04 March 2013
One kritik

Beasts of the Southern Wild

"Film imajinatif dan metaforik yang menggambarkan proses perkembangan anak perempuan 6 tahun dalam menghadapi realita hidup yang menyulitkan"

Di sebuah komunitas rawa di ujung dunia, hiduplah seorang anak perempuan berumur 6 tahun, Hushpuppy, yang harus hidup di bawah garis kemiskinan dan hanya dibesarkan oleh ayahnya, Wink. Ketika temperatur bumi meningkat dan melelehkan gunung-gunung es di kutub utara dan selatan, keberlangsungan komunitas rawa yang hidupnya sangat bergantung pada tinggi permukaan air laut ini pun terancam. Belum lagi dengan kesehatan Wink yang semakin menurun karena terkena penyakit misterius, kerinduannya untuk bertemu kembali dengan ibunya, dan ancaman binatang prehistorik yang hidup kembali, membuat pahlawan kecil kita Hushpuppy untuk berdiri tegak dan menahan air mata untuk menghadapi realita yang berada di depannya.

Secara mengejutkan, Beasts of the Southern Wild bercerita dengan gaya yang unik dan sangat dekat dengan karakter utama kita yang berumur 6 tahun. Seakan mengambil sudut pandang dari karakter Hushpuppy, narasi film ini mencampur-adukkan dunia nyata dengan dunia imajinasi. Permukaan air laut memang meningkat. Gletser dan gunung es memang mencair. Keberadaan komunitas rawa yang memang ada di dunia yang kita tinggali memang terancam. Namun kehadiran Aurorch, binatang prehistorik yang hidup kembali dari es yang mencair dan mengancam Hushpuppy dan komunitas rawanya, menjadi simbol metafora tersendiri sebagai representasi akan realita hidup yang selalu menghantui manusia sejak jaman manusia gua.


gambar diambil dari RottenTomatoes
Yang mengejutkan adalah bagaimana sutradara debutan sekaligus penulis naskah Benh Zeitlin dengan vulgar dan apa adanya memperlihatkan bagaimana pola asuh dari keluarga disfungsional yang hidup di bawah garis kemiskinan dan terjerat oleh candu minuman keras. Tanpa ampun kita melihat bagaimana Wink berkata kasar, membentak, bahkan melakukan kontak fisik yang kasar terhadap Hushpuppy. Jika perilaku ini ditarik ke orang-orang sekitar Wink, penonton dibuat seakan mau tidak mau memaklumi. Komunitas rawa yang masih bertahan ketika ancaman permukaan air laut meningkat ini memang memiliki cara pandang yang berbeda dari orang kebanyakan. Harga diri, pendirian, dan kecintaannya akan tempat asal mereka yang membuat mereka bertahan, bahkan kembali lagi ketika pemerintah dan lembaga sosial mengevakuasi mereka secara paksa. Entah karena ilusi idealisme atau kecanduan akut terhadap alkohol yang membuat mereka memilih pilihan itu. Tapi ini adalah contoh fiksi, yang mungkin merupakan representasi dari beberapa kelompok manusia yang ada di dunia yang kita tinggali, dimana mereka hidup di pinggir dari kehidupan sosial modern. Sudah banyak pilihan hidup yang lebih baik - secara material - namun mereka memilih untuk tetap berburu dari binatang air dan darat dan hidup di sebuah rumah beratapkan seng yang selalu bocor disaat hujan deras.

Kekuatan, cinta, komunitas, dan determinasi memang menjadi semangat utama dalam Beasts of the Southern Wild. Bahwa cinta antara ayah dengan anak dan cinta antara komunitas manusia dengan alam adalah hal yang romantis yang membuat manusia tetap menjustifikasi segala pilihan (yang terkadang tidak baik) yang mereka buat dalam hidup. Kekuatan inilah yang membuat mereka bertahan hidup di tengah realita sadis yang datang. Yang terkadang tampak sebagai ilusi idealisme semata dan dilabeli anti-modernitas. Film ini hadir sebagai deskripsi yang jelas, bahwa memang ada komunitas manusia yang memiliki cara pandang seperti ini. Cara pandang yang menurut manusia modern akan tampak aneh; ketika segala hal telah dimudahkan oleh sistem dan teknologi, mengapa jalan hidup berburu dan harus bertempur dengan alam secara tatap muka harus dipilih?
gambar diambil dari RottenTomatoes

Film ini dibuat dengan segala keterbatasannya, seakan menggambarkan keterbatasan yang dialami oleh para karakter yang ada dalam film ini. Film ini adalah film panjang pertama yang diarahkan oleh sutradara Benh Zeitlin, film ini juga menjadi film pertama bagi aktris cilik berbakat, Quvenzhane Wallis, yang belum pernah berakting sebelumnya. Namun luar biasanya, akting pertama ini malah membawa Wallis ke nominasi Oscar 2013, bersanding dengan nama-nama besar seperti Jennifer Lawrence, Jessica Chastain, Naomi Watts, dan Emmanuelle Riva. Wallis juga mencetak rekor tersendiri dengan menjadi aktris termuda - 9 tahun - yang dinominasikan dalam Best Leading Actress.

Pada akhirnya, film ini tampak ingin mengungkapkan bahwa memang kejadian-kejadian buruk yang terjadi di kehidupan kita tidak terelakkan, bahkan terkadang perlu. Ketika insting manusia sejak jaman purba untuk menghindari kejadian-kejadian dan masalah-masalah tersebut, mungkin terkadang kita perlu dengan keberanian untuk menghadapi dan menerima hal-hal buruk tersebut. Untuk kemudian menemukan cara untuk mengatasi hal tersebut. Sama seperti bagaimana Hushpuppy yang berdiri tegak, tanpa air mata, menghadang kawanan Aurorch yang tadinya ingin membunuhnya.



Nominated for Best Motion Picture, Best Director, Best Leading Actress (Quvenzhane Wallis), and Best Adapted Screenplay in Academy Awards, 2013.
Won for Un Certain Regard, Golden Camera, Prix Regards Jeune, Prize of the Ecumenical Jury Special Mention in Cannes Film Festival, 2013.
Won for Grand Jury Prize and Cinematography Award in Sundance Film Festival, 2013.

Rating?
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop ke-700 tertanggal 4 Maret 2013 -

1 kritik:

  1. Setting film yang kumuh dengan segala keterbatasan yang dimiliki masing-masing karakternya, berhasil berpadu secara menarik sehingga menghasilkan film yang begitu ciamik. Sederhana dan jujur. Gue setuju sekali dengan review ini :)

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top