16 December 2010
One kritik

The Chronicles of Narnia: The Voyage of the Dawn Treader

2:42 AM
Sobekan tiket bioskop tertanggal 14 Desember 2010 adalah The Chronicles of Narnia: The Voyage of the Dawn Treader. Gue bukan penggemar berat franchise Narnia. Kalau boleh dibandingkan dengan Harry Potter, tentu gue lebih memilih petualangan si penyihir muda ini. Mungkin karena Narnia adalah cerita yang lebih ditujukan untuk anak-anak, dilihat dari jalan cerita dan makna-makna yang tersirat dalam setiap filmnya.

Lucy dan Edmund Pevensie secara tidak sengaja kembali ke dunia Narnia, bersama juga saudara sepupu mereka Eustache. Bertemu kembali dengan pangeran Caspian, ternyata tidak ada persoalan serius yang terjadi di Narnia; tidak ada perang, tidak ada musuh bebuyutan. Lucy, Edmund, dan Eustache pun ikut berlayar bersama Caspian untuk mencari ketujuh Lord yang hilang. Sepanjang pencarian, ternyata mereka menemukan masalah yang menghantui Narnia dan tidak ada kata lain selain membasmi masalah tersebut dan menciptakan kedamaian kembali di Narnia.

Berbeda dengan sekuelnya, kali ini jalan cerita lebih banyak bergulir di kapal Caspian, Dawn Treader, dalam mengarungi lautan lepas. Menariknya adalah melihat wujud dari makhluk-makhluk fantasi Narnia yang hidup di laut; mulai dari para duyung air, sampai ke monster laut yang mengerikan. Salah satu keunggulan film petualangan fantasi ini adalah imajinasinya yang liar. Terima kasih pula untuk C.S. Lewis yang menulis ketujuh buku Narnia hampir setengah abad yang lalu. Setelah baca-baca artikel wikipedia itu, gue jadi tahu bahwa ternyata cerita Narnia itu terdapat unsur-unsur Kristiani.

Dengan buku yang memang ditujukan untuk anak-anak dan maksud untuk mengajarkan ajaran Kristiani secara lebih mudah, engga heran film-filmnya pun memang cukup kekanak-kanakan. Jalan cerita yang sederhana, banyaknya makhluk-makhluk fantasi, dan makna-makna yang tersirat. Praktis untuk penonton dewasa seperti gue, film ini hanya sebagai hiburan dan eye-candy saja oleh visual efeknya yang mengagumkan.
gambar diambil dari sini
Kalau gue menempatkan diri gue sebagai anak-anak, tentunya gue akan sangat senang dan memuji habis-habisan film ini. Bagaimana serunya petualangan Caspian dkk dalam mengarungi lautan dan berperang melawan monster laut yang mengerikan. Sayangnya bagi gue yang telah menonton film-film petualangan fantasi  selain film ini, malah cenderung jadi membanding-bandingkan beberapa adegan dalam film ini dengan film-film lain. Salah memang, tapi entah kenapa hal tersebut otomatis muncul di kepala gue ketika gue melihat adegan-adegan tersebut. Salah satunya sebut saja, kru kapal Dawn Treader yang melawan monster laut seakan kru kapal Black Pearl melawan Kraken. Salah lagi, tapi gue masih lebih memilih adegan Black Pearl vs Kraken yang dieksekusi dengan lebih menegangkan dan seru.

Ini dia salah satu kelemahan franchise Narnia, setiap adegan pertarungan tidak bisa digambarkan dengan maksimal untuk menghindar rating dewasa. Praktis tidak ada darah dan kekerasan yang berarti dalam film ini. Pertarungan memang ada tapi ya seakan sebagai formalitas saja. Mungkin gue harus memuji Zack Snyder yang sukses menyuguhkan adegan pertempuran para burung hantu (animasi pula!) dengan seru dan menegangkan.
gambar diambil dari sini
Diluar itu semua, film ini tetap menyenangkan untuk disaksikan. Efek visualnya memang sungguh mengagumkan, apalagi dengan imajinasi yang liar yang digambarkan dengan cukup sukses dalam setiap adegannya. Selain itu, berbagai makna yang tersirat dalam beberapa sub-plot cerita pun masih cukup aktual untuk diterapkan pada anak-anak masa kini; menjadi diri sendiri, mengerti arti persahabatan, dan pengorbanan untuk orang lain. Belum lagi Georgie Henley (Lucy Pevensie) yang semakin dewasa semakin cakep ;p

Akhir kata, film ini cocok bagi anda yang mencari tontonan ringan atau tontonan yang cocok ditonton bersama anak-anak. 3D? 2D aja cukup lah ya.

Rating?
7 dari 10

1 kritik:

  1. Can't wait to see this movie to bring the inner child in me :D

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top