Capitalism: A Love Story

sobekan tiket bioskop tertanggal 9 Juni 2010 adalah Capitalism: A Love Story. satu lagi persembahan dari Michael Moore. tapi gue mau ngaku dulu, bahwa gue belum nonton karya-karya Moore sebelumnya, seperti Sicko (2007) dan Fahrenheit 9/11 (2004). jadi film ini akan menjadi "kencan" pertama gue dengan Moore, yang memang sudah gue dengar tentang kiprahnya, apalagi setelah berhasil menggenggam Piala Oscar atas Sicko yang menyabet Best Documentary Feature.

Moore sendiri yang menulis, menyutradari, menginvestigasi, mewawancarai, dan membawakan narasi atas film dokumenter untuk mengungkap bagaimana perusahaan-perusahaan dan bank-bank besar di AS "mempermainkan" hipotek rumah-rumah warga AS. "permainan" ini berakibat buruk bagi para warga dengan status ekonomi rendah yang harus kehilangan rumah. "permainan" ini juga yang memicu terjadinya resesi global beberapa tahun belakangan ini.

gue akan mengklasifikasikan diri gue sebuah orang awam yang tidak tahu begitu dalam mengenai awal muara resesi global, yang berasal dari kredit, pinjaman, dan hipotek perumahan di AS. jujur gue buta di bidang itu (baca: yang berkaitan dengan ekonomi). ya memang "bahasa-bahasa" ekonomi itu memang mau tidak mau harus tampil, tapi untungnya tidak mendominasi film ini. apalagi dengan subtitle yang bergerak cepat, rasanya gue pribadi harus membaca subtitle itu lebih dari tiga kali deh untuk mengerti duduk permasalahannya. tapi ya memang bahasa-bahasa tersebut keluar dari orang yang memang sudah pakar di bidang tersebut, yang memang bisa dibilang wajib untuk dimintai pendapatnya untuk menjelaskan duduk perkara masalah "permainan" ini.

enaknya adalah, Moore membuat film dokumenter ini tidak membosankan. ya memang ini adalah ketakutan awal gue, apalagi ketika membaca sinopsisnya mengenai kredit perbankan dan keuangan, blah! dengan sukses, Moore membawakan film ini secara komikal dengan menyelipkan potongan-potongan adegan yang engga ada hubungannya tapi ironis menggambarkan keadaan yang sedang diceritakan. istilah kasarnya, Moore cukup bisa ngebanyol dengan film yang temanya "serius" ini. jujur, ada beberapa adegan dan narasi yang lumayan ngebuat gue ketawa.
yang membuat film ini tambah menarik adalah, Moore tidak hanya mewawancarai dan menggambarkan para korban dari "permainan", tapi juga mewawancarai pihak netral seperti wakil rakyat, dan bahkan (berusaha) mewawancarai dari pihak yang berseberangan, yang (tentunya) ditolak mentah-mentah. ada satu adegan (possible spoiler) dimana Moore mencoba bertanya kepada orang-orang berjas di Wall Street. dari banyaknya orang yang keluar, tidak satupun menggubris Moore. sampai pada satu orang, Moore bertanya, "can you help me?" dan orang itu menjawab "yeah, stop making movies." ;p

menurut gue, seorang sutradara film dokumenter yang sukses adalah sutradara yang mampu mengawinkan keuletannya dengan keberuntungannya. Moore membuktikan bahwa dia adalah sutradara yang termasuk di dalamnya. ya mungkin dia bisa menebak kejadian yang akan terjadi sehingga dia bersiap dengan kameranya, tetap saja ini sebuah suatu keahlian tersendiri, bukan? ada satu adegan favorit gue (possible spoiler) dimana dia sedang mewawancarai seorang kaum muda mengenai pendapat dia tentang bagaimana jika Barack Obama menang dalam pemilu, dan di tengah wawancara diumumkan bahwa Obama menang dan Moore sukses besar dalam merekam reaksi dari si interviewee tersebut.
sebuah film dokumenter yang rasanya cukup layak untuk ditonton, bagi yang ingin tahu lebih dalam tentang "permainan" keuangan di AS, atau bagi yang ingin menikmati teknik dan gaya bercerita Moore dalam film dokumenternya. rasanya isi cerita sendiri tampaknya kurang cocok dengan keadaan Indonesia yang memang jauh berbeda dengan keadaan di AS. tapi untuk sekedar ingin tahu, tidak apa-apa kan?

rating?
8,5 of 10

Komentar