04 November 2010
One kritik

Saw 3D

2:35 AM
sobekan tiket bioskop tertanggal 3 November 2010 adalah Saw 3D. Semenjak sekuel franchise Saw yang terakhir, Saw VI (2009), rasa penasaran gue akan film ini memang sudah memudar. Dari 6 filmnya saja gue engga nonton semuanya, dan favorit gue masih film perintisnya, Saw (2004). Praktis alasan utama gue kenapa mau menonton sekuel ke-7 adalah karena 3D-nya. Yeah, gue engga mau ketinggalan dalam sejarah film dimana film terakhir dari franchise Saw ini dibuat khusus dalam bentuk tiga dimensi.

Ketika publik masih bereaksi terhadap aksi pembunuhan berantai sadis yang dilakukan oleh Tobin Bell a.k.a. Jigsaw dan para pengikutnya, terbentuklah sebuah grup para korban yang selamat dari jebakan-jebakan Jigsaw. Mereka disatukan oleh sesama korban yang selamat, yang telah menerbitkan sebuah buku, Bobby Dagen. Namun masih ada aksi dari pengikut Jigsaw yang tidak hanya membuka tabir yang ditutupi oleh Bobby, tetapi juga membuka tabir dari serangkaian jebakan-jebakan Jigsaw.

Gue cukup senang menemukan bahwa pembuat film masih mempertahankan ciri khas dari franchise ini; jebakan maut mematikan (yang bikin perut penonton ngilu), darah dan daging, serta twist(s) yang terjadi di akhir film. Bagi anda para pecinta film gore yang sudah "terbiasa" dengan jebakan-jebakan Jigsaw, jangan mencibir dulu terhadap film ketujuh ini. Gue memang bukan pengikut setia film-film jenis gore (tapi selalu merasa sayang kalo ngelewatin film-film gore yang bagus), tapi 11 jebakan (yang terbanyak diantara ketujuh filmnya) yang ada dalam film ini mampu membuat badan gue menggeliat kesana-kemari sambil menahan perut yang ngilu. Apalagi ditonton dengan gaya tiga dimensi, wuih!


Kenal Chester Bennington yang biasa teriak-teriak sebagai vokalis Linkin Park? Disini anda bisa melihat Chester teriak-teriak ketika dirinya terjebak dalam salah satu jebakan Jigsaw yang lumayan sadis dan, kalo kata video game, combo. Dengan dilatih oleh konsultan akting, kepanikan Chester terlihat cukup meyakinkan dalam film ini. Belum lagi comeback dari John/Jigsaw (Tobin Bell) yang walaupun hanya muncul sebentar, tetapi auranya sangat terasa dan sangat intimidatif. Oya, para pembuat film tampaknya engga cukup puas untuk memunculkan comeback dari John, tapi ada juga comeback karakter yang sudah lekat dengan ingatan kita yang...*ehem* Beberapa alasan lagi untuk merogoh kocek lebih untuk menonton film ini dalam bentuk 3D.
gambar diambil dari sini

Di tiga-perempat film, gue menemukan diri gue cukup ngos-ngosan dengan banyaknya jebakan yang ditampilkan dalam film ini. Rasanya kaya nonton film horor yang dikagetin sama hantu/setan setiap 10 menit. Setelah capek dengan jebakan terakhir dan udah siap dengan anti-klimaks, muncullah twist-ending khas Saw dan dipertegas dengan main score yang sudah gue nanti-nantikan sejak awal film. Dan ketika dialog terakhir diucapkan oleh sang karakter, inilah titik orgasme dari akhir dinasti Jigsaw.
gambar diambil dari sini
Namun sayang, beberapa aktor dan aktris yang memainkan karakter yang cukup sentral dalam film ini tampil kurang meyakinkan. Beruntung akting mereka tertutupi oleh akting para "seniornya" yang telah muncul di film-film sebelumnya.

Berhubung film ini dibuat khusus dalam format 3D, jadi engga ada alasan untuk tidak menonton ini dalam bentuk 3D.

rating?
7,5 of 10

1 kritik:

  1. nonton di mana ni 3d nya?
    stau g gaa di bioskop2

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top