08 April 2016
0 kritik

The Jungle Book

"Kisah petualangan yang timeless dengan audio visual yang menakjubkan"

Seorang anak laki-laki yatim piatu besar dan hidup di tengah hutan. Ditinggalkan oleh orang tuanya, Mowgli dibesarkan oleh kawanan serigala. Ketika harimau Sheer Khan menolak kehadiran manusia di tengah hutan, nyawa Mowgli pun dalam bahaya. Dia harus pergi sejauh mungkin dari Sheer Khan dengan ditemani oleh panther Bagheera. Kemudian mereka bertemu dengan beruang Baloo yang memberi arti baru dalam hidup Mowgli. Sementara itu, Sheer Khan dan gigantopithecus King Louie semakin dekat dengan Mowgli untuk memanfaatkan akal cerdiknya demi kepentingan sendiri.

Adaptasi terbaru buku cerita karangan Rudyard Kipling ini memang mengagumkan dan sangat menghibur mata dan telinga. The Jungle Book tahun 2016 ini bisa dibilang adalah sebuah perkawinan yang nyaris sempurna antara visual CGI dan cerita naratif yang dibawakan. Hasilnya adalah keutuhan hiburan sebuah medium audio visual dengan deretan makna yang dapat digali dan dieksplorasi di berbagai sisi. Selain itu, film ini tidak hanya untuk anak-anak, tetapi juga dewasa yang ingin mendapatkan hubungannya kembali dengan alam.



CGI dalam film ini memang luar biasa dan bisa dibilang sekaliber Zootopia (2016). Tingkat detilnya dalam setiap helai bulu dan ekspresi wajah setiap hewan cukup menakjubkan. Belum lagi latar belakang setting hutan yang berdasarkan lokasi asli di hujan hujan Madya Pradesh di India juga sangat realistis dan meyakinkan. Dengan perkembangan karakter yang pas membuat setiap hewan produksi CGI ini menjadi seolah nyata dan hidup. Hasilnya tentu saja para penonton dapat menaruh empati tersendiri pada tiap hewan yang ada.

Meski bersetting di alam bebas, sutradara Jon Favreau dan penulis naskah Justin Marks tidak sebegitu murahnya untuk mengangkat tema lingkungan hidup atau pemanasan global. Mereka cukup setia dengan materi aslinya, untuk kemudian hanya menyisipkan tema lingkungan hidup secara subtle. Yang kuat jelas materi hiburan khas Jon Favreau yang kocak dan menggelitik. Tidak hanya perilaku setiap hewan yang kocak seperti Baloo, tetapi juga berbagai dialog yang dilemparkan.


The Jungle Book jelas merupakan sebuah kisah klasik yang tak lekang oleh waktu. Kisahnya memang ditulis pada tahun 1894 dengan latar belakang negara India. Namun lewat tangan Disney, jalan cerita dan setiap karakternya selalu masih dapat memiliki relasi dengan penonton hingga pada saat ini. Anak-anak terhibur oleh petualangan Mowgli, sedangkan para dewasa seperti menemui jiwa kekanak-kanakkannya kembali. Makna yang dibawa pun cukup jelas; mulai dari komunitas kekeluargaan dan kesetiakawanan, hingga dampak negatif yang muncul jika jiwa innocence mulai pudar. Dengan kualitas visual yang luar biasa, sungguh sayang untuk melewatkan film ini di layar bioskop yang lebar.


USA | 2016 | Adventure / Fantasy | 105 mins | Flat Aspect Ratio 1.85 : 1

Rating?
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 8 April 2016 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top