12 September 2013
0 kritik

Kick-Ass 2

"Sekuel ini berusaha keras untuk mengimbangi film pertamanya, namun kurang berhasil walaupun tetap menghibur"

Keberanian yang gila dan nekat dari Kick-Ass telah menginspirasi banyak orang di kota tersebut. Banyak pahlawan-pahlawan bertopeng pun bermunculan, dan mereka membentuk tim pahlawan Justice Forever yang dipimpin oleh Colonel Stars and Stripes. Sementara Dave Lizewski berusaha keras untuk menjadi pahlawan super sungguhan dengan berlatih bela diri bersama Mindy Macready. Disaat Dave telah menemukan jati dirinya sebagai Kick Ass dan bergabung dengan Justice Forever, giliran Mindy yang harus bergulat dengan jati dirinya sebagai anak 15 tahun yang baru masuk SMA. Sementara itu,Chris D'Amico menyiapkan rencana balas dendam atas kematian ayahnya dengan menjadi super villain berkostum *maaf* bondage yang bernama .... The MotherF*ck*r!

Lupakan The Avengers! Lupakan juga wacana Justice League! Yeah! Mari kita melihat para pahlawan super tanpa kekuatan super ini bersatu menjadi tim, untuk melawan tim penjahat super - yang tanpa kekuatan super pula. Sekuel kedua ini pun masih mengangkat tema superhero jadi-jadian dan dibalut dengan atmosfer humor satire serta ultra-violence yang sangat grafis. Berbagai ciri khas ini memang masih terlihat di film, termasuk adegan-adegan konyol yang memancing penonton untuk tertawa. Belum lagi dengan adegan-adegan gore yang berdarah-darah, plus bahasa kasar yang keluar dengan mudah dari setiap karakternya.

Ditinggalkan oleh sutradara/penulis naskah Kick-Ass (2010) Matthew Vaughn yang sedang asyik mengerjakan franchise X-Men, kini Jeff Wadlow yang mengambil posisi tersebut, tentunya dengan dibawah pengawasan Vaughn yang duduk sebagai produser. Tampaknya cukup terlihat bagaimana Wadlow yang berusaha untuk mengimbangi prekuelnya, sambil memasukkan unsur-unsur baru.


Di sekuel kali ini, film tidak hanya fokus pada Dave / Kick-Ass saja, tetapi juga menyoroti perkembangan psikologis dari Mindy / Hit Girl. Diangkatnya Mindy ke spotlight utama sepanjang film memang karena Wadlow berusaha menggabungkan dua komik dalam satu film; Kick-Ass dan Hit Girl (yes, Mark Millar membuat satu komik grafis khusus untuk karakter Hit Girl). Namun sayang, hasilnya malah Kick-Ass terlalu tenggelam dalam film ini, dan harus bergerak dibawah bayang-bayang Mindy dan Justice Forever. Spotlight memang akhirnya kembali ke Dave / Kick-Ass tapi tidak sampai tiga perempat terakhir film dengan satu kejadian turning point.

Gue mencintai film Kick-Ass (2010) karena sederet adegan konyol yang membuat gue spontan ngakak, sampai terkejut ketika melihat berbagai adegan gore. Oh yeah, itu adalah kombinasi yang freak sekaligus jenius. Belum lagi dengan jalan cerita yang cukup unpredictable, beberapa adegan yang sangat memorable, tatanan sinematografi yang asyik, plus soundtrack yang nge-rock! Selain itu, mungkin juga bahwa kisah superhero jadi-jadian ini adalah salah satu ide cerita yang sangat unik dan terbilang baru, yang kemudian di eksekusi secara brilian untuk menjadi media film.


Sayang seribu sayang, semua hal-hal tersebut tidak gue temukan di sekuel terbaru ini. Tidak ada tawa ngakak, tidak ada amaze terhadap beberapa adegan tertentu, lupa dengan mudah terhadap soundtrack yang ada, dan dapat menebak dengan mudah alur jalan ceritanya. Bahkan koreografi berantem yang ada pun tampak, oh well, begitulah. Gun play yang ada jelas kalah asyik kalau dibandingkan dengan film pendahulunya. Memang akhirnya Hit Girl menemukan lawan sepadannya, tetapi adegan klimaksnya saja masih kurang menggigit.

Entah siapa yang harus gue kambing-hitamkan untuk ini; Matthew Vaughn yang meninggalkan proyek ini, Jeff Wadlow yang mengeksekusi film ini sebagai sutradara, atau bahkan Mark Millar yang mengarang komik sekuel ini.

Tetapi hal ini bukan berarti bahwa Kick-Ass 2 tidak layak tonton sama sekali. Tidak, tidak, tidak! Penampilan Dave dan Mindy masih mengundang tawa, terutama dengan tingkah polah Justice Forever dan The MotherF*ck*r. Beberapa adegan memang kocak - kecuali adegan muntah yang rasanya berlebihan itu. Jika dibandingkan dengan film pendahulunya, jelas sekuel ini tertinggal jauh. Tapi jika dipandang sebagai film yang berdiri sendiri, film ini masih sangat menghibur.

Hmm... Apakah ini pertanda untuk menurunkan ekspektasi pada film-film sekuel berikutnya, misalnya Indisidious: Chapter 2? :D



USA | 2013 | Action / Comedy / Crime | 103 min | Aspect Ratio 2.35 : 1


Scene During Credits? TIDAK 

Scene After Credits? YA 

Wajib 3D/IMAX? TIDAK (film ini tidak dibuat dalam format 3D atau IMAX)

Wajib 4DX? TIDAK (film ini hanya memiliki sedikit adegan potensial untuk format 4D)

Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 12 September 2013 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top