06 August 2012
2 kritik

Carnage

Sikap dan pribadi seperti apa yang dibutuhkan untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah? Kedewasaan, intelejensi, ramah, adil, berpendidikan, berpengalaman, status ekonomi? Atau malah kepolosan dan keluguan yang ternyata dapat menyelesaikan masalah secara murni? Dinamika akan hal ini yang coba divisualisasikan oleh penulis naskah teater asal Perancis, Yasmina Reza, yang menulis naskah teater "God of Carnage" yang memenangi Best Original Play di penghargaan Tony Award tahun 2009. Sutradara legendaris asal Polandia, Roman Polanski, pun mengadaptasinya ke layar lebar dengan aktor-aktris jawara Oscar lewat film Carnage.

Dua pasang orang tua mengadakan pertemuan untuk membicarakan secara damai perihal anak laki-laki mereka yang terlibat perkelahian. Penelope dan Michael Longstreet (Jodie Foster dan John C. Reilly) sebagai tuan rumah yang berusaha meminta pertanggung-jawaban karena anak laki-laki mereka, Ethan, menjadi "korban" pemukulan dengan sebuah tongkat sehingga harus kehilangan dua giginya. Sedangkan Nancy dan Alan Cowan (Kate Winslet dan Christoph Waltz) sebagai orang tua dari Zachary yang memukul Ethan, mencoba untuk membela anak laki-lakinya dan mencari kesepakatan damai. Namun pertemuan beradab orang dewasa tersebut lama-lama menjadi sebuah pertemuan kekanak-kanakan yang berjalan dan berakhir lebih brutal dari apa yang dilakukan anak laki-laki mereka.

Film ini memang hanya berlokasi di sebuah apartemen milik keluarga Longstreet dan durasi filmnya adalah durasi real-time yang terjadi; 80 menit. Namun justru dengan kesederhanaan dan minimalis ini yang membuat film ini menjadi sebuah film yang cerdas, brilian, dan sangat manusiawi. Kesederhanaan lokasi dan cerita secara otomatis membuat dialog dan akting yang ada menjadi gravitasi dan kekuatan utama dari film ini. Roman Polanski sadar betul akan hal itu sehingga ia memilih keempat cast pemenang Oscar, yang membuktikan kemampuan akting mereka.

gambar diambil dari sini
Ketika akting menjadi kekuatan utama dalam sebuah film sederhana dan minimalis seperti ini, tidak heran jika pemerannya dipilih se-selektif mungkin. Tiga pemenang Oscar dan satu nominator Oscar, yang menariknya adalah keempat aktor ini sama sekali tidak berusaha untuk menonjolkan diri menurut penuturan Roman Polanski. Hasilnya adalah memang penampilan keempat aktor ini tampak merata dan sama-sama kuat dengan masing-masing karakternya. Semuanya tampil sangat meyakinkan dan sangat dekat dengan kehidupan penonton sehari-hari. Jodie Foster yang memerankan ibu pencinta damai dan berusaha keras membawa ide keharmonisan terwujud dalam dunia. John C. Reilly sebagai ayah yang selalu mengakomodasi pendapat setiap orang. Kate Winslet sebagai ibu dari kalangan atas yang ingin semua hal berjalan dengan baik. Dan Christoph Waltz sebagai ayah yang hanya menikahi pekerjaannya saja, yang sepanjang film tidak pernah lepas dari handphone-nya. Ketika pembicaraan kesepakatan damai pelan-pelan berubah menjadi perdebatan sengit, tuntutan kemampuan akting pun meningkat hingga ke level tertinggi. Jelas bahwa lewat pengalaman dan jam terbangnya, karakter Jodie Foster dan Kate Winslet yang seakan memegang kendali dan mempengaruhi atmosfer cerita. Tidak heran jika keduanya diberikan nominasi Best Actress pada Golden Globe 2011. Christoph Waltz juga sekali lagi membuktikan kemampuan aktingnya dengan menjadi pribadi yang dingin dan santai, namun mengerikan. Sedikit pararel dengan Kolonel Hans Lada, namun dengan kemasan yang modern dan membumi.
gambar diambil dari sini
Yang menarik untuk direnungkan adalah bagaimana bisa individu-individu dewasa yang berpendidikan dan memiliki status sosial ekonomi yang minimal menengah ke atas, dapat terjebak dalam perdebatan sengit yang kekanak-kanakan. Situasi kondusif yang secara perlahan berubah menjadi pertengkaran verbal hanya karena interaksi antar-individu di dalamnya ini cukup pararel dengan cerita 12 juri sidang dalam film 12 Angry Men (1957). Tidak ada yang tidak menginginkan jalan keluar terbaik dan kata sepakat untuk berdamai. Apalagi masing-masing individu jelas menggunakan background dan pengalaman hidupnya untuk mengusahakan kata sepakat tersebut. Dengan mengusung kebudayaan masyarakat Barat yang modern, konflik bukanlah jalan keluar untuk mengatasi masalah. Namun tampaknya ada yang kurang dalam hal tersebut. Masing-masing orang tua tidak ingin anaknya yang menjadi biang keladi dari kejadian pemukulan tersebut. Mereka pun sulit untuk melihat bahwa peristiwa pemukulan itu tidak sesederhana ada yang memukul dan ada yang dipukul. Perasaan tidak mau mengalah pun otomatis muncul untuk membela nama baik keluarga. Ditambah dengan satu botol Scotch, sifat asli dari masing-masing individu pun keluar, yang jelas sama sekali tidak membantu usaha rekonsiliasi tersebut. Lihat saja posternya yang menarik, yang sangat representatif menggambarkan perubahan sikap dan emosi para karakternya hanya dalam waktu 80 menit.
gambar diambil dari sini
Usaha mengadaptasi karya sastra drama panggung ke dalam bentuk film memang selalu mendapat apresiasi positif, apalagi naskah-naskah drama yang mendapat respon positif dan mendapat penghargaan. Untuk pecinta film seperti saya, sangat bersyukur terhadap adaptasi ini karena sangat membuka wawasan terhadap seni drama panggung yang berkembang pesat di Barat, yang notabene cukup sulit untuk mengakses drama-drama panggung tersebut secara langsung. Jelas adaptasi Roman Polanski ini sangat perlu ditonton oleh sebanyak-banyaknya orang, khususnya mereka yang mengaku telah dewasa dan mampu menyelesaikan konflik. Film minimalis dan hanya berisi dialog saja ini mungkin akan terasa membosankan bagi kebanyakan penonton, namun bersabarlah dan belajar untuk memahami setiap karakter yang ada. Interaksi antar-individu dalam film ini sangat layak untuk dijadikan studi karakter, yang dijamin oleh akting yang sangat natural dan meyakinkan. Sangat menarik untuk memperhatikan bagaimana masing-masing individu dengan kepribadiannya masing-masing merespon dan menerima situasi konflik yang ada di depannya. Beberapa dialog mungkin akan membuat anda tersenyum, atau bahkan tertawa. Ya, ini adalah film black comedy, dengan gamblang memperlihatkan ironi interaksi antar-manusia modern yang beradab sekaligus memiliki insting bertahan hidup. Akhir kata, film ini adalah sebuah potret drama manusia modern yang sangat jujur dan apa adanya, yang cocok untuk ditonton lebih dari satu kali.



Sensible, Polite, Patient, Direct, Tense, Irritated, Defensive, Outraged, Drunk, Insanity, Chaos, Mayhem, Devastation, Violent, Persuasive, Shocking, Appalling, Juvenile, Massacre, Grotesque

French/Germany/Poland/Spain | 2011 | Drama/Comedy | 80 mins | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 6 Agustus 2012 -

2 kritik:

  1. jujur aja waktu ane liat ni film, kaya ada yg kurang dgn akting Jodie Foster,kaya kurang coocok buat dia nih peran..ehehe

    ane bisa menikmati film ini,tp bebrapa angle ama penataan artistiknya th mnurut ane terlalu teatrikal..(and mungkin itu juga yg bikin film ini "minus" di mata kritikus,pdahal punya aktor2 yg superb)

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top