21 September 2013
One kritik

Insidious: Chapter 2

"Sekuel ini memang masih menakuti penonton dengan adegan jump-scare yang efektif, tetapi tensi dan ketegangannya masih kalah jauh dibanding film pertamanya"

Hanya dua bulan sejak tanggal rilis The Conjuring (2013), James Wan dan kawan-kawan tidak menunggu lama untuk merilis sekuel dari film horor berbudget rendah, Insidious (2011). Bagi yang ketinggalan chapter pertama, ini adalah salah satu film horor terseram yang pernah dibuat oleh sineas Barat (coba baca ulasannya disini). Kini Insidious: Chapter 2 (2013) melanjutkan kisah keluarga Lambert dan cerita dimulai dari beberapa jam setelah kejadian yang terjadi di film pertamanya.

Setelah menyelamatkan anaknya Dalton yang tersasar di dunia The Further, Josh dan istrinya Renai ternyata masih dihantui walaupun telah pindah ke rumah sang nenek Lorraine. Adanya penampakan, piano yang berdenting sendiri, hingga suara bisikan di kamar si bayi membuat Renai dan Lorraine tidak tenang. Sementara Josh semakin menunjukkan perilaku aneh. Bantuan pun datang dari Specs dan Tucker, rekan kerja Elise si paranormal yang meninggal secara tragis dalam film pertama. Kali ini mereka mengajak Carl, seorang teman lama Elise yang juga memiliki kekuatan dapat berkomunikasi dengan arwah. Mereka harus berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan nyawa dari keluarga Lambert.

Entah strategi apa yang ada di benak pihak studio ketika memutuskan untuk merilis film ini hanya berselang dua bulan dari The Conjuring, yang notabene berasal dari tangan sutradara yang sama dan genre yang sama. Strategi marketing memang dirasa cukup berhasil setelah The Conjuring mampu menjadi hype di berbagai kalangan, baik pecinta horor maupun bukan. Namun dari segi kualitas film, tampaknya ini yang dapat menjadi bumerang. Simply karena Insidious: Chapter 2 ternyata memiliki "rasa" yang jauh berbeda dari The Conjuring - bahkan berbeda pula dari film pertamanya.



Ketika Insidious hadir sebagai film horor yang memberi kengerian lewat suasana atmosfer dan secara psikologis dan The Conjuring dengan banyak adegan jump-scare sebagai homage terhadap horor klasik, Chapter 2 tampil berbeda. Tidak ada lagi kengerian psikologis dan membangun suasana ngeri layaknya franchise Insidious, sekuelnya kali ini lebih fokus pada jalan cerita.


So, you have been warned. Ketika menonton Insidious: Chapter 2, lepas dulu semua ekspektasi bahwa sekuel ini akan jauh lebih seram dari film pertamanya - atau dari The Conjuring. Adegan jump scare yang right-in-your-face memang tetap ada, dan harus gue akui, intensitasnya cukup untuk membuat gue berteriak spontan "anj*ng", ada beberapa adegan yang cukup disturbing juga. Sayang, cukup banyak adegan yang menunjukkan muka si hantu yang berupaya keras untuk mengagetkan penonton. Yes, it's nothing compare to its predecessor. Coba ingat apa yang telah diajarkan oleh guru spiritual anda; jangan membanding-bandingkan satu hal dengan hal lain! :P

Jika dilihat dari sisi lain, mungkin James Wan memang sengaja membuat Chapter 2 dengan rasa yang berbeda. Mungkin ia sudah belajar dari franchise Paranormal Activity dan sadar bahwa menyajikan hal yang sama pada sekuel, tidak akan sebegitu efektif; menakuti penonton yang sama dengan formula yang sama. Jadi formula apa yang dapat dengan tepat dan efektif menghibur penonton? James Wan mengambil jalan lain; jalan cerita yang penuh dengan liku dan kekuatan karakter-karakter yang ada.


Yes, jalan cerita dalam Insidious: Chapter 2 harus gue akui cukup cerdas dan sangat intelek. Sangat berkesinambungan pada film pertamanya, maka anda sebaiknya menonton dulu kisah awal keluarga Lambert dan berkenalan dengan The Further sebelum berangkat menonton sekuelnya ini. Berbagai misteri dan pertanyaan yang masih menggantung di film pertamanya, dijawab dengan jenius dalam sekuelnya. Bahkan tidak hanya satu - dua, tapi banyak adegan yang memiliki referensi terhadap film pertamanya. Belum lagi dengan plot twist yang ada, sampai teori baru yang diajukan oleh James Wan dan Leigh Whannell sebagai penulis naskah bahwa arwah/hantu tidak hanya terjebak dalam ruang tetapi juga waktu. Saking cerdasnya, James Wan seakan-akan membuat para penontonnya merasakan ingin kembali menonton film pertamanya - khususnya bagi mereka yang terlalu pengecut untuk menonton ulang Insidious (i'm pointing at my self :D).

Overall, menurut gue film ini mungkin lebih layak digolongkan pada genre paranormal thriller dibandingkan psychological horror. Meski tidak mengandung elemen-elemen se-mengerikan film-film James Wan sebelumnya, film ini tetap sangat menghibur lewat cerdasnya jalan cerita yang ada. Sayangnya bagi gue yang merupakan fans berat Insidious, gue sedikit tidak puas. Jika film ini memakai judul lain dan tidak ada sangku pautnya dengan Insidious (2011), mungkin gue akan memberi nilai yang lebih bagus.


USA | 2013 | Horror / Thriller | 106 min | Aspect Ratio 2.35 : 1



Scene During Credits? TIDAK (kecuali bagi anda yang ingin mendengarkan efek suara yang sangat disturbing sepanjang ending credits :D)

Scene After Credits? TIDAK

Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 21 September 2013 -

1 kritik:

  1. Gading.. colek dong kalau nyobek di Gading :))

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top