29 September 2015
0 kritik

The Intern

"Film tentang dunia pekerjaan yang ringan dan menghangatkan hati"

Seorang duda berusia 70 tahun, Ben Whittaker merasa bahwa masa pensiunnya masih dapat dimanfaatkan untuk hal yang jauh lebih bermakna. Salah satunya adalah dengan menjadi karyawan magang senior, sebuah program magang untuk warga berusia senior atau yang sudah pensiun. Ben mendapatkan pekerjaannya di sebuah perusahaan online fashion yang baru berdiri selama satu setengah tahun dan berada di puncak kesuksesannya. Ben pun bekerja mendampingi pendiri dan direktur utamanya, Jules Ostin yang jauh lebih muda. Mereka berdua tidak hanya berusaha untuk mengatasi perbedaan umur dan budaya, tetapi juga saling melengkapi kekosongan dalam hidup masing-masing.

The Intern hadir sebagai film ringan dan menghibur dengan menggambarkan suasana kantor dan pekerjaan yang menyenangkan. Film-film tentang pekerjaan seperti ini memang selalu menarik sebagai hiburan di tengah rutinitas yang sangat dekat dengan keseharian kita, sebut saja Morning Glory (2010) atau The Devil Wears Prada (2006). Lucunya, The Intern ini rasanya film tentang pekerjaan yang kesekian yang mengambil sudut interaksi antara dua karyawan dengan rentang umur yang jauh berbeda. Namun yang membuat film ini berbeda selain karena chemistry yang heart-warming antara Robert De Niro dan Anne Hathaway adalah eksplorasi ide dari karyawan magang berusia senior.



Sutradara dan penulis naskah Nancy Meyers seakan ingin menggambarkan karakter yang tidak biasa dalam dunia pekerjaan ke dalam satu rangkaian cerita. Apa yang tidak lebih menarik dibandingkan interaksi antara karyawan magang senior dengan business woman yang sukses mendirikan dan menjalankan perusahaannya sendiri? Belum lagi tambahan backstory dalam kedua karakter ini, dimana Ben dengan segudang pengalaman termasuk jabatan Vice President yang pernah disandangnya, dengan Jules yang ternyata sedang berjuang dalam keluarganya di tengah karirnya yang meroket.

Namun sayangnya, ada beberapa minus dalam film ini yang cukup mengganggu gue. Salah satunya adalah karakter Ben yang tampak too good to be true. Karakternya seperti nabi dengan tanpa cacat dalam setiap perilakunya. Baik, ramah, sabar, dan segala macam hal positif yang dapat anda temukan dari Mahatma Gandhi. Selain itu, supporting characters yang digali habis-habisan di awal dan tengah film, namun menghilang begitu saja di akhir film seakan tanpa pay-off apapun. Belum lagi antiklimaks yang kurang matang sehingga film berakhir begitu saja setelah klimaks.


The Intern memang hadir sebagai film tentang dunia pekerjaan yang heart-warming dan menggemaskan. Jalan ceritanya yang ringan dan sangat dekat dengan keseharian kita akan membuat kisah film ini mudah untuk diakses bagi mereka yang saban hari menghabiskan waktu di kantor. Belum lagi dengan ide cerita yang menarik, karakter yang unik, serta penggambaran akan hal yang relatif baru bagi Indonesia. Mulai dari karyawan magang senior, hingga seorang bapak rumah tangga penuh waktu, yang ternyata masih saja menjadi hal yang tidak biasa meski di tengah budaya AS yang konon berpikiran terbuka.



USA | 2015 | Comedy | 121 mins | Flat Aspect Ratio 1.85 : 1

Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 29 September 2015 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top