12 July 2013
0 kritik

Pacific Rim

"Sangat menghibur secara visual dan audio, tapi masih terlalu America-minded"

Ketika monster-monster yang berasal dari dasar laut, Kaiju, menyerang kota-kota pelabuhan di seluruh penjuru dunia, manusia berupaya segala cara untuk menghadang dan membunuh monster setinggi gedung 25 lantai tersebut. Sampai pada akhirnya manusia bergantung pada robot besar, Jaeger, yang dikendarai oleh dua pilot dengan teknologi tercanggih yang mensinkronisasi pikiran antara kedua pilot untuk menggerakkan Jaeger. Ketika serangan Kaiju makin sering dan destruktif, dunia tidak memiliki pilihan lain selain bergantung pada pasangan pilot yang sama-sama berjuang menghadapi masa lalunya. Bersama, mereka menjadi harapan terakhir ras manusia untuk menghindari kiamat.

Setelah menghilang dari kursi sutradara selama 5 tahun semenjak Hellboy II: The Golden Army (2008), Guillermo del Toro kini kembali dengan hasratnya terhadap monster-monster dengan wujud yang mengerikan dan aneh. Pecinta film sadar benar bahwa del Toro telah meramaikan dunia perfilman dengan kreasi monster-monster anehnya, khususnya dalam Hellboy dan Pan's Labyrinth (2006). Setelah malang-melintang di belakang layar sebagai tenaga kreatif, kini del Toro kembali duduk di kursi sutradara untuk "membuat puisi terhadap monster raksasa". Kecintaannya terhadap film-film robot asal Jepang juga membuat ia menghadirkan robot-robot besar untuk melawan dan membunuh kreasi termegah del Toro tersebut, yang seakan membuat Autobots dan Decepticons tampak seperti mainan anak-anak.



Diberkahi dengan budget raksasa sekitar 180 juta dollar - yang rata-rata setara dengan setiap sekuel dari Transformers - del Toro memanfaatkan hal tersebut semaksimal mungkin. Visual efek yang mengagumkan dan sangat eye-candy. Di awal film, penonton disajikan bagaimana tahapan kedua pilot yang memakai helm mirip helm milik Daft Punk dalam melakukan "neural handshake" dengan Jaeger mereka secara detil. Setiap adegan pertarungan antara Jaeger dengan Kaiju pun dapat dinikmati dengan nyaman, ditambah dengan perasaan betapa kecilnya kita diantara dua raksasa ini. Efek 3D-nya juga lumayan membantu, meski tidak dilengkapi dengan depth dan pop-out mengingat memang del Toro tidak membuat film ini dalam konsep 3D. Yang menarik adalah, ratio gambar dalam film ini yang 1.85 : 1, yang berarti akan tampil maksimal tanpa dua garis di atas dan bawah dalam studio IMAX. Slurps!


Jika ada hal yang kurang saya sukai, mungkin betapa del Toro masih menggunakan formula USA-is-the-hero-of-the-earth, entah ingin meraup penonton sebanyak-banyaknya di tanah AS atau menyebarkan pesan implisit kepada dunia bahwa AS memiliki teknologi dan SDM terbaik di planet bumi. Penonton telah dihibur dengan tampilnya Crimson Typhoon, Jaegers asal Cina yang memiliki tiga tangan, atau Cherno Alpha asal Rusia. Namun kedua Jaeger ini harus kalah pamor dari Gypsy Danger yang asal AS. Belum lagi dengan pidato over-dramatis sebelum final battle dengan Kaiju, yang sangat khas dengan film-film perang atau pra-apocalypse di sinema Hollywood.

Diluar hal yang terlalu membanggakan satu-satunya negara adidaya tersisa di muka bumi itu, Pacific Rim tetap menjadi tontonan yang sangat menghibur dan menarik. Dengan menonton film ini, anda telah mendukung upaya Guillermo del Toro yang melakukan penghormatan besar terhadap film-film Kaiju asal Jepang, mulai dari versi anime seperti Evangelion sampai ke film live-action seperti Godzilla. Dari heavy visual effect dan efek suara yang akan menambah kegaduhan peperangan umat manusia dengan monster raksasa, adalah wajib hukumnya menonton film ini di layar lebar - selebar mungkin - dan bioskop dengan tata suara yang apik.


USA | 2013 | Action / Fantasy / Sci-Fi | 131 min | 1.85 : 1

Wajib 3D? YA

Scene During Credits? YA (di pertengahan ending credits)

Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 12 Juli 2013 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top