05 March 2013
2 kritik

Silver Linings Playbook


"Kisah pria bipolar yang berdinamika dalam menjalani hubungan percintaannya, yang emosional, dramatis, romantis sekaligus komedik, membuat Silver Linings Playbook sebagai tipikal film yang menghangatkan hati mulai dari detik pertama film hingga beberapa hari setelah menontonnya"

Film ini membuat mata dan telinga saya terpaku terhadap layar bioskop sejak detik-detik pertama filmnya. Menit demi menit berlalu, ketertarikan dari panca indera saya itu pun mulai merasuk ke emosi dan perasaan yang saya miliki. Benar saja, saya mendapatkan perasaan heart-warming itu di waktu yang cukup dini dalam durasi film. Perasaan itu pun bertahan secara konsisten hingga akhir film, bahkan beberapa hari setelah saya menontonnya. Sulit untuk mengkategorikan film ini ke dalam sebuah genre spesifik, tapi saya mendeskripsikannya sebagai film drama komedi romantis dengan back story dan story line yang sangat unik dan orisinil sekaligus sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Dengan karakter yang menarik, plot cerita yang membangkitkan rasa penasaran, serta komedi-komedi yang sederhana namun kena, menjadikan film ini sangat mudah untuk menyentuh hati setiap penonton dari berbagai kalangan.

Silver Linings Playbook bercerita tentang Pat (Bradley Cooper), seorang guru yang baru saja keluar dari sebuah Rumah Sakit Jiwa karena kondisi mood swings-nya “meledak” ketika dia memergoki istrinya yang selingkuh dengan pria lain. Selepas keluar dari RSJ dengan pembebasan bersyarat, Pat harus kembali tinggal bersama ayah dan ibunya (Robert De Niro dan Jacki Weaver) dan berusaha segala cara untuk mengembalikan hubungan baiknya dengan istrinya. Dalam usaha untuk menghubungi istrinya di tengah perintah pembatasan jarak di antara mereka, Pat bertemu dengan Tiffany (Jennifer Lawrence) yang juga memiliki masalahnya sendiri. Dengan keadaan depresif dan trauma pasca meninggalnya suaminya, Tiffany membantu Pat untuk menghubungi istrinya dengan sebuah syarat; Pat harus menemani Tiffany untuk menjadi pasangan dalam sebuah lomba dansa. Sama-sama ingin keluar dari kondisi desktruktif namun dengan cara dan prinsip yang berbeda, perjalanan latihan dansa Pat dan Tiffany akan membuat mereka mampu mengatasi kejadian traumatik di belakang mereka dan menemukan jalan kehidupan baru yang lebih baik.

Film yang diangkat dari novel karya Matthew Quick ini adalah salah satu dari sekian banyak cerita asal AS dimana karakter utamanya mengalami sebuah kondisi gangguan mental dan bagaimana dirinya berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Dari sekian banyak film yang bercerita tentang karakter dengan kondisi mental-illness, film ini menjadi berbeda dengan bagaimana sutradara dan penulis naskah David O. Russell tidak ingin mendikte penontonnya dengan label penyakit yang stereotipikal. Film ini secara konsisten hanya fokus pada karakternya dan bukan pada labelnya. Film ini tidak memfokuskan diri pada diagnosis dari mental-illness tersebut dengan proporsi yang berlebihan sehingga menjadikan film ini cukup mudah untuk direlasikan dengan orang-orang dengan kondisi mental-illness diluar dari diagnosa yang ada dalam film ini. Bahkan orang-orang yang tanpa kondisi mental-illness pun dapat merelasikan dirinya dengan karakter-karakter yang ada dalam film ini. Mungkin bisa saja hal ini dimaksudkan untuk memberi contoh kepada kita para penontonnya agar tidak terlalu terobsesi mencari label dari diagnosa mengapa seseorang bersikap seperti itu, melainkan simply hanya berinteraksi dengan normal dan membuatnya menjadi manusia yang lebih baik.

gambar diambil dari RottenTomatoes
Mungkin Pat adalah pria yang mengalami penyakit bipolar dengan mood swings-nya yang kurang dapat dikendalikan, dengan kesulitannya untuk memahami realita yang terjadi, dengan kegagalannya untuk belajar dari kesalahan masa lalunya. Mungkin juga Pat adalah pria dengan kondisi autisme jenis Aspergesm dengan bagaimana kecanggungannya untuk berhubungan sosial terutama dengan orang baru. Apapun itu label dan diagnosa yang ada dalam Pat, akibat dan konsekuensi dari kondisinya tersebut tetaplah sama dan sangat dramatik; kehilangan pekerjaan, hubungan asmara yang berantakan, optimisme yang berlebihan, efek mood swings yang destruktif pada orang-orang sekitar, serta perasaan bahwa tidak ada orang yang dapat mengerti dirinya bahkan dirinya sendiri. Efek-efek interaksi dengan orang lain inilah yang dideskripsikan dengan natural dan akurat dalam film ini. Lebih jauh lagi, film ini juga menitik-beratkan pada usaha Pat untuk menjadi pribadi yang lebih baik dengan semangat "excelsior"-nya yang akan menjadi lapisan perak (silver linings) yang cantik untuk melapisi dan mengatasi keterbatasannya.

Menjadi lebih menarik ketika Pat dengan segala macam kondisinya dipertemukan dengan karakter Tiffany yang ternyata memiliki kondisinya tersendiri (lagi-lagi tanpa label spesifik dan hanya fokus pada perkembangan karakternya). Interaksi diantara pribadi yang memiliki sederetan kondisi mental-illness dan bagaimana perkembangan dan dinamika diantara interaksi mereka berdua inilah yang menjadi nyawa dan titik gravitasi dalam film ini. Perkembangan karakter dan dinamika interaksi Pat dan Tiffany ini yang menjadi penggerak alur cerita 122 menit ini. Kocak, tersentuh, miris, dan gregetan menjadi campur aduk melihat bagaimana setiap kali mereka berdua bertemu dan berdialog satu dengan yang lain. Setiap karakter mereka bertemu, selalu diiringi dan diakhiri dengan kejadian luar biasa yang mengejutkan masing-masing dari mereka dan juga penonton. Kencan makan malam pertama mereka yang berakhir canggung sekaligus miris dan dramatis karena ucapan-ucapan Pat yang memang kesulitan untuk menyaring kata-kata yang ternyata menyinggung Tiffany yang over-sensitive dengan situasi yang dialaminya, atau ketika ternyata Tiffany seakan menguntit rute jogging Pat setiap hari. Interaksi-interaksi yang tidak dapat diprediksi ini yang membuat penonton menunggu-nunggu adegan dimana mereka bertemu lagi sekaligus merasa khawatir dan was-was kejadian apalagi yang akan terjadi selama pertemuan mereka.
David O. Russell juga sangat apik dalam mengatur proporsi side story yang ada dalam film ini. Side story tentang ayah Pat yang ternyata memiliki kondisi OCD (Obssesive-Compulsive Disorder) dan begitu superstitious soal pertandingan football, atau orang tua dari Tiffany yang begitu protektif terhadap setiap pria yang datang ke rumahnya dengan maksud lain hadir dalam film dengan proporsi yang cukup dan tidak mengalihkan fokus utama dari Pat-Tiffany. Setiap side story ini memang penting untuk diangkat dan hasilnya seakan memberi tambahan dan menyempurnakan kisah utama Pat-Tiffany. Ditambah dengan unsur komedi yang juga bertambah secara signifikan dengan kehadiran side story ini. Bicara soal komedi, yang saya suka dari film ini adalah komedi-komedi yang ditampilkan cukup cerdas. Dalam artian, jika penonton memang tepat menangkap komedi tersebut maka mereka akan tahu kapan saatnya untuk tertawa.

Film ini adalah tipikal film yang dapat dengan mudah ditonton berkali-kali, karena merasa candu dengan perasaan bahagia dan hangat ketika menonton film ini. Dengan ide cerita yang unik, eksekusi cerita yang sangat baik, komposisi akting dari setiap karakternya yang natural dan meyakinkan, serta emosi dari film yang mampu menarik penonton menjadikan film ini nyaris sempurna sebagai film dengan kategori drama romantis-komedi. Sekedar informasi, film ini menjadi yang pertama semenjak Reds (1981) yang mendapat nominasi Oscar di empat kategori akting (Best Supporting Actor, Best Supporting Actress, Best Lead Actor, Best Lead Actress) dan menjadi film pertama semenjak Million Dollar Baby (2004) yang mendapat nominasi “The Big Five” di Oscar (Best Motion Picture, Best Screenplay, Best Director, Best Lead Actor, Best Lead Actress).



Won for Best Lead Actress (Jennifer Lawrence), Nominated for Best Motion Picture (Donna Gigliotti, Bruce Cohen, Jonathan Gordon), Best Director (David O. Russel), Best Adapted Screenplay (David O. Russel), Best Lead Actor (Bradley Cooper), Best Supporting Actor (Robert De Niro), Best Supporting Actress (Jackie Weaver), Best Editing (Jay Cassidy, Cripsin Struthers) in Academy Awards, 2013.
Won for Best Actress (Jennifer Lawrence), Nominated for Best Motion Picture – Musical or Comedy, Best Actor (Bradley Cooper), Best Screenplay (David O. Russel) in Golden Globe, 2013.
Won for Best Adapted Screenplay (David O. Russel), Nominated for Best Leading Actor (Bradley Cooper), Best Leading Actress (Jennifer Lawrence), in British Academy of Film and Television Arts (BAFTA) Awards, 2013.

USA | 2012 | Drama / Romance / Comedy | 122 mins | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
10 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 5 Maret 2013 -

2 kritik:

  1. waw 10? gue ga berharap banyak padahal dari film ini. dicoba ditonton deh.

    ReplyDelete
  2. Lebih suka baca bukunya, tapi setuju mengenai film ini enak utk di tonton berkali2 :) Film ttg hubungan dua manusia dgn kondisi masing2 & ternyata mrk bisa menemukan kebahagiaan - I always Happy Ending :)

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top