08 April 2014
One kritik

Jalanan

"Dokumenter yang jujur, apa adanya, serta memberikan kehangatan hati dalam menceritakan kehidupan tiga pengamen jalanan di Jakarta"

Film dokumenter yang berlatar jalanan kota Jakarta ini mengikuti kehidupan tiga pengamen jalanan. Titi, Ho, dan Boni adalah tiga pengamen yang setiap harinya naik-turun bis kota di Jakarta hanya untuk menyambung hidup. Boni yang bertempat tinggal di kolong jembatan Tosari, setiap harinya harus merasa was-was oleh penggusuran "rumah"nya sewaktu-waktu, ditambah dengan bahaya banjir yang selalu mengintai. Sementara Titi berusaha mengumpulkan uang demi ketiga anak dan kedua orangtuanya yang berada di desa. Sementara Boni mencoba menyebarkan idealismenya lewat melodi dan lirik lagu yang diciptakannya sendiri, yang menyuarakan tidak hanya suara hatinya tetapi juga suara hati rakyat. Ketiga karakter ini memiliki tujuan hidup masing-masing yang berbeda satu dengan yang lain, tetapi disatukan oleh profesi, idealisme, dan keadaan yang sama.

Dengan proses syuting sekitar 5-6 tahun mengikuti tiga pengamen ini, film doku-drama Jalanan jelas menjadi lebih daripada sekedar film dokumenter yang membosankan. Proses pengambilan gambar yang cukup panjang jelas membuat sutradara dan penulis naskah Daniel Ziv asal Kanada memiliki lebih dari cukup bahan untuk diuntai sedemikian rupa menjadi sebuah tontonan yang menarik. Stok cerita yang banyak, dijahit sedemikian rupa oleh editor sekaligus penulis naskah Ernest Hariyanto, menjadikan Jalanan sebagai film dokumenter yang kaya akan cerita, drama, serta komedi. Hasil editing yang luar biasa menjadikan Jalanan tidak tampak sebagai sebuah film dokumenter dengan bahan "mentah" dari lapangan, tetapi menjelma menjadi sebuah film yang sangat jujur dan apa adanya dalam menggambarkan keadaan sisi lain dari kehidupan kaum marginal di Jakarta.



Meski hadir bersama-sama dalam satu film berdurasi 108 menit ini, Titi-Ho-Boni tampil dengan kekuatan karakter yang sangat merata dan praktis tidak ada satu yang lebih menonjol daripada yang lain. Masing-masing membawa problematika hidup yang unik, untuk kemudian bagaimana mereka menghadapi hal tersebut dan menyelesaikannya. Akan cukup sulit jika mencari siapa karakter terfavorit karena masing-masing individu memiliki keunikan sendiri. Ho yang kharismatik dan romantis dengan caranya sendiri, Titi yang ulet dan sangat perhatian pada keluarganya, serta Boni yang selalu bersyukur dan tetap positif dalam keadaan paling menyulitkan sekalipun. Sangat jelas bagaimana karakteristik dari orang-orang yang terpinggirkan secara sosial ini mampu memberikan suatu pelajaran berharga bagi para penontonnya.


Film ini memang secara tidak langsung mengangkat isu sosial yang terjadi di Jakarta. Sederetan isu sosial yang tampak sangat familiar di mata dan telinga kaum urban dari berbagai kelas sosial. Namun sutradara Daniel Ziv tidak tergoda untuk menyelami lebih jauh pada beragam isu sosial tersebut, melainkan tetap konsisten pada usahanya untuk mengupas dinamika kehidupan ketiga pengamen kita secara sosiologis dan psikologis. Dengan sederet masalah yang menimpa kehidupan mereka, beberapa kali mereka harus terjatuh sambil berurai air mata. Namun dengan kematangan mental yang telah teruji lewat kerasnya jalanan Jakarta, pada akhirnya mereka mampu untuk menghadapinya dengan baik. Dinamika ini yang dengan sukses mampu mengaduk-aduk emosi penonton pada pertengahan film, untuk kemudian memberikan kehangatan hati di akhir film.


Akhir kata, jelas ini adalah sebuah film dokumenter yang heart-warming dan sangat dekat pada kehidupan kita sehari-hari. Banyak momen-momen emas yang dengan sangat beruntung berhasil ditangkap oleh kamera Daniel Ziv, yang jelas akan membuat penonton asal Jakarta terpingkal-pingkal. Apalagi dokumenter ini dirajut oleh scoring dan soundtrack karya mereka bertiga sendiri. Dengan melihat kehidupan Titi-Ho-Boni dalam film ini, setidaknya telah sedikit merubah cara pandang gue pribadi dalam melihat para pengamen yang naik-turun bis kota. Dan gue tidak akan melihat jembatan Tosari dengan cara yang sama lagi setelah melihat bagaimana Boni pernah hidup di kolong jembatan itu selama bertahun-tahun.


Indonesia | 2013 | Documentary | 108 min | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating? 
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 8 April 2014 -

*Hanya diputar di 3 bioskop di Jakarta (Blok M, Plaza Senayan, Blitz GI)

1 kritik:

 
Toggle Footer
Top