26 April 2014
0 kritik

Oldboy

"Film remake yang sangat disederhanakan oleh Hollywood, dan jelas jauh untuk melampaui versi orisinilnya"

Seorang karyawan kantoran biasa, tiba-tiba diculik dan dikurung dalam sebuah kamar. Setiap hari diberi makan, dan seakan tidak diperbolehkan untuk bunuh diri, 20 tahun kemudian Joe Doucett dibebaskan. Dibakar oleh rasa balas dendam, ia ditantang sendiri oleh penculiknya dengan taruhan nyawa putrinya. Dalam waktu 2x24 jam, Joe harus menemukan identitas penculiknya dan menemukan penyebab mengapa ia diculik dan ditahan selama 20 tahun.

Pertama, gue ngefans berat dengan film orisinilnya asal Korea, Oldboy / Oldeboi (2003) yang diadaptasis secara bebas dari manga berjudul sama yang ditulis oleh Nobuaki Minegishi and Garon Tsuchiya. Film orisinilnya ini begitu epiknya hingga dikategorikan sebagai film cult asal Asia. Dan yah, Hollywood dengan alasan ingin memperluas penonton terhadap ide cerita brilian itu, membuat remake di tahun 2013. Spike Lee (Malcolm X, Inside Man) dipilih menjadi sutradaranya, dengan Josh Brolin sebagai bintang utamanya. Hasilnya? Sebagai orang yang pernah menonton versi Koreanya, remake versi Hollywood ini hancur lebur :D



Oldboy adalah sebuah cerita misteri yang memiliki satu unsur utama dalam memecahkan misterinya sepanjang cerita; the-why-factor. Unsur "mengapa" ini yang seharusnya menjadi landasan utama dalam kisah si karakter utama yang diculik secara tiba-tiba, dikurung bertahun-tahun, kemudian dibebaskan. Tiga kata kerja tersebut yang kemudian dieksplorasi secara mendalam dengan unsur "mengapa" ini. Eksplorasi "mengapa" ini yang menjadi roda penggerak utama dalam film, sekaligus melipatgandakan partisipasi penonton ke dalam cerita. Ini yang sangat kuat di versi Korea, namun dimutilasi di versi Hollywood.

Penonton hanya diberikan sedikit ruang untuk berpikir, untuk kemudian petunjuk-petunjuk yang sangat jelas dibeberkan di layar. Ketika masih ada misteri yang menunggu untuk dipecahkan, petunjuk yang obvious itu kembali ditampilkan. Bahkan adegan klimaks yang seharusnya menjadi "wow-wtf moment" menjadi sekedar hanya lewat saja dan tidak ada ketegangan yang berarti. Ah adegan klimaksnya!! Sayang seribu sayang, Spike Lee!


Selain itu, penulis naskah Mark Protosevich juga melakukan beberapa perubahan detil. Salah dua yang paling fatal menurut gue adalah motivasi si tokoh antagonis, dimana perubahannya menjadi agak kurang logis dan terkesan sangat disederhanakan. Selain itu, detil ending pada film juga diubah drastis dari versi Korea-nya, yang jelas ingin memanjakan penonton dengan closed ending. Sederhananya, jika ingin total membandingkan original-remake, bandingkan saja corridor fight scene yang ada, dan nilai sendiri mana yang paling epik.

Pada intinya, jika tidak membandingkannya dengan versi orisinilnya, Oldboy (2013) ini adalah sebuah film misteri yang sangat sederhana dan jelas tidak membuat repot para penonton untuk berpikir keras. Adegan aksi yang ada memang cukup berdarah, dan hati-hati untuk tergoda membandingkannya dengan The Raid 2: Berandal (2014). Twist yang ada dalam film ini memang mengejutkan dan cukup disturbing kalau dipikirkan lebih jauh. Ini adalah sebuah film yang sebenarnya layak untuk ditonton, dengan catatan jika film ini berdiri sendiri. Tapi dengan hadirnya film ini di bioskop tanah air, dengan jelas gue merekomendasikan untuk menonton versi Koreanya - sebelum atau setelah anda menonton versi Hollywood-nya, untuk kemudian anda nilai sendiri.

Oldboy (2013)

Oldboy (2003)


USA | 2013 | Action / Mystery / Thriller | 104 min | Aspect Ratio 2.35 : 1
Rating?
5 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 26 April 2014 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top