17 April 2014
0 kritik

Rio 2

"Sekuel yang tetap menghibur, penuh warna-warni hutan Amazon dan lagu-lagu yang ear-catchy"

Setelah mengetahui fakta bahwa mereka bukan satu-satunya Macaw Spix di dunia, Jewel mengajak Blu dan ketiga anaknya untuk pergi ke Amazon mencari sesama spesies mereka. Di tengah hutan Amazon, mereka tidak saja menemui sisa spesies Macaw Spix, tetapi juga menemukan keluarga Jewel yang selama ini terpisahkan. Ternyata, hutan Amazon sedang terancam bahaya oleh maraknya penebangan liar. Tidak hanya itu, Blu juga harus menghadapi musuh lamanya yang ingin membalas dendam.

Tiga tahun lalu, Blu harus terbang jauh dari rumah nyamannya di AS dan berusaha keras beradaptasi di kehidupan baru di Rio. Kini setelah menemukan pasangan dan beranak pinak, Blu harus terbang jauh lagi - dan beradaptasi kembali - di habitat asli burung Macaw Spix; hutan Amazon. Kasihan benar Blu ini. Tetapi ini adalah perjalanan panjang seekor burung Macaw Spix, dari hewan peliharaan menuju hewan lepas di habitat aslinya.

Sekuel dari film animasi tentang burung macaw yang langka ini hadir dengan konsep yang sama, namun berlipat ganda kontennya. Konsep musikal bergaya musik Brazillian (angkat jempol untuk Sergio Mendes sebagai executive music director) diiringi dengan tarian para burung dan hewan, warna-warni gambar yang mengagumkan, serta humor verbal dan slapstick masih menghiasi sekuel ini. Banyak dari pengisi suara yang sama pun kembali dalam Rio 2, mulai dari Jesse Eissenberg, Anne Hathaway, Will.I.Am, Jamie Foxx, hingga pengisi suara baru Bruno Mars.



Dalam Rio, masalah yang diangkat adalah penangkapan satwa langka secara ilegal di kota Rio de Janeiro. Maka dalam Rio 2, masalah yang diangkat jauh lebih besar dan luas. Apalagi kalau bukan penebangan liar dan ilegal. Apalagi dalam film ini, para penebang liar digambarkan tidak sungkan-sungkan menyakiti, atau bahkan membunuh, orang lain yang ingin menghentikan mereka. Sisanya bisa anda tebak sendiri, bagaimana penebangan liar ini mengancam banyak habitat hewan-hewan di dalam hutan. Apalagi ditambah fakta bahwa hutan Amazon menyimpan 2,5 juta spesies serangga, 10 ribu tanaman, dan sekitar 2000 burung dan mamalia. 

Seperti yang telah gue tulis di ulasan tentang Rio (2011), sutradara sekaligus penulis naskah Carlos Saldanha tampaknya memang seorang sutradara yang memiliki idealisme menggambarkan hewan-hewan yang telah punah, dan langka yang ada di muka bumi. Sebagai seorang penonton film sekaligus pecinta lingkungan hidup, tentunya gue sangat mendukung upaya Carlos Saldanha dalam terus mempromosikan agar publik tahu, sadar, dan bertindak terhadap keberlangsungan lingkungan hidup dan satwa liar.


Menambah masalah, menambah warna, berarti juga menambah karakter baru dalam sekuel ini. Ini yang menjadi salah satu problem dalam setiap film sekuel. Karakter baru memang menarik, dan jelas kocak. Tetapi terlalu banyaknya karakter, berarti terlalu banyak nama dan wajah yang harus diingat penonton, dan itu adalah hal yang melelahkan. Setelah "menyerah", akhirnya gue hanya duduk pasrah menikmati setiap warna dan musik yang ada dalam film ini, sembari mencoba fokus pada karakter utama kita; Blu.

Pada akhirnya, Rio 2 telah berusaha hadir melebihi dari prekuelnya lewat masalah yang lebih besar dan mendesak, serta lagu-lagu yang lebih banyak dan lebih menghentak. Warna-warninya masih mengagumkan, ditambah dengan humor-humor yang segar dan menghibur. Lagipula, kapan lagi mendengar lagu I Will Survive dibawakan dalam irama samba? :D



USA | 2014 | Animation | 96 min | 2.35 : 1

Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 17 April 2014 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top