13 March 2013
0 kritik

Warm Bodies

"Kisah romansa antara manusia dengan zombie, yang merupakan parodi dari kisah-kisah sejenisnya, surprisingly brilian dengan plot yang cerdas, akting natural, dan heart-warming"

Sulit untuk menahan tawa meremehkan jika mengetahui premis dari film Warm Bodies yang diangkat dari novel berjudul sama ini. Latah serial Twilight dengan kisah cinta antara manusia dengan makhluk lain? Atau satu lagi B-class film zombie? Ternyata gue harus belajar untuk tidak men-judge film ini hanya dari premis dan posternya. Berbagai resensi dan referensi yang gue baca, ternyata memang ini adalah kesengajaan intensi dari pengarang novelnya, Isaac Marion, untuk membuat mock-up dari serial kisah cinta antara manusia dengan vampire itu. Substitusi dari vampire menjadi zombie. Cerdasnya, Isaac menambahkan unsur referensi ceritanya dari roman tragedi Romeo & Juliet. Lalu semua itu diangkat ke dalam film oleh sutradara sekaligus penulis naskah Jonathan Levine, yang pernah membuat penonton tertawa sekaligus tersentuh hatinya lewat film 50/50 (2011).

R adalah seorang pemuda yang instropektif dan ingin sekali mencari tujuan hidup. Hanya masalahnya, dia telah mati. Sebagai seorang zombie yang sangat sulit mengucapkan satu-dua kata, dia tetaplah seorang zombie yang butuh makan; daging manusia. Di sebuah serangan zombie yang berkelompok terhadap sekelompok manusia yang sedang mencari obat-obatan, R melihat sosok Julie dan merasakan sesuatu dalam dirinya. Pada adegan ini, gue kembali mengingatkan penonton bahwa ini adalah film mock-up, dan adegan ini dengan sukses mengeksekusi bagaimana cheesy-nya seorang zombie yang jatuh hati pada pandangan pertama kepada seorang wanita muda berambut pirang dan memegang senjata berat. Kemudian menembak si R. Haha!

Dikelilingi oleh para zombie yang haus darah dan daging manusia, R merasa bahwa ia harus melindungi Julie agar tetap hidup. Beberapa hari menghabiskan waktu bersama yang sangat canggung, ternyata membuat R secara perlahan mengembalikan sisi kemanusiaannya. Sadar bahwa para zombie ini, termasuk R, dapat sembuh sendiri dan kembali menjadi manusia, posisi R dan Julie pun bergeser ke area abu-abu. Terjebak diantara perang antara manusia yang paranoid terhadap zombie dan para zombie yang menyelamatkan diri dari para Bonies (zombie berbentuk tulang-belulang yang kanibal), R dan Julie harus mencari cara untuk dapat menjembatani dua kubu tersebut.


Singkat kata, film ini surprisingly beautiful, touching, and heart-warming. Akting yang total dari pada pemainnya, termasuk dari para zombie. Konon, mereka sama sekali tidak berkedip ketika berakting sebagai zombie. Nicholas Hoult sebagai R pun tampil total menjadi mayat hidup, dengan gaya berjalan dan gerakan tubuh yang sangat meyakinkan. Yang menarik adalah komunikasi antara R dengan temannya, M, yang hanya 2-4 kata saja tapi membuat penonton dapat mengerti dengan jelas apa yang mereka maksud. Belum lagi dengan deretan soundtrack yang eargasm dan ternyata cukup cocok untuk dipasangkan dengan adegan yang ada.

Saran gue, jelas sulit untuk tidak judge the film by its poster, tapi cobalah tonton dulu film ini. Apalagi untuk mereka yang gemar dengan genre zombie, film ini jelas menawarkan hal baru dan segar di akhir film.




USA | 2013 | Romance / Comedy / Horror | 98 mins | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 13 Maret 2013 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top