28 September 2013
0 kritik

Rush

"Berdasarkan kisah nyata, sebuah kisah rivalitas sengit antara dua pembalap F1 di tahun 70-an yang sangat kuat, disertai dengan adegan balap mobil yang seru dan menegangkan"

Di masa-masa emas dan jayanya balap mobil Formula 1 di tahun 70-an, film yang diangkat dari kisah nyata ini bercerita tentang perseteruan dua rival utama pembalap F1. James Hunt si playboy ganteng asal Inggris dan Niki Lauda yang jenius dan kaku asal Austria berseteru dengan sangat sengit untuk merebutkan gelar juara dunia F1, khususnya di musim 1976 yang fenomenal. Perseteruan sengit, yang bahkan sempat mengancam nyawa ini, dibumbui oleh karakter yang saling bertolak belakang antara dua pembalap ini. Apalagi persaingan mereka ini bertempat di olahraga dimana tidak ada tempat untuk kesalahan sedikitpun, dengan resiko kematian meningkat 20% ketika seorang pembalap menaiki mobil F1-nya.

Menurut gue, ini adalah sebuah film drama yang fokus pada tarik-ulur dinamika dari rivalitas antara dua karakter dengan kepribadian yang salin bertolak belakang. Kebetulan saja kisah ini berlatar di balapan mobil tercepat di dunia ini, dengan resiko kematian yang tinggi sehingga menaikkan harga taruhan dengan rivalitas tersebut. Yang luar biasa adalah bagaimana sutradara Ron Howard dapat menangkap setiap naik-turun hubungan antara Hunt dengan Lauda sepanjang 123 menit. Dimana kedua karakter ini diperankan nyaris sempurna oleh Chris Hemsworth dan Daniel Bruhl.


Mobil balap Formula 1 memang menjadi latar belakang dari kisah rivalitas ini, namun penampilannya pun tidak disia-siakan oleh pembuat film. Di setiap kali garis start dimana para pembalap mulai menekan pedal gas dalam-dalam, penonton dibuat bagaikan benar-benar berada di kursi depan sirkuit balap. Di dalam bioskop dengan kualitas tata suara yang mumpuni, sensasi suara mobil F1 dengan 147db (diatas 140db sudah dikatakan dapat merusak telinga manusia) pun sangat terasa. Apalagi dengan kemajuan teknologi di bidang kamera, dimana kamera seperti GoPro dapat diletakkan di sudut-sudut mobil yang tidak pernah kita duga. Hasilnya adalah sebuah tontonan film dengan teknik sinematografi yang cantik, dengan suara derungan mobil F1 yang membuat dada bergetar.

Secepat mobil F1 yang dapat melaju 400km/jam, Ron Howard juga tidak berlama-lama dalam mengarahkan dan membawa cerita biopik dua karakter ini. Memang banyak momen penting, dan harus mengisahkan dua karakter sekaligus yang sama kuatnya. Setiap key moments pun diceritakan dengan singkat, padat, namun powerful. Ketika sampai pada titik klimaks persaingam Hunt/Lauda di balapan Jerman, Spanyol, dan Jepang, barulah Ron Howard mengeksplorasi habis-habisan kisah tersebut.


Menurut gue, yang luar biasa dari film ini adalah kekuatan dari dua karakternya. Kuatnya karakter Hunt/Lauda jelas tidak lepas dari nyaris sempurnyanya para pemerannya. Disini, gue harus memuji Daniel Bruhl sebagai Niki Lauda yang berkarakter kaku, sedikit anti-sosial namun jenius. Kepribadiannya yang sangat saklek, kalkulatif, dan metodikal, sangat kontras dengan kepribadian James Hunt yang fleksibel dan penuh resiko.

Nah, akting Daniel Bruhl yang sempurna seakan menghidupkan karakter Niki Lauda, sehingga mungkin akan membuat sebagian penonton tidak suka dan lebih memilih mendukung James Hunt. Namun seiring perjalanan cerita dan hal-hal yang dialami oleh Hunt/Lauda, kekuatan karakter yang konsisten ini mampu menggiring penonton untuk mulai menaruh simpati pada karakter Lauda. Di titik ini, Ron Howard jelas sukses menggambarkan dua karakter ini secara imbang berdampingan. Dan mari kita tunggu saja apakah nama Daniel Bruhl dapat masuk nominasi Oscar untuk Best Actor in Leading Role.


Kekuatan karakter yang konsisten dari awal hingga akhir film ini rasanya sangat layak untuk dijadikan sebagai studi karakter dalam sebuah film. Apalagi kali ini mempertemukan dua karakter dengan sifat yang saling bertolak belakang. Menariknya, walaupun mereka penuh dengan persaingan sengit tetapi ada sepercik rasa hormat terhadap satu sama lain. Mungkin mereka telah mencapai titik klimaks dalam sebuah persaingan abadi dimana mereka mampu menemukan hal yang patut dihargai pada satu sama lain. Dengan hal tersebut, rasanya love/hate relationship ini yang menjadi bumbu manis sekaligus kekuatan utama dalam film Rush.

Ketika emosi penonton telah digiring kesana kemari, film ini pun ditutup dengan eksekusi adegan yang sangat indah dan dalam. Rasanya sudah sangat jarang gue menemukan diri gue duduk terhenyak begitu ending film berganti menjadi ending credits, berkat monolog di akhir film. Bravo!


USA / UK / Germany | 2013 | Drama / Sports | 123 min | Aspect Ratio 2.35 : 1


Scene During Credits? TIDAK

Scene After Credits? TIDAK

Rating?
9 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 28 September 2013 -

Nominated for Best Supporting Actor (Daniel Bruhl), Best Motion Picture, Golden Globes, 2014

Nominated for Best Supporting Actor (Daniel Bruhl), Best Editing, Best Sound, BAFTA, 2014

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top