05 July 2013
3 kritik

The Lone Ranger




"Adaptasi terbaru The Lone Ranger ini memang komikal dan penuh adegan aksi, tapi kehilangan arah dengan banyak adegan tidak penting dan inkonsistensi nuansa film"

The Lone Ranger adalah pahlawan Amerika yang cukup tua, hanya terpaut lima tahun lebih muda ketimbang Superman yang diciptakan pada tahun 1933. Konsep awal film The Lone Ranger yang lahir dari serial TV, ternyata tidak begitu sukses ketika diterjemahkan ke dalam konsep film panjang di layar lebar. Setelah 4x usaha menampilkan jagoan tembak mantan ranger bertopeng ini pada tahun 1949, 1956, 1958, dan 2003, tim pembuat film trilogi Pirates of the Caribbean yang terdiri dari produser Jerry Bruckheimer, sutradara Gore Verbinski, dan tim penulis naskah Ted Elliot dan Terry Rosio pun mencoba peruntungan mereka dalam adaptasi terbaru Lone Ranger. Tidak cukup bermodalkan reputasi besar, mereka kembali bekerja sama dengan aktor watak Johnny Depp, merekrut partner aktingnya Helena Bonham Carter, dan memasang aktor yang sedang naik daun Armie Hammer sebagai pemeran utama.

Tonto, seorang pejuang Indian menceritakan tokoh pahlawan The Lone Ranger atau John Reid yang bertransformasi dari seorang hamba hukum yang taat dan percaya bahwa tidak perlu menggunakan pistol untuk menegakkan keadilan menjadi seorang pahlawan keadilan bertopeng. Memiliki tujuan untuk memburu penjahat yang sama, John Reid yang lugu dan terkadang tampil kikuk harus menyesuaikan diri dengan Tonto yang berperilaku aneh namun sangat membantu dalam perburuan mereka. Bersama, mereka harus memburu penjahat sadis Butch Cavendish, untuk kemudian membongkar konspirasi dari perusahaan kereta api yang sedang dibangun di penjuru Texas.


Film ini memang memiliki popcorn matters yang cukup tinggi. Dengan berbagai adegan aksi mulai dari tembak-menembak dan kejar-kejaran a la koboi hingga kejar-kejaran yang menggunakan media kereta api, hingga lelucon-lelucon konyol dari tingkah laku John Reid dan Tonto memang sangat menghibur. Namun entah mengapa cukup banyak adegan-adegan yang tidak begitu berarti dan berhubungan dengan inti cerita sehingga durasi 149 menit menjadi seakan terlalu panjang dan agak membosankan. Selain itu, entah mengapa Mr. Verbinski tidak begitu konsisten dengan tone yang ada dalam film ini. Ketika penonton disajikan adegan aksi dan penuh dengan petualangan, tiba-tiba adegan berikutnya berisi tingkah laku dan interaksi komikal antara John Reid dan Tonto dengan proporsi yang cukup besar, lalu kemudian warna film kembali menjadi adegan aksi. Inkonsistensi suasana film ini yang ternyata membuat saya cukup lelah untuk mengikuti arah dan tujuan dari film ini.

Mungkin akan lebih baik jika setiap adegan lelucon a la Johnny Depp dijadikan sebagai unsur pelengkap saja dan bukan unsur utama seperti yang ada dalam film ini. Adegan-adegan komikal dalam film ini malah memiliki porsi yang sama besar dengan adegan-adegan aksi, yang lama-kelamaan malah melunturkan esensi kocak dari adegan komikal selanjutnya. Namun rasanya Mr. Verbinski seakan-akan ingin menciptakan karakter yang sama kuat dan komikal dengan karakter Jack Sparrow yang diperankan oleh Mr. Depp dengan sukses. Karakter Tonto dalam film ini memang sangat kuat, apalagi dengan akting tanpa cela dari Mr. Depp, tetapi malah menenggelamkan karakter John Reid yang padahal menjadi titik gravitasi utama dalam film The Lone Ranger.


The Lone Ranger merupakan sebuah nostalgia bagi Gore Verbinski terhadap film western, setelah menyutradari film animasi Rango (2011). Bahkan, Mr. Verbinski memakai formula yang sama yang telah dipakai dalam Rango ke dalam The Lone Ranger; karakter utama yang kikuk dan konyol, from zero-to-hero, dan membongkar konspirasi jahat berkedok kebaikan untuk semua orang. Ditambah dengan orkestrasi Hans Zimmer yang jenius dalam menerjemahkan ulang komposisi theme score The Lone Ranger ke konteks modern yang membuat adegan finale dalam film ini cukup berkesan.

Dengan unsur lelucon dan action, film ini memang cukup menghibur di waktu luang. Tapi andai Mr. Verbinski lebih fokus dalam tone film dan berani membuang adegan-adegan yang kurang penting untuk mereduksi durasi film, mungkin The Lone Ranger akan menjadi tontonan yang jauh lebih menarik dan menaikkan nilai ratingnya di mata para kritikus film.



USA | 2013 | Action / Adventure / Comedies / Westerns | 149 min | 2.35 : 1


Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 5 Juli 2013 -

Nominated for Best Visual Effects, Academy Awards, 2014

3 kritik:

  1. Betul, film ini terlalu panjang, terkadang membosankan adegannya, tetapi kenapa saya suka mungkin karena sekedar bernostalgia saja. Ketika kecil saya cukup rajin mengikuti serial televisi ini (Hmm, ketahuan usia kalau begitu ya. Ha ha).

    Setelah menonton film ini, barulah saya tahu kenapa dia bernama "Lone Ranger" dan apa hubungannya dengan Tonto, sehingga mereka menjadi dua sekawan.

    Oh ya betul juga kalau film ini memang menyentil rasa nostalgia bagi kelompok usia tertentu. Saat nonton saya baru menyadari bahwa genre film "western" itu memang sudah tidak banyak diproduksi (atau bahkan tidak ada?) pada tahun 1990an ke atas. Lone Ranger dan Django memang membangkitkan kembali genre tersebut, tetapi dengan sentuhan kontemporer. Yang saya maksudnya sentuhan di sini, bisa teknik sinematografinya tetapi bisa juga teknik penceritaan yang pada zaman sekarang diusahakan selalu "politically correct" :-)

    Oops, kepanjangan ya comment saya, Kemosabe? :-)

    ReplyDelete
  2. Iya saya bisa bayangin sih nostalgia itu, apalagi kalau denger theme score-nya di adegan klimaks. Ditambah dengan aransemen modern ala Hans Zimmer, WOW!

    Wah saya baru tahu kalau genre western sudah meredup di tahun 1990-an. Tapi masih ada beberapa sineas yang mencoba membangkitkan kembali genre itu, meski hanya berupa remake seperti True Grit-nya Coen Brothers dan 3:10 to Yuma. Ada juga sih yang orisinil ya macam Django Unchained dan Seraphim Falls. Tapi memang cukup sedikit sih dibanding era sebelum 90-an.

    Btw terima kasih loh sudah mau komen panjang! Tercapai pula media blog ini sebagai tempat diskusi bagi sesama pecinta film :D

    ReplyDelete
  3. I had good time watched this one, mayan lah, not very bad, heran aja koq bisa flop nih film, nasibnya idem dito dgn john carter....emang jaman sekrg perolehan box office film kgk bisa tergantung dr nama besar aktornya aja,itu ud bukan jaminan filmnya akan laris manis, seperti di pacific rim yg tdk didukung oleh A class aktor hollywood yg ternama,n kritikus dah ramalin bakalan flop nih film, eh ud dirilis malahan ratingnya tinggi n dipuja-puji, btw liat depp disini sbg tonto ibarat liat jack sparrow yg terdampar di gurun....tingkah lakunya yg nyentrik mirip abis....
    p.s salam kenal gan :-). ane biasanya komen di blog movie agan reyner(cinephilediaries) baru 1st time mampir disini, gara2 liat tautan link review man of taichi di imdb , blog agan informatif n bagus juga, senang bisa mampir n komen di sini :-)


    Salam sesama moviegoers :-)

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top