23 August 2012
0 kritik

Perahu Kertas

Tidak jarang, seorang individu bertanya-tanya harus bagaimana menjalani kehidupannya; sesuai dengan mimpi atau mengikuti realita yang ada? Apalagi jika pertanyaan ini muncul di benak para dewasa muda yang harus mulai memilih jalan hidupnya, entah dengan jurusan perkuliahan atau pilihan pekerjaan. Konflik batin pun terjadi ketika hobi yang merupakan representasi dari mimpi harus bersilangan dengan realita dan tuntutan hidup yanng harus dijalani. Belum lagi persoalan ini ditambah dengan variabel cinta, yang ternyata memiliki pengaruh signifikan terhadap pilihan menjalani mimpi atau mengikuti realita hidup. Semua ini coba dikupas secara deskriptif dalam film yang diangkat dari novel karya Dewi "Dee" Lestari, Perahu Kertas.

Kugy, seorang mahasiswi Fakultas Sastra yang eksektrik, imajinatif, dan senang menulis dongeng memiliki cita-cita menjadi juru dongeng. Pertemuannya dengan Keenan yang memiliki bakat melukis namun harus menjalani kuliah di Fakultas Ekonomi sesuai keinginan ayahnya, seakan melengkapi kecintaan mereka berdua pada dunia seni yang penuh dengan imajinasi. Mereka berdua saling mengagumi dan menyimpan perasaan, namun situasi yang ada tidak memungkinkan bagi mereka untuk bersatu. Kugy masih memiliki kekasih dan Keenan dicomblangkan oleh anak dari pemilik galeri lukisan. Jalan hidup masing-masing dari mereka berdua pun seakan semakin terpisah jauh ketika Kugy bekerja sebagai copywriter di sebuah perusahaan advertising dan Keenan mengejar mimpinya menjadi seorang pelukis di Bali. Apakah jalan hidup yang telah dibangun baik oleh Kugy dan Keenan masih menyisakan tempat bagi mereka untuk bersatu?

Dee adalah seorang penyanyi sekaligus penulis berbakat yang dimiliki oleh Indonesia. Novel-novelnya selalu laris di pasaran, mulai dari Supernova, Filosofi Kopi, hingga karya terbarunya Madre. Hanya tinggal menunggu waktu ketika novelnya yang diterbitkan tahun 2009, Perahu Kertas, diadaptasi ke layar lebar. Sutradara senior Hanung Bramantyo pun didapuk menjadi sutradara dari film adaptasi ini. Seakan tidak ingin kehilangan cita rasa dari novelnya, Dee turun langsung menjadi penulis skenario untuk film ini. Hasilnya adalah sebuah film dengan tampilan artistik lewat sentuhan-sentuhan apik sinematografinya, namun menjadi biasa saja jika disandingkan dengan film-film romansa asal Indonesia lainnya.


Komposisi aktor-aktris di film-film Indonesia akhir-akhir ini cukup menarik, bagaimana ada kecenderungan tertentu untuk mengkombinasikan aktor-aktris pendatang baru dengan aktor-aktris senior, termasuk film adaptasi novel karya Dee ini. Lihat saja para pemeran utamanya, semuanya diperankan oleh aktor-aktris muda pendatang baru yang cukup jarang terlihat di layar televisi maupun layar lebar. Ternyata Maudy Ayunda sebagai Kugy dan Adipati Dolken sebagai Keenan tampil cukup baik dan natural. Penampilan mereka tidak tenggelam oleh sinar para bintang senior seperti Tio Pakusodewo, Ira Wibowo, atau Reza Rahardian sekalipun. Kombinasi aktor-aktris dari dua generasi ini seakan saling melengkapi satu sama lain.

Hal lain yang patut diacungi jempol adalah hasil sinematografi yang cantik dan artistik. Pilihan-pilihan shot-nya seakan mewakili keartistikan Dee dalam pemilihan kata dalam novelnya. Shot-shot yang diambil benar-benar mengeksplor segala kemungkinan pengambilan gambar, ditambah dengan detil-detil yang mempercantik adegan.
Jika ada hal yang mengganggu dalam film ini, maka kritikan ini jatuh pada penempatan suara, entah score maupun soundtrack untuk mengisi setiap adegan yang ada. Score atau soundtrack memang ditempatkan untuk melengkapi tema dan rasa dari adegan visual. Namun penempatan score dan soundtrack dalam film ini seakan terlalu berlebihan dan terkadang tidak perlu. Setiap lagu yang ditulis dan dinyanyikan oleh Dee sendiri memang sangat manis dan ear-catching, namun menjadi berlebihan jika dikawinkan dengan adegan visual yang ada di layar. Paduan yang tidak perlu itu pun menjadi seakan over-dramatic.

Saya masih bertanya-tanya hal apa yang mendasari keputusan bahwa film adaptasi novel ini dibagi menjadi dua bagian, yang bagian keduanya akan diedarkan bulan Oktober 2012. Dari segi plot, cukup terlihat bahwa alur di bagian pertama ini berjalan cukup lambat yang seakan menghabiskan durasi film. Jika anda memiliki jam terbang yang tinggi terhadap film-film romantis yang formulatif pun rasanya tidak akan sulit untuk menebak hasil akhirnya. Sisanya yang menarik adalah hanya proses dan dinamikanya saja bagaimana ending itu akan dicapai. Mungkin proses inilah yang ingin digali dan ditanamkan pada penonton film bagian pertama ini, dan semoga alasan komersial tidak mengikuti keputusan membagi film ini menjadi dua bagian.
Yang patut direnungkan adalah bagaimana Dee memberikan back story yang sangat baik untuk kedua karakter utama kita. Sama-sama memiliki jiwa seni dan mimpi yang tinggi, namun harus mampu mengatasi jurang antara ideal-self dengan real-self. Konflik antara menjalani mimpi atau mengikuti realita hidup adalah pondasi utama dari cerita cinta antara Kugy dan Keenan. Memiliki profesi yang sejalan dengan hobi dan mimpi memang adalah pekerjaan terbaik di dunia, namun apakah tuntutan teman-teman dan keluarga sejalan dengan keinginan tersebut? Menjadi juru dongeng, atau pelukis, apakah dapat memuaskan hati semua pihak termasuk mendongkrak kesejahteraan hidup masing-masing?

Akhir kata, Perahu Kertas memang sebuah perahu yang turut mewarnai dunia perfilman Indonesia, khususnya cukup memperbaiki kualitas film di genre drama-romantis. Dengan modal cerita yang menarik hasil buah karya Dee, visual cantik dari film ini patut untuk dinikmati dan makna yang ada pun patut untuk direnungkan.



Indonesia | 2012 | Drama / Romance | 111 mins. | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 23 Agustus 2012 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top