riza memang hobi menggunakan lokasi-lokasi non-turistik sebagai bagian dari storytelling. Berbagai lokasi yang dipilih bisa dibilang sangat menggambarkan keadaan emosi yang sedang dialami oleh masing-masing karakter Rangga dan Cinta. Reruntuhan di Istana Ratu Boko sebagai rekonsiliasi terhadap masa lalu dari mereka berdua, pertunjukan teater boneka Papermoon yang bertajuk "Secangkir Kopi Playa" yang merupakan representasi dari kisah yang dialami oleh Rangga dan Cinta, hingga perjalanan menuju titik tertinggi Gereja Ayam yang tampil bagaikan klimaks di Second Act film ini. Saya tidak akan heran jika beberapa saat setelah film ini tayang di bioskop, akan beredar "Tur AADC2" di Jogjakarta.


Semua itu dibungkus oleh scoring yang mendayu oleh duet Melly Goeslaw dan Anto Hoed. Alunan gitar akustik mereka sangat pas sebagai musikalisasi puisi atau adegan yang ada di layar. Tetapi ketika lirik perlahan masuk, atmosfer yang sudah dibangun dengan baik pun jadi kacau balau lewat lirik yang kelewat alay. Harus diakui, aransemen musik Melly Goeslaw dan Anto Hoed memang hanya cocok untuk pasar remaja dengan kisah cintanya yang cheesy. Ketika digunakan untuk membungkus kisah pria dan wanita di usia dewasa muda dengan segala tingkat kematangan dan kedewasaannya, bro, please.

Bagi anda yang merasa film ini "terlalu sinetron", jangan khawatir. Memang anda bukanlah target pasar dari film ini yang memang ditujukan untuk penonton populer, seperti penonton London Love Story (2016) yang meraih 1 juta penonton. Ya, selamat! Gegara Rangga dan Cinta akhirnya anda sudah mencicipi film drama romansa Indonesia yang populer akhir-akhir ini dengan formula yang mudah ditebak. Mulai dari syuting di luar negeri sampai penggunaan soundtrack yang berlebihan hingga lebih tampak sebagai video klip ketimbang film panjang.

Tetapi rasanya semua itu dapat dimaafkan demi kebutuhan kita semua untuk melihat kisah cinta "ideal" yang sudah kita nanti-nantikan selama 14 tahun. Diambil dengan pendekatan Before Sunset (2004) sebagai film rekonsiliasi romansa, ditambah dengan mini roadtrip a la 3 Hari Untuk Selamanya (2007), AADC?2 berhasil membawa penontonnya mengarungi lautan nostalgia dan - akhirnya - berlabuh di daratan yang penuh dengan jawaban.


Indonesia | 2016 | Drama / Romance | 124 mins | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
8 dari 10

Pemenang:
  • Penata Musik Terbaik (Anto Hoed & Melly Goeslaw)
  • Lagu Tema Terbaik ("Ratusan Purnama", Anto Hoed & Melly Goeslaw)Festival Film Indonesia 2016
Nominasi:
  • Penyunting Gambar Terbaik (W. Ichwandiardono)
  • Penata Busana Terbaik (Chitra Subyakto)
  • Pemeran Pendukung Wanita Terbaik (Sissy Prescillia), Festival Film Indonesia 2016
- sobekan tiket bioskop tanggal 29 April 2016 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top