20 October 2015
0 kritik

Crimson Peak

"Kisah drama gothic dengan sedikit unsur horor yang memanjakan mata dan telinga"

Edith Cushing adalah seorang penulis muda yang sedang jatuh cinta pada seorang asing, Thomas Sharpe. Selepas tragedi yang menimpa keluarganya, Edith pun menikahi Thomas dan tinggal bersama kakaknya, Lucille, di sebuah rumah yang jauh dari kota dan berada di benua yang berbeda. Pelarian Edith dari masa lalu tidak membuatnya hidup sepenuhnya di masa kini, karena ia menemukan bahwa rumah keluarga Sharpe ternyata penuh dengan hantu. Ketika ia menghadapi hantu dari masa lalu, lambat laun misteri yang melingkupi rumah tersebut terkuak secara perlahan.

Di awal film, Edith menjelaskan novel yang ia tulis sebagai "bukan kisah hantu, tetapi kisah romansa dengan ada hantu di dalamnya". Rasanya penjelasan tersebut adalah penjelasan yang sangat tepat untuk menggambarkan Crimson Peak, sebuah film yang memang disebut oleh penulis/sutradara Guillermo Del Toro sebagai sebuah film "gothic-romance with ghosts". Jadi bagi mereka yang mengharapkan film ini sebagai The Conjuring rasa Del Toro, maka buang jauh-jauh ekspektasi tersebut.




Crimson Peak memang adalah sebuah kisah romansa di jaman Victorian, dengan kemunculan beberapa penampakan hantu yang memang menyeramkan. Kisah romansa yang mungkin bukan kisah yang belum pernah anda tonton, tetapi cukup menarik dan menimbulkan rasa penasaran dengan unsur misteri yang ada. Selain itu, penampilan Mia Wasikowska, Tom Hiddleston, dan Jessica Chastain jelas efektif dalam mempertahankan minat penonton pada kisah yang ada. Belum lagi ditutup dengan twist yang cukup mengejutkan di akhir film.

Film ini terbilang unggul di dua hal. Pertama adalah cross-genre yang sangat efektif dan mungkin bisa dibilang sebagai ciri khas dari Del Toro. Mungkin Crimson Peak dapat disandingkan dengan Pan's Labyrinth yang seakan mencampurkan unsur drama keluarga, fantasi, dan horor. Mencampurkan genre yang berbeda di dalam satu film yang sama memang menjadi satu keasyikan tersendiri dalam hal pengalaman menonton, sehingga membuat kesan bagi penonton seakan kisah yang disajikan di layar adalah kisah yang baru dan segar. 


Hal yang kedua jelas adalah production design, yang memang terlihat luar biasa dan menakjubkan dalam layar lebar. Konon, rumah Allerdale Hall dibangun dengan bahan-bahan baru, dan bukan dari bekas produksi film sebelumnya. Set beserta detilnya tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga sangat efektif dalam meningkatkan ketegangan dan unsur misteri yang ada. Set tersebut dimanfaatkan dengan baik lewat sinematografi yang brilian. Selain itu, kostum yang digunakan juga sangat signifikan dan terbilang cukup detil.

Secara keseluruhan, Crimson Peak adalah film yang tidak tepat bagi anda yang mencari ketegangan rasa James Wan, atau bahkan film horor lain. Beli tiket dan masuklah ke dalam bioskop dengan ekspektasi untuk merasakan kisah romansa rasa gothic, dengan antisipasi kemunculan hantu yang porsinya jauh lebih sedikit. Film ini juga cukup sayang untuk dilewatkan bagi mereka yang memang mengikuti setiap jejak dari penulis naskah/sutradara yang selalu muncul dengan ide segar - khususnya di area monster dan makhluk aneh - Guillermo del Toro. Sebuah film dengan visual yang mengagumkan, dibungkus oleh atmosfer yang menyeramkan.



USA | 2015 | Drama / Horror / Romance | 119 mins | Flat Aspect Ratio 1.85 : 1
Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 17 Oktober 2015 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top