27 September 2013
0 kritik

You're Next

"Film slasher yang segar dan fun dengan ide cerita yang sederhana namun dieksekusi dengan kuat dan efektif"

Keluarga Davison sedang merayakan ulang tahun perkawinan ayah dan ibu mereka di sebuah rumah musim panas di daerah terpencil. Keempat anaknya bersama pasangan masing-masing sudah lama tidak bertemu, dan ternyata hubungan mereka tidak begitu baik antara yang satu dengan yang lain. Di tengah makan malam bersama yang penuh dengan perselisihan, tiga orang pembunuh bertopeng binatang pun menyerang mereka. Tampaknya, tujuan para pembunuh bertopeng singa, kelinci, dan babi ini hanya satu; membunuh setiap orang yang ada. Namun keadaan menjadi terbalik ketika ternyata ada satu orang yang dapat membela diri.

Big thanks untuk Gareth Evans yang memboyong film ini dan mendistribusikannya di bioskop Indonesia lewat PT. Persada Utama Lestari, anak perusahaan PT. Merantau Films. Setelah membuat film Merantau (2009) dan The Raid (2011), gue engga meragukan lagi seleranya Mr. Evans ini setelah nonton film ini di Toronto International Film Festival 2011. Film ini memang sudah diputar di berbagai film festival di tahun 2011, tapi baru diputar secara komersial tahun 2013.


Benar saja. Menurut gue, ini adalah film horor-slasher yang fun! Ceritanya sangat sederhana, dan terbilang cukup tipikal untuk film-film sejenis di genre yang sama. Home invasion dimana semua penghuni rumah terancam nyawanya? Hih basi! Tapi sutradara Adam Wingard (V/H/S, V/H/S/2) seakan sadar benar akan hal tersebut dan memutuskan untuk meramu adegan bacok-membacok dengan unsur black comedy. Iyes, sebuah komedi yang ga serta merta akan membuat penonton tertawa ngakak, tapi efektif untuk membuat sebuah tontonan jadi sangat menghibur. Bayangin aja, dari tiga anak cowo berdebat siapa yang harus lari keluar rumah ke mobil, akhirnya nyuruh si anak bungsu cewe yang ngaku lari paling kenceng!

Kalo di film-film slasher lainnya mungkin diceritain kalo si pembunuh punya kelainan jiwa atau apa gitu. Nah disini motifnya simpel dan down-to-earth. Kayaknya ini yang bikin film ini jadi makin ngeri. Slasher-nya juga ga perlu diragukan lagi. Efek darahnya emang keliatan rada fake karena terlalu muda. Tapi cara-cara ngebunuhnya itu loh yang sadis bin jalik. Di sensor habis sih, tapi malah makin efektif untuk merangsang imajinasi di otak ketika adegan "eksekusi" dipotong dan kaya maksa penonton untuk ngebayangin apa yang terjadi. Belum lagi kalo adegan ngebacoknya dikawinin sama soundtrack lagu pop jadul - ga mecing, tapi efektif untuk merubah total image lagu itu ketika lain kali lo denger lagu itu lagi. Yang paling top sih, adegan final act-nya yang menurut gue over the top! Saking anjritnya, sampe ngebuat gue ketawa-tawa ngeri sendiri.


Overall, ini adalah film slasher paling fun yang pernah gue tonton. Cocok banget ditonton rame-rame sambil ketawa-tawa sikut-sikutan sama temen-temen di kanan-kiri. Cerita yang simpel, tapi di eksekusi secara brilian. Dan buat elo yang ngaku jago nebak twist, jangan sombong dulu sebelum nonton film ini.


USA | 2011 | Slasher / Thrillers | 94 min | Aspect Ratio 2.35 : 1


Scene During Credits? TIDAK

Scene After Credits? TIDAK

Rating?
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 27 September 2013 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top