09 July 2013
0 kritik

Despicable Me 2

"Lebih lucu, lebih ngawur, lebih menggemaskan, namun kehilangan arah dari karakter utamanya, Gru"

Dalam Despicable Me 2, Gru sedang menjalani hidup berkeluarga dan banting setir dari kegiatan menguasai dunia menjadi bisnis selai, sebuah laboratorium rahasia yang mengembangkan serum berbahaya di Antartika dicuri. Sebuah organisasi rahasia, Anti-Villain League (AVL), membutuhkan bantuan mantan penjahat untuk menginvestigasi siapa pelaku pencuri serum tersebut. Ditemani oleh agen Lucy Wilde, mereka berdua melakukan penyelidikan yang membawa mereka mencurigai salah seorang yang diduga penjahat yang telah mati, El Macho. Sayangnya dalam usahanya untuk melakukan investigasi tersebut, para minionnya diculik satu persatu untuk dijadikan senjata maut.

Rumah produksi asal AS yang didirikan pada tahun 2007 oleh mantan presiden 20th Century Fox Animation, Illumination Entertainment mungkin sedang menikmati masa jayanya. Ketika film panjang animasi pertamanya, Despicable Me (2010), laris manis di pasaran, strategi sekuel pun dijalankan untuk tetap menghidupkan karakter Gru dan para minion serta meraup lebih banyak keuntungan. Duet sutradara Pierre Coffin dan Chris Renaud sadar betul bahwa karakter minion yang kuning dan lucu menggemaskan begitu dicintai oleh publik, sehingga mereka memutuskan untuk memberikan porsi yang lebih banyak pada sekuel kali ini. Namun sayang, keputusan tersebut malah membuat nyawa dari Despicable Me melenceng jauh. Alih-alih banyak bercerita tentang Gru yang seorang (mantan) penjahat yang kemudian beralih profesi menjadi bapak rumah tangga, Despicable Me 2 lebih berat sebelah pada minions, minions, dan minions.



Jangan salah, saya suka minions. Saya menanti-nantikan setiap kehadiran makhluk kuning ini di layar dan dibuat sangat terhibur oleh tingkah polah mereka dan ajaib. Oh, dan juga dialog-dialog meaningless mereka yang menggemaskan. Tapi rasanya kehadiran mereka terlalu besar porsinya sehingga seakan membuat kisah investigasi Gru dan Lucy Wilde menjadi tidak penting. Apalagi ditambah dengan side story tentang bagaimana Gru yang over-protective pada anak-anak angkatnya, khususnya Margo, menjadi semakin tenggelam diantara lautan minions. Sementara porsi besar minions dalam film ini memang cukup logis mengingat mereka menjadi titik gravitasi utama mengapa jalur cerita dalam film tercipta. Tapi bukankah film ini tentang Gru, dan bukan Minions? Yang jelas, Despicable Me 2 akan menjadi stepping stone yang pas bagi Illumination Entertainment untuk memperluas universe dari Gru dan para minions dalam film spin-off Minions yang akan keluar akhir tahun 2014 nanti.


Diluar jalan cerita yang seakan berserakan tak tentu arah dan sulit untuk fokus pada cerita utama, Despicable Me 2 menyajikan animasi tiga dimensi yang mengagumkan. Film ini dibuat dengan konsep 3D, yang tentunya akan membuat sensasi menonton film ini dengan versi 3D menjadi maksimal. Efek depth dan pop-out memang tidak banyak namun cukup mudah dilihat di sepanjang film sebagai efek lingkungan seperti percikan api dari ledakan atau gelembung-gelembung sabun. Seperti prekuelnya, para minions akan tetap menghibur selama ending credits berjalan. Jadi, tahan sebentar kebeletnya dan cuekin para staf bioskop yang memberikan tatapan "cepet-keluar-gue-mau-beres-beres-!" :D



USA | 2013 | Animation | 98 min | 1.85 : 1

Wajib 3D? YA

Scene During Credits? YA (selama setengah pertama dari ending credits)

Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 9 Juli 2013 -

Nominated for Best Animated Feature, Academy Awards, 2014

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top