20 September 2013
One kritik

Azrax: Melawan Sindikat Perdagangan Wanita

"Film aksi laga Indonesia yang menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada TKW asal Indonesia di luar negeri" 

Perlu diketahui bahwa Gatot Brajamusti adalah si Ketua PARFI (Persatuan Artis Film Indonesia) yang sempat dibicarakan karena entah muncul darimana, ujug-ujug jadi ketua. Nah Aa Gatot ini juga yang ujug-ujug bikin film action Indonesia, yang hendak menyaingi Merantau dengan gaya Steven Seagel a la 80-an. Yeah! Selamat tinggal film horor kancut, selamat tinggal film komedi dewasa cecunguk. Saatnya film action lokal merajai bioskop!

Suatu peristiwa, hiduplah seorang entah ustad entah guru silat Aa Gatot yang baik hati dan senang memberi ceramah di mesjid. Karena kharisma dan keahliannya dalam bela diri membuat dirinya banyak didekati oleh perempuan-perempuan di bawah umur. Suatu ketika ada beberapa perempuan yang dikenalnya mendaftar menjadi TKW di sebuah perusahaan bodong, yang ternyata adalah sindikat perdagangan wanita. Aa Gatot / Ajrax pun tidak tinggal diam. Secara sukarela dan penuh dengan itikad baik, Aa Gatot / Ajrax pergi ke Jakarta, dan bertemu dengan aktivis LSM serta seorang mantan preman yang mencari anaknya yang juga "berangkat" menjadi TKW. Dalam hitungan jam, mereka bertiga berangkat ke Hong Kong untuk mencari para relasinya. Di Hong Kong, mereka harus menghadapi sindikat perdagangan yang digawangi oleh orang-orang lokal.



Film Azrax adalah sebuah film yang khusus ditujukan untuk penonton cerdas. Ya, kalau tidak cerdas, maka anda akan bertanya-tanya sepanjang film. Atau bahkan tidak mampu untuk mengikuti jalan ceritanya dengan baik. Menonton film ini, anda diminta untuk menggunakan imajinasi anda yang paling tinggi. Seperti ketika Azrax datang ke Jakarta dan tiba-tiba telah kenal dekat dengan si aktivis LSM untuk mencari alamat si perusahaan bodong. Hm. Atau ketika Azrax, si aktivis LSM, dan si mantan preman pergi ke Hong Kong - duit dari mana coba? Jelas-jelas si mantan preman harus minta uang dari para penjaga toko di daerahnya agar keluarganya dapat makan. Selama di Hong Kong pun, mereka bertiga harus keluar-masuk klub malam yang entah mengapa isinya mirip sekali dengan cafe-cafe di daerah Hayam Wuruk tahun 80-an.

Mad Dog harus waspada, Joe Taslim pun harus bersiaga, karena kini ada Azrax si jagoan baik hati yang selalu menyapa "Assalamualaikum" sebelum adu jotos dengan para musuhnya. Dengan rambut setengah gondrong yang ternyata menggunakan hair extension yang sangat mengganggu, ternyata cukup ampuh untuk membuat para musuhnya jatuh terkapar tak berdaya. Jagoan asal Indonesia mana lagi yang ketika menyusup masuk ke markas musuh, memilih untuk menyusup di saat subuh ketika "para penjaga sudah tertidur". Yang ketika saat subuh itu, ternyata sudah ada dua orang penjaga siap menyerang.


Azrax si jagoan beritikad baik, yang selalu mengingatkan si mantan preman emosional untuk menahan emosi dan tidak asal jotos. "Easy man" katanya terhadap mantan preman tersebut, untuk kemudian mencuri motor musuh untuk mengejar kawanan sindikat. Ajaibnya, di akhir film ketika mengejar si bos besar yang menggunakan mobil, Azrax menggunakan motor yang sama. Tak heran motor tersebut disimpan ketika mereka bertiga pergi ke Hong Kong, karena ternyata motor tersebut dapat terbang melewati mobil. Ciyaaaaat!

Film ini tidak hanya diberkahi oleh sederet adegan action yang penuh dengan adu jotos dan tembak-tembakan, tetapi juga dengan deretan dialog-dialog super yang dijamin akan terus menempel di ingatan sampai beberapa minggu ke depan. Rasanya cuma Azrax si jagoan idaman wanita yang setelah melumpuhkan penjaga dan membebaskan sandera lalu menyapanya dengan bilang "ciluk baa!". Belum lagi dengan deretan dialog-dialog Cantonese/English kaku yang diucapkan oleh para pemeran, yang gue curigai bukan asli Hong Kong tapi asli Pecenongan. Produser/aktor Gatot Brajamusti yang gue curigai memiliki kelainan narsisme akut pernah bilang bahwa target film ini memang untuk kelas menengah ke bawah, tetapi luar biasanya untuk adegan-adegan dengan bahasa asing tersebut tidak dilengkapi oleh subtitle! Oh gue lupa, ternyata gue segitu tidak cerdasnya untuk tidak dapat mengerti apa yang mereka katakan. Ah!


Perlu diketahui, film Azrax ini hanya mampu tayang di bioskop selama 4 hari kemudian langsung diturunkan kembali *ngakak* Tetapi kemudian media sosial pun ramai membicarakan film ini, sampai tercipta hashtag #XahabatAzrax. Film ini pun menjadi salah satu dari sekian film yang naik kembali ke bioskop, tepatnya Blok M Square.

Yes, ini adalah sebuah film yang sempurna. Sempurna hancurnya. Sesempurna itu hancurnya, hingga menjadikan film ini layak untuk ditonton. Yak, ditonton sambil ditertawai, tepuk tangan, hingga maki-maki sarkastis terhadap apapun yang ada di layar. Apalagi film ini membawa pesan berharga tentang gambaran mengenai apa yang terjadi pada TKW yang berada di luar negeri. Sebuah visualisasi dari berbagai pemberitaan yang hanya dapat kita baca di koran.

Jadi, bagi yang ingin menonton film ini, have fun!

It's so bad, it's good.



2013 | Indonesia | Action | 108 menit | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
4 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 20 September 2013 -

1 kritik:

 
Toggle Footer
Top